เข้าสู่ระบบKylar terdiam.Jayden melirik Ryn, lalu Kylar, tampak jelas menyadari bahwa dia baru saja duduk di tengah sesuatu yang jauh lebih rumit daripada obrolan antar-turis Indonesia.Sementara Ryn kembali meraih gelas minumnya seolah sama sekali tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan sempat menyesap minuman itu dengan tenang sebelum menambahkan, “Kalau Anda mau mencari seseorang, sepertinya Anda salah meja.”Tatapan Kylar tidak bergeser sedikit pun darinya.“Ryn.”Ryn akhirnya menoleh, lalu mengangkat sebelah alis. “Oh, jadi Anda tahu nama saya? Maaf, tapi saya benar-benar nggak ingat pernah bertemu dengan Anda.”Kylar mengembuskan napas panjang. Wajahnya masih tenang, tetapi Ryn mengenalnya terlalu baik untuk tidak menyadari rahang pria itu mulai mengeras. “Sayang, jangan begini.”“Jangan panggil saya begitu.” Ryn langsung meletakkan gelasnya. Kali ini senyum di wajahnya benar-benar hilang. “Suami saya nggak ada di sini.”Kalimat itu membuat Jayden perlahan meluruskan punggungnya.Sedangkan Kyla
Kylar pikir caranya berhasil membuat Ryn menghubunginya?Oh, jangan harap.Gengsi Ryn saat ini rasanya sudah lebih tinggi daripada Tokyo Skytree.Sudah pria itu yang mengkhianatinya, sekarang dia juga harus menghubungi Kylar untuk meminta kartu kreditnya dibuka kembali? Enak saja.Lalu apa? Dia harus berkata, ‘Mas, kartuku nggak bisa dipakai. Tolong dibuka, ya?’Sementara Kylar mungkin akan duduk di rumah sambil merasa rencananya berhasil?Mimpi.Ryn masih punya harga diri. Dan, yang lebih penting, dia masih punya uang.Hello, dia bukan Ryn si anak Account Payable yang harus menghitung pengeluaran sebelum membeli sesuatu. Sekarang dia adalah pemilik Aozora, dengan sepuluh cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.Mana mungkin seorang pemilik bisnis tidak memiliki kartu debit dengan saldo sendiri hanya karena suaminya memutuskan memblokir kartu kredit yang selama ini digunakannya?Walaupun, kalau dipikir-pikir, modal awal Aozora memang berasal dari–Ish!Kenapa sih, ke mana-m
Naufal datang tidak lama kemudian. Begitu memasuki kamar utama dan melihat ekspresi Kylar yang sudah berubah gelap, dia langsung tahu pertengkaran kali ini bukan sesuatu yang akan selesai hanya dengan satu telepon, sekuntum bunga, atau permintaan maaf sederhana.“Cari taksi yang bawa Ryn dari rumah tadi,” perintah Kylar tanpa basa-basi. “Saya mau tahu taksinya ke mana, dia turun di mana, berangkat jam berapa, sampai jam berapa. Cari semuanya.”Sementara Naufal mulai menghubungi pihak-pihak yang bisa membantunya melacak kendaraan tersebut, Kylar kembali memeriksa semua kemungkinan yang ada di kepalanya.Ryn datang dari Surabaya, lalu meninggalkan rumah setelah melihat dirinya bersama perempuan itu. Kalau istrinya pergi dari rumah, kemungkinan paling masuk akal adalah kembali ke Surabaya.Kylar langsung membuka daftar kontak di ponselnya dan mencari nama Anne. Jarinya menekan tombol panggil tanpa ragu.Panggilan tersambung setelah beberapa dering.“Anne.”“Mas Kylar? Ada apa, Mas?” Suar
Kylar menatap surat itu sekali lagi sebelum akhirnya meraih ponselnya.[Aku pergi. Nggak perlu cari aku.]Rahangnya langsung mengeras.Ryn benar-benar mengira dia akan membaca kalimat itu, lalu duduk diam dan membiarkan istrinya pergi begitu saja?Kylar membuka aplikasi pelacak yang terhubung dengan ponsel Ryn.Selama ini dia memang tidak pernah merasa perlu memeriksa keberadaan istrinya setiap saat. Bukan karena dia tidak bisa, melainkan karena dia tahu Ryn ada di rumah, di restoran, atau bersamanya.Fitur itu hanya dia pasang sebagai langkah berjaga-jaga. Kalau suatu hari terjadi sesuatu dan Ryn tidak bisa menghubunginya, setidaknya dia masih punya satu cara untuk menemukan perempuan itu.Namun sekarang, Kylar benar-benar membutuhkan fitur tersebut.Titik lokasi muncul di layar.Rumah?Kylar mengernyit, lalu memperbesar peta. Titik itu tetap diam. Tidak bergerak sedikit pun.Dia menunggu beberapa detik sebelum menyegarkan aplikasi. Tetap di sana.“Nggak mungkin.”Kalau Ryn membawa po
“Mbak?” suara sopir taksi akhirnya menyadarkan Ryn. “Mau saya berhenti di sini atau masuk ke lobi?”Ryn kembali menatap pintu masuk tempat Kylar menghilang. Dia belum tahu apa yang akan dilakukan setelah ini.Masuk dan melihat sendiri apa yang sedang dilakukan Kylar?Menunggu?Atau pulang begitu saja?“Kita jalan lagi aja, Pak,” putus Ryn akhirnya.Sopir itu tampak sempat menunggu beberapa detik, mungkin memastikan dirinya tidak salah dengar. Namun, ketika Ryn tidak mengatakan apa-apa lagi, mobil itu pun perlahan bergerak meninggalkan area hotel.Ryn memejamkan mata.Dia tidak mau masuk. Jangankan melihat suaminya berada satu kamar dengan perempuan lain, mengetahui Kylar berkali-kali memberikan jawaban yang berbeda dari apa yang dilihatnya sendiri saja sudah cukup membuat muak.Ketika membuka mata, Ryn hanya bisa menatap kosong ke arah jalanan di luar jendela. Kepalanya justru semakin dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ingin dia pikirkan.Mungkinkah perempua
Bohong kalau Ryn bilang dia masih bisa berpikir jernih.Seharusnya dia memanggil Kylar. Menyebut namanya, menghentikan langkah pria itu, lalu menanyakan kenapa suaminya keluar dari ruang praktik dokter kandungannya bersama seorang perempuan yang tidak dia kenal.Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ryn berdiri membeku selama beberapa detik, membiarkan Kylar dan perempuan itu berjalan semakin jauh sebelum akhirnya kakinya bergerak mengikuti mereka.Tangannya bahkan sudah lebih dulu merogoh ponsel ke dalam tas, lalu mengangkatnya dan mengambil beberapa foto dari kejauhan. Entah apa yang sedang dia lakukan. Entah kenapa dia merasa perlu melakukannya. Yang terlintas di kepalanya hanya perkataan Lala.Bukti itu penting.Kalau memang tidak terjadi apa-apa, foto-foto itu tidak akan berarti apa pun. Namun kalau nanti Kylar mencoba mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang dilihatnya hari ini, setidaknya Ryn tidak hanya mengandalkan ingatannya sendiri.Dengan jantung yang berdetak semakin
“Yakin!” sahut Ryn cepat, nyaris tanpa jeda. “Mas turutin aja, ya? Jangan sampai bocor.”Naufal terkekeh kecil. “Siap, Mbak. Rahasia aman di tangan saya.”Ryn mengangguk puas, lalu tanpa aba-aba, matanya menyipit sedikit, seperti tiba-tiba mengingat sesuatu.“Mas, aku mau tanya sesuatu dong.”Naufa
“Ta-tapi … memang harus sejauh itu?” suara Dara kembali terdengar, kali ini lebih kecil, lebih ragu. Keraguan itu tidak bisa lagi dia sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.“Harus. Apa pun caranya,” jawab Jihan tegas. “Aku nggak akan biarin Kylar, yang udah mempermalukan aku dengan menolak perjo
“Mas, kenapa tadi begitu datang kamu nanyain soal Kak Zaky?” tanya Ryn begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.Suara mesin menyala pelan, lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, sementara di luar sana, kota masih hidup meskipun sudah malam.Kylar tidak langsung menjawab. Tangannya memutar setir
“Ini bukan April Fools, ‘kan?” tanya Kylar pelan, suaranya masih belum sepenuhnya menemukan bentuk. Tatapannya belum lepas dari kartu itu, seolah takut kalau dia berkedip, semuanya akan berubah jadi salah paham.Ryn mendengus kecil, lalu tanpa banyak bicara merebut kotak itu dari tangan suaminya.Di







