LOGINKylar menatap surat itu sekali lagi sebelum akhirnya meraih ponselnya.[Aku pergi. Nggak perlu cari aku.]Rahangnya langsung mengeras.Ryn benar-benar mengira dia akan membaca kalimat itu, lalu duduk diam dan membiarkan istrinya pergi begitu saja?Kylar membuka aplikasi pelacak yang terhubung dengan ponsel Ryn.Selama ini dia memang tidak pernah merasa perlu memeriksa keberadaan istrinya setiap saat. Bukan karena dia tidak bisa, melainkan karena dia tahu Ryn ada di rumah, di restoran, atau bersamanya.Fitur itu hanya dia pasang sebagai langkah berjaga-jaga. Kalau suatu hari terjadi sesuatu dan Ryn tidak bisa menghubunginya, setidaknya dia masih punya satu cara untuk menemukan perempuan itu.Namun sekarang, Kylar benar-benar membutuhkan fitur tersebut.Titik lokasi muncul di layar.Rumah?Kylar mengernyit, lalu memperbesar peta. Titik itu tetap diam. Tidak bergerak sedikit pun.Dia menunggu beberapa detik sebelum menyegarkan aplikasi. Tetap di sana.“Nggak mungkin.”Kalau Ryn membawa p
“Mbak?” suara sopir taksi akhirnya menyadarkan Ryn. “Mau saya berhenti di sini atau masuk ke lobi?”Ryn kembali menatap pintu masuk tempat Kylar menghilang. Dia belum tahu apa yang akan dilakukan setelah ini.Masuk dan melihat sendiri apa yang sedang dilakukan Kylar?Menunggu?Atau pulang begitu saja?“Kita jalan lagi aja, Pak,” putus Ryn akhirnya.Sopir itu tampak sempat menunggu beberapa detik, mungkin memastikan dirinya tidak salah dengar. Namun, ketika Ryn tidak mengatakan apa-apa lagi, mobil itu pun perlahan bergerak meninggalkan area hotel.Ryn memejamkan mata.Dia tidak mau masuk. Jangankan melihat suaminya berada satu kamar dengan perempuan lain, mengetahui Kylar berkali-kali memberikan jawaban yang berbeda dari apa yang dilihatnya sendiri saja sudah cukup membuat muak.Ketika membuka mata, Ryn hanya bisa menatap kosong ke arah jalanan di luar jendela. Kepalanya justru semakin dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ingin dia pikirkan.Mungkinkah perempua
Bohong kalau Ryn bilang dia masih bisa berpikir jernih.Seharusnya dia memanggil Kylar. Menyebut namanya, menghentikan langkah pria itu, lalu menanyakan kenapa suaminya keluar dari ruang praktik dokter kandungannya bersama seorang perempuan yang tidak dia kenal.Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ryn berdiri membeku selama beberapa detik, membiarkan Kylar dan perempuan itu berjalan semakin jauh sebelum akhirnya kakinya bergerak mengikuti mereka.Tangannya bahkan sudah lebih dulu merogoh ponsel ke dalam tas, lalu mengangkatnya dan mengambil beberapa foto dari kejauhan. Entah apa yang sedang dia lakukan. Entah kenapa dia merasa perlu melakukannya. Yang terlintas di kepalanya hanya perkataan Lala.Bukti itu penting.Kalau memang tidak terjadi apa-apa, foto-foto itu tidak akan berarti apa pun. Namun kalau nanti Kylar mencoba mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang dilihatnya hari ini, setidaknya Ryn tidak hanya mengandalkan ingatannya sendiri.Dengan jantung yang berdetak semakin
“Ma–”Ryn spontan membuka mulut, nyaris memanggil suaminya. Namun sebelum nama itu benar-benar keluar, dia buru-buru menahannya.Bukankah dia sengaja pulang lebih cepat tanpa memberi tahu Kylar karena ingin memberikan kejutan?Kalau sekarang Kylar sampai menyadari dirinya sudah berada di Jakarta, untuk apa lagi semua rencana itu?Ryn masih sempat memandang ke arah tempat Kylar menghilang dengan alis bertaut.Untuk apa suaminya berada di rumah sakit?Bukankah tadi pagi Kylar hanya mengatakan dirinya sedikit pusing, lalu beberapa saat kemudian mengabari bahwa kondisinya sudah membaik?Namun sebelum pertanyaan itu sempat berkembang lebih jauh, suara Lala yang kembali mengerang kesakitan langsung menarik perhatian Ryn.“Ci ...” panggil Lala dari atas tandu dengan wajah meringis. “Perut aku masih nggak enak.”“Iya, aku di sini.” Ryn segera mendekat dan menggenggam tangan sahabatnya, lalu ikut berjalan di samping tandu ketika perawat membawa Lala masuk ke ruang pemeriksaan IGD. “Udah, janga
mengambil barang bawaan, Ryn langsung memesan taksi online tanpa menghubungi Bimo.Tidak lama kemudian, mobil yang mereka pesan tiba dan keduanya masuk ke dalam.Ryn duduk di samping Lala di kursi belakang, memastikan sahabatnya nyaman sebelum mobil mulai meninggalkan area bandara dan masuk ke jalanan Jakarta yang siang itu sudah cukup padat.“Pak Kylar belum tahu Cici pulang sekarang?” tanya Lala setelah beberapa menit berlalu.Ryn meraih ponselnya dan membuka percakapannya dengan Kylar. Pesan terakhir dari suaminya dikirim tidak terlalu lama sebelumnya. Pria itu mengabari bahwa kepalanya sempat kembali terasa pusing hari ini, tetapi sekarang sudah jauh lebih baik.Setelah beberapa hari terakhir Kylar sempat demam, lalu pagi ini mengeluh pusing lagi, rasanya keputusan untuk pulang lebih cepat memang bukan keputusan yang salah.“Kayaknya sejauh ini masih aman,” jawab Ryn sambil tersenyum kecil. “Mas Kylar nggak curiga.”Lala menatap sahabatnya beberapa saat. “Boleh nggak sih aku iri s
Ryn tidak langsung menjawab. Dia tahu, pertanyaan Lala bukan sekadar tentang uang atau kemampuan untuk membeli kebutuhan anaknya.Sahabatnya sedang takut.Takut menjadi seorang ibu tunggal, takut menghadapi masa depan tanpa suami yang selama ini dia kira akan menjadi tempat mereka pulang, dan mungkin juga takut karena anak yang dikandungnya belum lahir, tetapi kehidupannya sudah berubah jauh dari apa yang dibayangkan.“Aku mau ngomong jujur, ya,” kata Ryn akhirnya sambil menggenggam tangan Lala. “Kalau setelah semuanya jelas kamu masih merasa Mas Bule benar-benar bisa berubah dan kamu masih mau mempertahankan pernikahan ini, ya lanjutkan. Itu hidup kamu, La. Aku nggak akan maksa kamu cerai cuma karena aku kesel lihat kelakuannya.”Lala menatap Ryn dengan mata yang masih basah.“Tapi kalau kamu ngerasa setelah ini kamu bakal hidup setiap hari sambil curiga, cek ponselnya, mikir dia lagi sama siapa setiap kali pulang telat, atau bahkan nggak bisa disentuh dia tanpa keinget apa yang terj
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes







