Isvara melangkah keluar dari kehangatan aula menuju udara senja yang dingin.Ia mendekap erat hadiah-hadiah kemenangannya, sebelum menyerahkan kepada Ratih yang sedari tadi menunggu di depan aula."Tuan Putri, hamba hampir pingsan karena bangga," puji Ratih dengan mata berkaca-kaca."Dua gelar juara sekaligus! Anda benar-benar menjadi bintang hari ini.""Aku hanya sedang beruntung, Ratih. Tolong jaga hadiah ini baik-baik, terutama cincin giok hitam. Jangan sampai lecet sedikit pun," sahut Isvara sambil mengatur napas. “Sekarang, ikut aku ke kereta. Kita bertukar pakaian."Ratih terbelalak, langkahnya nyaris tersandung. "Tukar pakaian? Maksud Anda apa, Putri?""Sudah, jangan banyak tanya. Ayo!"Isvara menarik lengan Ratih, setengah menyeretnya menuju kereta yang terparkir di bawah naungan pohon peneduh.Di sana, Rudra sudah berdiri tegap di samping pintu kereta bersama Kusala. Sementara di sisi mereka, ada seekor kuda yang tinggi besar.Itu adalah Niskala, kuda perang milik Rudra yang
Read more