LOGIN“Kenapa, Mas? Ada yang telepon?” tanya Ryn setelah menyadari suara Kylar sempat terputus beberapa detik.“Urusan kantor.”“Penting?”“Kalau penting, dia pasti telepon lagi.”“Oh,” komentar Ryn singkat. Dia tahu Elena yang menelepon, meskipun Kylar tidak menyebut namanya.Kylar menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ada sedikit rasa tidak nyaman di dadanya karena dia tahu Elena mungkin saja menelepon untuk sesuatu yang memang tidak bisa menunggu.Namun, untuk malam ini dia tidak ingin membiarkan urusan kantor kembali mengambil waktunya bersama Ryn.Dua minggu terakhir dia terlalu sering mengatakan ‘nanti’ kepada istrinya. Nanti setelah rapat selesai. Nanti setelah urusan ini beres. Nanti kalau sudah sampai rumah. Tanpa sadar, kata sederhana itu membuat jarak mereka terasa semakin jauh.Malam ini, Kylar tidak mau melakukannya lagi.“Lanjut,” katanya ketika Ryn tiba-tiba berhenti bercerita. “Tadi kamu mau cerita apa?”Ryn tertawa kecil. “Aku tadi cerita Reynash.”“Oh, iya. Anak itu
“Maaf, ini siapa?” tanya Ryn. Suaranya mulai bergetar meskipun dia berusaha mempertahankan nada bicara tetap tenang.Entah kenapa, mendengar suara perempuan menjawab telepon Kylar di waktu seperti ini membuat pikirannya langsung berlari ke mana-mana.“Saya Elena, personal assistant Mr. Kylar,” jawab perempuan di seberang dengan tenang. “Maaf saya lancang mengangkat telepon beliau karena Mr. Kylar sedang rapat dan ponselnya dititipkan kepada saya. Ada yang perlu saya sampaikan?”Ryn diam sepersekian detik. Dia memang tahu sejak awal Kylar akan memiliki personal assistant selama berada di Paris.Bodohnya, dia tidak pernah bertanya apakah asisten itu perempuan atau laki-laki. Dan ternyata perempuan?“Oh.” Ryn menarik napas pelan sebelum menjawab, berusaha terdengar biasa saja. “Nggak ada. Nanti minta suamiku telepon balik saja. Thanks, Elena.”“Baik, Mrs. Ashwara. Nanti saya sampaikan.”Sambungan telepon berakhir.Ponsel masih berada di tangan Ryn ketika dia menatap layar selama beberapa
[Aku udah sampai Paris, Sayang. Kangen kamu sama anak-anak.]Pesan itu Ryn terima tepat pukul tiga sore ketika dirinya sedang duduk di ruang baca dengan sebuah buku terbuka di pangkuan. Di Paris, waktu baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi.Begitu membaca pesan singkat dari Kylar, bahunya yang sejak tadi sedikit tegang langsung mengendur. Setidaknya pria itu sudah tiba dengan selamat setelah penerbangan tengah malam yang membuat Ryn sempat beberapa kali terbangun hanya untuk melihat ponselnya, memastikan tidak ada kabar apa pun dari Kylar.Kepergian Kylar malam tadi memang tidak berlangsung semulus yang mereka rencanakan. Begitu waktu berangkat semakin dekat, Reyansh yang awalnya hanya berdiri di samping ayahnya perlahan mulai memasang wajah memelas karena ingin ikut ke Paris.“Aku nggak akan rusuh, Ayah. Janji,” bujuk Reyansh sambil tetap memeluk kaki sang Ayah. “Aku bisa sendiri. Aku bisa main sama Lucius. Aku juga nggak akan minta Ayah ajak jalan-jalan. Aku cuma mau ikut.”Kyl
Ryn langsung tertawa kecil. “Nanti kamu terlambat.”“Paris bisa nunggu. Kamu belum tentu.”Ryn menggeleng, tetapi senyumnya semakin lebar. “Semalam aja kamu bilang capek.”“Capeknya udah hilang.”“Cepat banget sembuhnya.”“Kalau obatnya kamu, memang begitu.”Ryn menahan tawa sambil mendorong bahunya. “Obat apaan? Semalam siapa yang sampai minta aku jangan ganggu dia karena katanya besok harus bangun pagi?”Kylar terkekeh. “Aku berubah pikiran.”“Baru sehari udah berubah?” goda Ryn jahil.“Namanya juga kebutuhan.”“Dasar nggak tahu malu.”“Kamu juga masih ngeladenin.”“Karena kasihan.”“Kasihan atau menikmati?”Ryn menatapnya beberapa detik, lalu mencubit pinggangnya. “Pergi makan sana.”Kylar justru semakin mendekat, kedua tangannya kembali melingkari pinggang Ryn. “Kalau makan malamnya kamu boleh nggak?”Ryn langsung menahan tawa, matanya menyipit geli. “Kylar.”“Apa?”“Kamu tuh kalau mau berangkat jauh kenapa makin nyebelin?”“Karena aku tahu aku bakal kehilangan jatah sebulan.”Ryn
“Wah, wangi banget. Kamu masak apa, Sayang?”Kylar muncul di ambang pintu dapur dengan pakaian yang sudah rapi untuk perjalanan. Koper dan tas kerjanya sudah menunggu di dekat pintu depan, semua berkas untuk Paris juga sudah selesai disiapkan.Dia sengaja mengambil penerbangan tengah malam agar masih bisa makan malam bersama keluarga sebelum berangkat, tetapi begitu mencium aroma masakan dari dapur, bukannya langsung duduk, Kylar malah berjalan mendekati istrinya.“Ada sop iga, ayam bakar, tumis buncis, sama capcay. Masih ada beberapa lauk lagi yang tinggal dipanasin.” Ryn yang sedang mengaduk sop menoleh sebentar. “Duduk dulu, Mas. Bentar lagi ini matang.”Bukannya menurut, Kylar malah berdiri tepat di belakangnya. Kedua lengannya melingkari pinggang Ryn, menarik tubuh istrinya mendekat sebelum dagunya bertumpu di bahu Ryn. Dia menghirup aroma rambut dan leher istrinya yang terikat tinggi, lalu mengecup sisi leher yang terbuka.Ryn yang sedang memegang spatula langsung terkikik geli.
Kylar menahan tawa, sedangkan Ryn langsung mengulurkan satu tangan ke arah putra keduanya. “Sini, sini. Siapa bilang nggak diajak?”Reyansh turun dari ranjang tanpa menunggu lebih lama. Dia langsung berjalan cepat ke arah mereka, lalu menyelipkan tubuh kecilnya di antara Ryn dan Kylar.“Aku juga mau pelukan,” gumam Reynash sambil memeluk pinggang Ryn.“Iya, Sayang,” jawab Ryn sambil tertawa kecil. “Ibu peluk semuanya.”Reyansh mendongak. “Aku juga dapat cium?”“Dapat.”“Banyak?”“Banyak.”Ryn mencium pipi Reyansh berkali-kali sampai anak itu terkikik, kemudian mengecup kening Lucius yang sudah setengah tertidur. Kylar ikut merangkul kedua putranya sekaligus, membuat mereka bertiga berhimpitan di tengah ranjang.Reyansh yang sudah kembali ceria tiba-tiba menoleh kepada Lucius. “Kakak tadi dipeluk Ibu?”Lucius membuka mata sedikit. “Iya.”“Kenapa?”“Karena Ibu sedih.”Reyansh langsung menatap Ryn. “Ibu sedih?”Ryn tersenyum. “Tadi sedikit.”Reyansh berpikir sebentar, lalu memeluk ibunya
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad







