LOGINKylar mengangguk mantap. “Aku yakin, Pi. Aku bukan mau lepas tangan begitu aja. Aku cuma nggak mau terus-terusan berada di Paris.”Kael mengamati putranya beberapa saat. Dia tahu Kylar bukan tipe orang yang mudah meninggalkan tanggung jawab. Sejak mengambil alih perusahaan, putranya selalu berusaha memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Karena itu, Kael ingin memahami apa yang membuat Kylar mantap mengambil keputusan tersebut.“Ada sesuatu yang terjadi? Atau ini karena kecelakaan Reynash kemarin?”“Sebagian karena itu.” Kylar menarik napas pelan. “Tapi bukan cuma soal Reynash, Pi. Aku sadar ada banyak hal yang selama ini aku lewatkan. Aku selalu berpikir semuanya bisa diatur selama pekerjaan selesai dan kebutuhan keluarga terpenuhi. Ternyata, nggak sesederhana itu.”Kylar terdiam sejenak, teringat Ryn yang duduk di sofa kamar mereka, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan. Bahkan ketika Aurea menangis, istrinya seolah tidak mendengarnya sampa
Postpartum depression atau depresi pascapersalinan.Mendengar diagnosis itu membuat Ryn merasa seolah sedang berdiri di depan pintu keluar yang tak kunjung bisa dia capai. Dia tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi mengetahui bahwa kondisinya memiliki nama justru membuatnya takut.Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa dia akan mengalami hal seperti ini.Siapa yang akan menyangka seorang ibu dengan kehidupan yang terlihat sempurna bisa mengalami hal seperti ini?Ryn memiliki suami yang menyayanginya, anak-anak yang sehat dan menggemaskan, kehidupan berkecukupan, serta bisnis yang perlahan kembali stabil setelah berbagai masalah menerpanya.Namun, semua itu tidak serta-merta membuat Ryn kebal terhadap rasa sakit yang tak terlihat. Depresi tidak memilih seseorang berdasarkan seberapa banyak yang dia miliki atau seberapa bahagia hidupnya tampak di mata orang lain.“Sayang, udah. Jangan dipikirin semuanya sekaligus, ya.” Kylar mengusap punggung tangan Ryn ketika mereka duduk
“Si kembar di mana, Bu?” tanya Ryn sambil menyusui Aurea di ruang keluarga. Kain menyusui menutupi bagian dadanya, sementara satu tangannya menyangga tubuh mungil putrinya.“Sepertinya sedang di ruang bermain, Nyonya. Tadi Tuan Kylar juga ikut naik ke atas,” jawab Ratna yang sedang merapikan beberapa mainan di dekat sofa.Ryn mengangguk kecil. Dia menunduk, memperhatikan Aurea yang menyusu dengan tenang sampai akhirnya bayi itu melepaskan mulutnya sendiri. Setelah memastikan putrinya sudah cukup kenyang, Ryn membenarkan pakaiannya, menggendong Aurea, lalu naik ke lantai dua untuk melihat anak-anaknya.Langkahnya berhenti ketika sampai di ambang pintu ruang bermain. Di dalam, Kylar duduk bersila di atas karpet bersama Lucius dan Reynash.Seminggu setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Reynash sudah kembali bugar. Lengan yang sempat patah masih harus dijaga agar tidak terlalu banyak bergerak, tetapi semangatnya untuk bermain seolah tidak pernah berkurang.Di hadapan mereka berse
“Kamu bilang gitu cuma karena mau bikin Reynash berhenti ngerengek atau gimana, sih, Mas?” Ryn kembali menagih jawaban ketika mereka duduk berdampingan di sebuah kafe dekat rumah sakit.Reynash sudah tertidur setelah disuapi Kylar, meminum obat, dan mengeluh sebentar karena rasa sakit di lengannya belum sepenuhnya hilang. Seorang pengasuh juga menemani bocah itu di kamar, sehingga Ryn dan Kylar bisa keluar sebentar untuk makan dan berbicara tanpa khawatir meninggalkannya sendirian.“Aku emang nggak akan kerja di Paris lagi,” jawab Kylar.Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Pelayan meletakkan secangkir coffee latte di hadapan Kylar, sementara Ryn mendapat jus stroberi dan sepotong cheesecake kesukaannya.Kylar mengucapkan terima kasih, lalu menunggu sampai pelayan pergi sebelum kembali menatap istrinya.“Terus perusahaan kamu gimana? Emangnya Papi udah setuju?” Ryn masih sulit mempercayai keputusan itu. Dia tahu betapa besar tanggung jawab Kylar di Paris dan tidak ingin suaminy
Kylar mengeratkan pelukannya. Dia tidak langsung membujuk Ryn untuk berhenti menangis, apalagi mengulang bahwa semuanya akan baik-baik saja.Dia tahu kalimat-kalimat itu tidak akan serta-merta menghapus ketakutan istrinya. Maka, dia membiarkan Ryn menangis sambil terus mengusap punggungnya, sesekali mengecup puncak kepalanya.“Iya, Sayang. Aku tahu. Kamu capek banget, ya?” bisiknya. “Nggak apa-apa. Nangis aja dulu.”Ryn mengangguk kecil di dadanya, tetapi tangisnya justru semakin pecah.“Aku takut, Mas. Waktu lihat Reyansh kemarin, aku takut banget. Aku terus mikir kalau aja aku ada di rumah, kalau aja aku nggak pergi ke Bandung ...” Ryn menarik napas tersendat, berusaha melanjutkan kalimatnya meski suaranya nyaris tak terdengar. “Terus tadi aku malah bentak dia. Dia lagi sakit, Mas, tapi aku malah marah. Aku jahat banget, ya?”Kylar memejamkan mata sesaat. Sekarang dia mulai memahami bahwa yang dibawa Ryn bukan sekadar kelelahan karena berjaga semalaman. Perempuan itu sedang menumpuk
Menjelang siang, Ryn membantu Reyansh duduk sedikit lebih tegak dengan beberapa bantal sebagai penyangga.Makanan dari rumah sakit sudah tersedia di meja kecil di samping ranjang, tetapi bocah itu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Dia justru memalingkan wajah setiap kali Ryn menyodorkan sesendok bubur.“Ayo, Sayang. Sedikit lagi, ya. Habis ini istirahat lagi,” bujuk Ryn sambil meniup bubur di sendoknya agar tidak terlalu panas.“Nggak mau.”“Kenapa? Tadi Rey belum makan banyak.”“Aku nggak mau makan!” Reyansh mulai menggeser tubuhnya, wajahnya berkerut ketika gerakan kecil itu membuat lengannya terasa sakit. “Badan aku sakit semua. Aku mau tidur aja!”Ryn menahan sendoknya di udara. Sejak pagi dia terus berusaha memenuhi kebutuhan Reyansh, mulai dari membantu bocah itu ke kamar mandi, menemani saat obat diberikan, sampai menenangkannya setiap kali rasa sakit membuatnya merengek.Dia sendiri belum makan dengan benar dan hampir tidak tidur sejak menerima kabar kecelakaan itu.
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes







