로그인“Mas, ini apa lagi?”Ryn hanya tercenung ketika Kylar membawanya ke sebuah gedung kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Dari luar, bangunan itu terlihat sederhana, hanya sebuah bangunan dua lantai dengan pintu kaca dan dinding berwarna putih. Tidak ada papan nama, tidak ada petunjuk apa pun tentang apa yang ada di dalamnya.Namun begitu pintu dibuka dan Ryn melangkah masuk, langkahnya langsung terhenti.Dia menatap sekeliling dengan kening berkerut, mencoba memahami apa yang sedang dilihatnya.Dinding di ruangan itu dipenuhi foto.Bukan hanya satu atau dua foto, melainkan puluhan, bahkan mungkin ratusan. Foto-foto itu tersusun berdasarkan waktu, memenuhi hampir seluruh dinding dari sisi kanan hingga ki
Setelah dari makam Yura, mereka melanjutkan perjalanan menuju pemakaman keluarga Ashwara.Ryn sempat mengira bagian tersulit dari perjalanan hari itu sudah lewat, tetapi begitu mobil berhenti dan mereka berjalan menyusuri deretan makam yang sudah begitu dikenalnya, langkahnya justru terasa semakin berat.Makam keluarga Kylar mereka datangi lebih dulu. Ryn menaruh bunga di beberapa makam, menyapa mereka dalam diam, sementara Kylar dan kedua anaknya ikut berdiri di sisi masing-masing. Namun setelah itu, mereka kembali berjalan menuju satu makam yang letaknya sedikit terpisah dari makam keluarga lainnya.Langkah Ryn melambat.Di hadapannya berdiri sebuah nisan dengan nama yang sudah bertahun-tahun tersimpan begitu dalam di hatinya.
“Nggak.” Ryn menggeleng pelan. “Aku bahkan nggak tahu ada donasi atas namaku.”Renata kemudian menoleh kepada Kylar. Tatapan Ryn otomatis mengikuti arah pandangnya.Kylar yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang mereka langsung tahu bahwa rahasianya sudah hampir terbongkar. Dia menghela napas kecil ketika Ryn berbalik menatapnya dengan mata menyipit.“Mas? Donasi apa yang Bunda maksud?”Kylar tidak langsung menjawab.Ryn semakin curiga. “Mas, jangan bilang …”Renata justru mulai tersenyum karena akhirnya memahami semuanya. “Oh.”Kylar menatap Renata sebentar, lalu ke
Ryn menoleh tajam kepada putranya. “Reyansh.”Renata tertawa semakin lebar. “Wah, kalau soal itu …”“Bunda.” Ryn buru-buru menyela, membuat Kylar yang berdiri di sampingnya langsung menahan senyum.Reyansh semakin penasaran. “Kenapa? Ibu dulu nakal, ya?”“Tidak,” jawab Ryn cepat.Renata mengangkat alis. “Masa?”“Bunda!”Renata tertawa sambil menepuk lengan Ryn. “Ya sudah, ya sudah. Bunda nggak akan buka semuanya.”Reyansh langsung menatap ibunya dengan ekspresi curiga. “Berarti Ibu nakal.”Lucius yang sejak tadi diam ikut menyimpulkan dengan ten
“Mas, jangan bilang …”Ucapan Ryn terputus ketika mobil memasuki area yang begitu dikenalnya. Matanya langsung tertuju pada bangunan besar di hadapan mereka, meskipun wajah tempat itu sudah jauh berbeda dari yang terakhir kali dia ingat.Ryn menatap keluar jendela dalam diam.Kapan terakhir kali dia datang ke sini?Sepuluh tahun lalu, kalau tidak salah. Tidak lama setelah Aelius pergi. Waktu itu dia juga datang bersama Kylar, tetapi suasananya sama sekali tidak seperti sekarang.Bangunan panti yang dulu sederhana kini tampak jauh lebih modern. Cat dindingnya masih didominasi warna putih, tetapi bagian depannya sudah direnovasi dengan jendela-jendela besar, taman yang tertata rapi, area bermain anak yang luas, serta papan nama baru yang berdiri di depan gerbang. Bahkan halaman parkirnya terlihat jauh lebih luas dibandingkan yang Ryn ingat.Dadanya terasa hangat melihat perubahan itu.“Pasti Bunda Renata senang kamu datang.” Kylar melirik Ryn dari balik kemudi. Perempuan yang dia maksud
“Kotak apa itu?”Ryn terperanjat ketika melihat sebuah kotak besar berada tepat di tengah ranjang. Padahal beberapa menit lalu, sebelum masuk ke kamar mandi, dia yakin tidak ada benda apa pun di sana.Rambut cokelatnya masih basah dan meneteskan sedikit air ke bathrobe yang dikenakannya ketika dia berjalan mendekati ranjang dengan dahi berkerut. Dia bahkan sempat menoleh ke arah pintu kamar, seolah berharap menemukan seseorang yang bisa menjelaskan bagaimana sebuah kotak sebesar itu bisa tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuannya.Ryn membuka tutup kotak tersebut dan langsung menemukan tulisan tangan yang tidak terlalu rapi di bagian atasnya. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali siapa yang menulisnya. Bentuk hurufnya memang masih berantakan, tetapi kata-katanya sudah cukup jelas.[UNTUK IBU.]Ryn tersenyum kecil sebelum mengambil secarik kertas berikutnya.[Hari ini Ibu tidak boleh bekerja. Harap bersiap pukul 09.00. Penculik akan datang.]Ryn mengernyit, lalu terkekeh sendir
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar







