Share

Bab 6

Author: Luli
Setelah makan malam, keluarga beranggotakan empat orang itu duduk berkumpul di ruang tamu sambil mengobrol dengan akrab.

Tania tidak berminat ikut bersandiwara dalam drama keluarga bahagia itu, jadi dia bangkit dan pergi ke taman.

Angin malam berembus membawa kesejukan awal musim panas, tapi tidak mampu mengusir rasa sesak di dadanya.

Tidak lama kemudian, Devia menyusul keluar dengan senyuman lembut yang terlihat sangat menyebalkan seperti seorang pemenang.

"Tania, sendirian aja di sini?" Suaranya terdengar halus, tapi nada bicaranya mengandung provokasi yang jelas. "Sebenarnya aku tahu kenapa kamu marah. Orang-orang di lingkungan kita sudah cerita semuanya tentang hubungan tiga tahunmu sama Kevin."

Tania membelakanginya. Tubuhnya sempat menegang sejenak, tapi dia tidak menoleh.

"Jujur aja, waktu pertama kali tahu, aku sempat agak khawatir." Devia berjalan ke sampingnya sambil memperhatikan profil wajah Tania yang cantik tapi pucat. "Habisnya, adikku Tania ini 'kan cantik sekali, mana ada laki-laki yang nggak bakal tertarik?"

"Sayang banget, wajah cantikmu itu sia-sia. Ibumu nggak bisa menang dari ibuku, kamu pun nggak bisa menang dariku. Tiga tahun itu cuma sisa yang aku sedekahin buat kamu. Sekarang karena pemilik aslinya sudah balik, kamu yang cuma barang tiruan sudah waktunya mundur."

Tania perlahan berbalik. Di bawah sinar bulan, matanya terlihat sangat terang, tidak ada kemarahan atau kesedihan yang diharapkan Devia, yang ada hanyalah tatapan sinis yang dingin.

"Sedekah?" Sudut bibir merahnya terangkat saat dia berucap dengan sangat jelas, "Devia, apa kamu terlalu lama di luar negeri sampai lupa diri kamu itu apa?"

"Anak haram yang bisa masuk ke rumah ini karena ibunya jadi pelakor, pecundang yang harus pakai trik licik demi narik perhatian laki-laki, beraninya bicara soal sedekah di depanku?"

"Ibumu memungut sampah yang nggak diinginkan ibuku, kamu memungut laki-laki yang sudah nggak aku mau. Kalian ibu dan anak memang punya ikatan darah kuat, sama-sama spesialis pemungut sisa orang lain."

"Kamu!" Senyum di wajah Devia seketika lenyap, wajahnya berubah pucat karena menahan emosi.

Dia tidak menyangka Tania yang sudah diinjak-injak separah itu masih bisa bicara sekeras itu!

"Kenapa? Aku benar, 'kan?" Tania melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi. "Kamu pikir kamu menang? Kevin itu cuma laki-laki sisa yang sudah nggak aku mau, tapi kamu pungut dan banggakan ke mana-mana seolah dia itu permata. Devia, selera kamu memang cuma sebatas itu."

Devia gemetar hebat karena serangan balik Tania yang bertubi-tubi, topeng lembut yang dia pertahankan kini hancur total.

Tania malas meladeninya lebih jauh dan berniat untuk pergi.

Tepat saat dia berbalik, Devia yang ada di belakang tiba-tiba menjerit nyaring. Dahinya menghantam tepi bangku batu taman dan seketika berlumuran darah.

"Devia!"

Hampir di saat yang bersamaan, Kevin, Rendy, dan Wenny berlari keluar dari ruang tamu.

Devia jatuh terduduk sambil memegangi keningnya yang berdarah dengan mata berkaca-kaca. "Ayah, Ibu, Kevin ... jangan salahkan Tania, ini salahku sendiri karena nggak stabil berdirinya ...."

Wenny langsung menghampiri dan memeluk putrinya sambil menangis histeris, "Devia! Anakku sayang! Kenapa kamu bodoh banget! Dia sudah jahat begini tapi kamu masih aja bela dia!"

Wajah Rendy memucat karena marah, dia menunjuk Tania dengan emosi. "Tania! Dasar anak durhaka! Apa lagi yang kamu lakukan ke kakakmu?!"

Tania berdiri mematung sambil menatap dingin sandiwara jebakan yang sudah direncanakan ini, hatinya terasa sedingin es.

Tatapannya melewati ayahnya yang murka, ibu tirinya yang munafik, lalu akhirnya berhenti pada Kevin.

Kevin sedang berjongkok di samping Devia untuk memeriksa lukanya dengan hati-hati. Dia mendongak, tatapan matanya yang tajam tidak lagi terlihat tenang seperti biasanya, melainkan penuh dengan intimidasi yang menusuk.

Pada saat itu, Tania merasa merinding sampai ke tulang-tulangnya!

Pria itu ... juga tidak percaya padanya.

Memang benar, Devia adalah orang yang paling dia cintai, buat apa dia percaya pada Tania?

Tania menarik sudut bibirnya dan mendadak tertawa.

Detik berikutnya, dia berjalan maju selangkah demi selangkah. Di bawah tatapan kaget semua orang, dia menyambar pot bunga keramik yang berat dan tanpa ragu menghantamkannya tepat ke kening Devia yang tadi sudah terluka!

BRAK!

Suara hantaman keras terdengar, diikuti teriakan Devia yang semakin histeris dan helaan napas kaget dari semua orang yang ada di sana.

"Dengar baik-baik." Tania melepaskan tangannya dan membuang pecahan pot itu, suaranya terdengar sangat tenang, tapi tatapannya tajam seperti pisau beracun. "Tadi itu bukan aku yang melakukannya."

"Tapi sekarang, iya."

Semua orang terpaku tidak percaya, termasuk Kevin.

Tania membuang sisa pecahan keramik di tangannya dan berniat pergi. Alhasil, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dengan tenaga yang sangat kuat sampai tulang-tulangnya terasa mau patah.

Kevin mencengkeramnya dengan erat, wajahnya terlihat sangat gelap dan menyeramkan.

Dia menatap Rendy, lalu dengan suara sedingin es. "Pak Rendy, kalau putri Anda melakukan hal seperti ini dan nggak dididik dengan benar, aku nggak akan tinggal diam."

Rendy merasa kasihan pada Devia sekaligus takut pada kekuasaan Kevin, jadi dia langsung mengangguk patuh. "Pak Kevin tenang saja! Aku pasti akan kasih pelajaran ke anak durhaka yang nggak tahu diri ini!"

Dia segera memanggil pengawal. "Tangkap anak ini! Seret dia ke aula leluhur! Paksa dia berlutut di sana!"

"Berani kamu!" Tania meronta dengan tatapan mata yang sangat galak kepada ayahnya sendiri.

Namun, Rendy justru menatap Kevin dan bertanya dengan nada menjilat, "Pak Kevin, menurut Anda ... hukuman berlutut di aula leluhur untuk merenungi kesalahannya, apa itu ...."

Kevin menggendong Devia yang keningnya terus mengalirkan darah, lalu dia menatap Tania dengan dingin. Bibir tipisnya mengeluarkan kata-kata yang sangat kejam, "Terlalu ringan."

"Aku tadi lihat ada cambuk kuda yang tergantung di ruang kerja, itu bukan cuma hiasan, 'kan?"

Setelah mengatakan itu, dia membawa Devia pergi tanpa menoleh lagi.

Tania merasa seperti tersambar petir dan menatap punggung pria itu yang menjauh dengan rasa tidak percaya.

Dia ... dia bahkan memberi kode agar Rendy mencambuknya?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status