ログイン“Bu Ratna, aku titip rumah, ya? Ibu jangan sedih selama aku pergi,” pamit Ryn kepada Ratna, kepala asisten rumah tangga yang sudah dia anggap keluarga sendiri.Semua persiapan akhirnya selesai. Urusan Aozora sudah Ryn limpahkan kepada Anne dan beberapa orang yang selama ini memang sudah membantunya menjalankan operasional, sehingga kepergiannya ke Paris tidak berarti restoran itu akan berhenti berjalan.Anak-anak juga sudah menyelesaikan masa preschool mereka dan akan melanjutkan pendidikan dasar di Paris sesuai rencana Kylar.Sebelum berangkat, Ryn bahkan sudah memastikan kondisi kehamilannya kepada Gala. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi mereka sehat dan Gala tidak melihat masalah dengan penerbangan selama Ryn menjaga kondisi tubuh, cukup minum, tidak terlalu banyak bergerak, serta mengikuti beberapa hal yang sudah dia ingatkan.Jadi secara teknis, tidak ada lagi alasan untuk menunda.Yang tersisa hanya perasaan berat meninggalkan Indonesia.“Ibu pasti kangen sama Nyonya, dan anak-
“Mas, kenapa tiba-tiba harus pindah?”Ryn bertanya lewat panggilan telepon setelah memastikan Reyansh dan Lucius sudah tertidur di kamar mereka.Malam sudah cukup larut, dan sekarang dia berada sendirian di kamar utama, duduk bersandar di kepala ranjang dengan satu tangan mengusap perutnya yang semakin besar.Sejak menerima pesan Kylar tadi, pikirannya tidak berhenti bertanya-tanya. Pindah ke Paris bukan keputusan kecil, apalagi jika itu berarti membawa dua anak mereka dan seluruh kehidupan yang selama ini sudah mereka bangun di Indonesia.“Nggak tiba-tiba,” jawab Kylar dari seberang. Suaranya terdengar lebih serius daripada biasanya. “Aku udah mikirin ini dari lama. Dan kayaknya ini keputusan yang tepat. Aku bisa lebih tenang kerja kalau kamu sama anak-anak tinggal di sini.”Ryn mengernyit. “Di Paris?”“Iya.”“Terus Aozora?”“Kamu masih bisa tetap pegang dari sini. Tapi kalau kamu pindah, kamu nggak harus bolak-balik terus. Kita bisa atur semuanya.”Ryn terdiam sebentar. Ada bagian d
Kylar tetap tenang, tetapi tatapannya tidak lagi sehangat beberapa menit sebelumnya. “Saya menghargai perhatian kamu. Tapi urusan makan saya bukan tanggung jawab kamu sampai harus memasak di rumah saya.”Elena menundukkan kepala sedikit. “Maaf, Mr. Kylar. Saya tidak bermaksud melewati batas.”“Saya tahu.” Nada Kylar sedikit melunak, tetapi sikapnya tetap tegas. “Kita bekerja bersama. Saya ingin hubungan kita tetap sebatas itu.”“Baik.”Kylar mengangguk lalu menyerahkan kembali map yang sudah ditandatangani. “Ini sudah selesai. Besok pagi kirim ke legal.”Elena menerima map tersebut dengan kedua tangan, lalu berdiri. “Baik, Mr. Kylar.”Dia berbalik hendak pergi, tetapi sebelum mencapai pintu, Kylar kembali memanggilnya. “Lena.”Elena menoleh.“Kalau ada berkas yang harus saya tanda tangan lagi, kirim ke ruang kerja atau beri tahu saya lewat pesan. Tidak perlu datang ke rumah kalau bukan sesuatu yang benar-benar mendesak.”Elena mengangguk pelan. “Saya mengerti.”“Bagus.”Elena kemudian
“Kenapa, Mas? Ada yang telepon?” tanya Ryn setelah menyadari suara Kylar sempat terputus beberapa detik.“Urusan kantor.”“Penting?”“Kalau penting, dia pasti telepon lagi.”“Oh,” komentar Ryn singkat. Dia tahu Elena yang menelepon, meskipun Kylar tidak menyebut namanya.Kylar menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ada sedikit rasa tidak nyaman di dadanya karena dia tahu Elena mungkin saja menelepon untuk sesuatu yang memang tidak bisa menunggu.Namun, untuk malam ini dia tidak ingin membiarkan urusan kantor kembali mengambil waktunya bersama Ryn.Dua minggu terakhir dia terlalu sering mengatakan ‘nanti’ kepada istrinya. Nanti setelah rapat selesai. Nanti setelah urusan ini beres. Nanti kalau sudah sampai rumah. Tanpa sadar, kata sederhana itu membuat jarak mereka terasa semakin jauh.Malam ini, Kylar tidak mau melakukannya lagi.“Lanjut,” katanya ketika Ryn tiba-tiba berhenti bercerita. “Tadi kamu mau cerita apa?”Ryn tertawa kecil. “Aku tadi cerita Reynash.”“Oh, iya. Anak itu
“Maaf, ini siapa?” tanya Ryn. Suaranya mulai bergetar meskipun dia berusaha mempertahankan nada bicara tetap tenang.Entah kenapa, mendengar suara perempuan menjawab telepon Kylar di waktu seperti ini membuat pikirannya langsung berlari ke mana-mana.“Saya Elena, personal assistant Mr. Kylar,” jawab perempuan di seberang dengan tenang. “Maaf saya lancang mengangkat telepon beliau karena Mr. Kylar sedang rapat dan ponselnya dititipkan kepada saya. Ada yang perlu saya sampaikan?”Ryn diam sepersekian detik. Dia memang tahu sejak awal Kylar akan memiliki personal assistant selama berada di Paris.Bodohnya, dia tidak pernah bertanya apakah asisten itu perempuan atau laki-laki. Dan ternyata perempuan?“Oh.” Ryn menarik napas pelan sebelum menjawab, berusaha terdengar biasa saja. “Nggak ada. Nanti minta suamiku telepon balik saja. Thanks, Elena.”“Baik, Mrs. Ashwara. Nanti saya sampaikan.”Sambungan telepon berakhir.Ponsel masih berada di tangan Ryn ketika dia menatap layar selama beberapa
[Aku udah sampai Paris, Sayang. Kangen kamu sama anak-anak.]Pesan itu Ryn terima tepat pukul tiga sore ketika dirinya sedang duduk di ruang baca dengan sebuah buku terbuka di pangkuan. Di Paris, waktu baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi.Begitu membaca pesan singkat dari Kylar, bahunya yang sejak tadi sedikit tegang langsung mengendur. Setidaknya pria itu sudah tiba dengan selamat setelah penerbangan tengah malam yang membuat Ryn sempat beberapa kali terbangun hanya untuk melihat ponselnya, memastikan tidak ada kabar apa pun dari Kylar.Kepergian Kylar malam tadi memang tidak berlangsung semulus yang mereka rencanakan. Begitu waktu berangkat semakin dekat, Reyansh yang awalnya hanya berdiri di samping ayahnya perlahan mulai memasang wajah memelas karena ingin ikut ke Paris.“Aku nggak akan rusuh, Ayah. Janji,” bujuk Reyansh sambil tetap memeluk kaki sang Ayah. “Aku bisa sendiri. Aku bisa main sama Lucius. Aku juga nggak akan minta Ayah ajak jalan-jalan. Aku cuma mau ikut.”Kyl
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar







