แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Luli
Tania pulang ke rumah setelah urusan visa selesai. Begitu masuk, dia langsung berpapasan dengan ibu tirinya yang berdandan rapi.

Wenny Lianda langsung menceramahinya seperti biasa, "Tania, kamu akhirnya tahu jalan pulang? Sudah berapa malam kamu nggak pulang ke rumah? Nggak pantas anak perempuan kelakuan begini ...."

Tania tidak sudi meliriknya sedikit pun. Dia justru menyambar vas porselen setinggi pinggang di dekat pintu dan membantingnya ke lantai.

Suara pecahan nyaring terdengar saat serpihan porselen terpental ke mana-mana.

Wenny menjerit ketakutan dan spontan mundur dua langkah.

Tania menatapnya dengan tenang. Wajah cantiknya memancarkan tatapan sinis dan dingin. "Kamu pikir kamu siapa? Cuma orang ketiga yang merusak keluarga orang lain, nggak pantas kamu menceramahi putri kandung dari istri sah!"

"Wenny, ingat ya. Selama aku masih di rumah ini, jangan pernah harap kamu bisa sombong!"

Kata-katanya sangat tajam dan menusuk hati. Wenny sampai pucat pasi dan sekujur tubuhnya gemetar karena marah.

"Tania! Kamu gila ya?!" Rendy Tamara, ayahnya, bergegas keluar dari ruang kerja setelah mendengar keributan. Dia langsung memapah Wenny dan menatap Tania dengan penuh amarah. "Baru pulang sudah bikin kacau! Bisa nggak sih kamu dewasa sedikit!"

Tania menatap ayahnya yang melindungi wanita itu. Hatinya sudah dingin dan kini hanya tersisa rasa ironi.

Dia tertawa sinis. "Aku yang bikin kacau?"

"Bagus kalau begitu. Kasih saja bagian warisanku sekarang, aku akan pergi ke luar negeri, nggak akan pernah balik lagi ganggu kalian."

Rendy sempat tertegun. Dia lalu memasang wajah peduli yang palsu. "Ngomong apa kamu ini! Ke luar negeri? Buat apa anak perempuan pergi jauh sendirian? Tetap di sini aja. Rumah ini akan selalu jadi rumahmu, kita 'kan keluarga ...."

"Keluarga?" Tania merasa itu lelucon paling konyol. "Nggak usah akting lagi deh, Rendy. Kamu, dia, dan Devia, kalian bertiga itulah yang namanya keluarga. Sejak ibuku meninggal, aku udah nggak punya rumah lagi."

"Sebutin aja harganya. Aku mau bagian yang memang hakku."

Ekspresi Rendy berubah menjadi tidak enak. Dia sempat terdiam lama sebelum akhirnya berpura-pura baik. "Ayah tahu kamu masih dendam sama keluarga ini .... Begini saja, Ayah kasih 10 miliar dulu buat kamu jalan-jalan ...."

"10 miliar?" Tania tertawa mengejek. "Rendy, kamu bisa sukses karena modal dari keluarga kakekku! Kamu kaya karena harta bawaan ibuku! Bahkan nyawamu selamat karena ibuku relain nyawanya sendiri buat kamu!"

"Sekarang kamu pakai uang ibuku buat hidupi pelakor dan anak haram ini. Kamu tinggal di rumah yang dibeli ibuku, lalu mau ngusir putri kandungnya cuma dengan 10 miliar?

"Kamu nggak punya malu ya?"

Rendy merasa rahasianya dibongkar dan seketika naik pitam. "Kamu! Sebenarnya kamu mau berapa? Bilang aja langsung!"

Tania sudah bersiap. Dia mengeluarkan dokumen dari tasnya lalu menyebutkan deretan angka dan nama saham dengan sangat tenang.

"Kamu sudah gila! Nggak mungkin!" Rendy benar-benar meledak. "Kamu mau nguras habis setengah aset Grup Tamara!"

Tania tetap tidak panik. Dia berjalan ke arah jendela sambil menatap taman di bawah dengan nada santai. "Nggak setuju ya? Ya sudah, nggak apa-apa."

"Aku sudah nanam bom di luar vila ini."

"Pilihannya cuma dua. Kamu setuju kasih uangnya dan tanda tangani perjanjian ini."

"Atau, hari ini kita semua mati bersama di sini. Silakan pilih."

Pupil mata Rendy seketika mengecil. Dia menunjuk Tania dengan jari yang gemetar. "Kamu ... kamu benar-benar gila!"

"Iya, aku memang gila." Tania mengaku dengan tatapan tekad. "Aku jadi gila karena dipaksa kalian."

Wajah Rendy memucat dan napasnya memburu. Dia menatap Tania lekat-lekat untuk memastikan putrinya itu hanya menggertak atau tidak.

Akhirnya, rasa takut akan kematian mengalahkan segalanya.

Dia terduduk lemas di sofa dengan keringat dingin mengucur. Tangannya gemetar saat menandatangani surat pembagian harta dari Tania.

"Sekarang ... cepat singkirkan bomnya!" Suaranya sangat gemetar.

Tania mengambil dokumen itu dan memeriksa tanda tangannya. Dia lalu tersenyum dingin yang penuh ejekan.

"Tenang saja, nggak ada bom kok."

"Aku cuma bohong."

"Lagian, dulu kamu juga bohongin ibuku supaya mau menikah, 'kan? Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya."

Rendy baru sadar kalau dia dikerjai habis-habisan sampai napasnya tersengal karena marah. Dia pun menunjuk Tania tanpa sanggup mengeluarkan satu kata pun.

Tania tidak sudi melihatnya lagi dan berbalik untuk naik ke atas.

"Berhenti!" Rendy memanggilnya sambil menahan amarah. "Kakakmu hari ini bawa pacarnya pulang buat makan malam! Terserah kamu mau berulah gimana sebelumnya, kali ini kamu harus ikut makan sampai selesai!"

Dia sengaja memberi nada peringatan, "Pacarnya itu Kevin! Kamu tahu sendiri gimana posisi Keluarga Danio di Jakata! Kita nggak boleh cari masalah sama mereka! Buang sikap pemberontakmu, jangan bikin masalah!"

Langkah Tania seketika terhenti di tangga. Punggungnya mendadak kaku.

Kevin ....

Hari ini pria itu datang berkunjung sebagai pacar Devia?

Detik berikutnya, pintu depan terbuka.

Devia masuk sambil menggandeng mesra lengan Kevin dengan senyum lebar.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status