LOGIN“Sekarang?” Kylar mengangkat alis, pura-pura mempertimbangkan permintaan itu dengan serius. “Besok pagi aku bisa pesenin tiket.”“Mas, aku serius!”“Lah, aku juga serius.” Kylar terkekeh ketika Ryn mencubit tangannya. “Tapi kita lihat dulu kondisi Aurea, jadwal anak-anak, sama kerjaan. Aku nggak mau asal ngajak kamu pulang, terus kamu malah tambah capek ngurus semuanya.”Ryn tersenyum kecil. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan ketika akhirnya dia bisa mengutarakan keinginannya tanpa takut dianggap egois.Dia tidak membenci Paris, juga tidak ingin mengabaikan pekerjaan Kylar atau membuat anak-anak kehilangan kenyamanan mereka.Dia hanya merindukan kehidupan yang terasa akrab, tempat dia bisa keluar rumah tanpa harus berpikir terlalu banyak, berbicara dengan orang lain tanpa khawatir salah bahasa, dan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa terus merasa seperti orang asing.“Makasih, ya, Mas,” bisiknya sambil meremas tangan Kylar.Kylar mengecup tangan sang istri sebelum kembali me
“Kamu betah tinggal di Paris?” tanya Kylar ketika mobil mereka mulai meninggalkan kawasan Menara Eiffel setelah makan malam.Sepanjang makan malam tadi, Ryn terlihat jauh lebih santai dibandingkan saat mereka masih berada di rumah. Mereka menikmati hidangan demi hidangan sambil mengobrol tentang banyak hal, mulai dari kenangan liburan mereka sebelumnya sampai tingkah Lucius dan Reynash yang belakangan semakin banyak akal.Ryn bahkan sempat tertawa ketika Kylar bercerita tentang salah satu kejadian di kantor. Untuk beberapa jam, mereka berhasil menikmati waktu berdua tanpa membahas pekerjaan atau masalah yang menunggu di rumah.Kini, di dalam mobil yang hangat dengan jendela memperlihatkan lampu-lampu Paris dan sisa salju di sepanjang jalan, Kylar sengaja membuka percakapan ringan.Ryn yang sedang menyandarkan kepala ke jok menoleh kepadanya. “Aku betah karena ada kamu, Mas. Kalau nggak karena kamu, jujur, aku nggak terlalu suka tinggal di sini.”Kylar mengangkat alis. “Wah, berarti ka
“Le Jules Verne?” Ryn menoleh kepada Kylar begitu mereka turun dari mobil yang diserahkan kepada petugas valet. Perempuan itu mendongak, memperhatikan Menara Eiffel yang menjulang di hadapan mereka, sementara butiran salju tipis mulai berjatuhan di antara cahaya lampu kota.Udara musim dingin Paris terasa menggigit, membuat Ryn refleks merapatkan mantel wol berwarna krem yang dikenakannya. Syal yang melingkar di lehernya pun ditarik sedikit lebih tinggi sebelum Kylar menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan mendekati pintu masuk.“Kenapa? Nggak suka?” Kylar balik bertanya dengan senyum kecil, sengaja memasang wajah seolah-olah dia tidak tahu apa pun.“Bukan nggak suka! Aku suka banget, makanya kaget.” Ryn langsung menyahut. Dia kembali memandang restoran yang berada di lantai dua Menara Eiffel itu, lalu tersenyum kecil.Setiap kali mereka berlibur ke Paris, Kylar hampir selalu menyempatkan diri mengajaknya makan di Le Jules Verne. Ryn menyukai suasananya yang elegan, hidangannya
Ziva langsung melotot. “Lho, kenapa nggak boleh?"“Soalnya Ayah yang mau nemenin Ibu me time malam ini.”Ryn menoleh cepat. “Hah? Sejak kapan?”“Sejak sekarang.” Kylar menjawab tanpa berkedip, lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya santai. “Kenapa? Memangnya suami sendiri nggak boleh ngajak istrinya jalan?”“Boleh, tapi aku duluan yang ngajak Ibu!” Ziva memprotes, tak terima rencana yang sudah disusunnya sejak tadi malah diserobot ayahnya sendiri.Dia sudah membayangkan menghabiskan waktu berdua dengan Ryn, mengajaknya ke salon atau kafe, lalu membiarkan ibunya menikmati waktu tanpa harus memikirkan Aurea, si kembar, ataupun Aozora. Sekarang, Kylar malah datang dan mengklaim jatah kencan seolah-olah dia punya hak veto atas semua rencana di rumah itu.Kylar mengangkat bahu dengan wajah tanpa dosa. “Ya, terus? Kamu sudah dapat jatah tinggal serumah sama Ibu. Ayah baru pulang kerja, masa nggak boleh kencan sama istri sendiri?”“AYAH!” Ziva berseru kesal, membuat Ryn yang duduk di
“Mas, aku lagi serius!”“Iya, iya, aku tahu.” Kylar terkekeh sambil mengecup kening Ryn. “Tapi kalau Aozora sampai bangkrut, ya udah, kamu nggak usah kerja. Duduk manis aja di rumah, temenin aku.”Ryn langsung mendongak. “Enak banget ngomongnya. Aku bangun Aozora susah payah, tahu!”“Makanya aku bilang aku tahu.” Kylar mencolek hidungnya. “Kamu pikir aku nggak lihat kamu ngurusin restoran itu dari nol? Aku tahu kamu sayang banget sama Aozora. Jadi, ya, wajar kalau sekarang kamu kepikiran.” Dia mengusap punggung Ryn yang masih bersandar di dadanya. “Tapi jangan langsung mikir bangkrut dulu, dong. Orang baru nuduh, faktanya aja belum jelas.”Ryn terdiam. Sebenarnya, bukan uang yang paling dia khawatirkan. Aozora adalah sesuatu yang dia bangun dengan kerja kerasnya sendiri, sesuatu yang ingin dia kembangkan tanpa harus bergantung pada siapa pun. Membayangkan semuanya hancur gara-gara kabar yang bahkan belum terbukti saja sudah membuat dadanya sesak.“Kalau ternyata memang ada pelanggan y
“Kenapa Anne nggak bilang, sih?” gerutu Ryn sambil duduk di tepi ranjang, menelusuri media sosial melalui tautan yang dikirimkan Lala. Semakin banyak unggahan yang dia baca, semakin tegang pula wajahnya.Beberapa akun mengaku sebagai pelanggan Aozora cabang Bandung dan menuduh restoran itu menyebabkan keracunan makanan. Ada yang mengunggah foto makanan yang tampak belum tersentuh, ada pula yang mengaku mengalami mual dan sakit perut setelah makan di sana.Tuduhan itu belum disertai bukti medis yang jelas, tetapi kolom komentar sudah dipenuhi orang-orang yang ikut menyebarkan kabar tersebut, bahkan sebagian mulai mengajak orang lain untuk tidak lagi makan di Aozora.Ryn mencoba mencerna informasi yang baru saja diterimanya. Rasa lelah yang sejak tadi membebani tubuhnya belum hilang, tetapi pikirannya kini dipenuhi pertanyaan yang saling bertumpuk.Apakah benar ada pelanggan yang sakit? Kalau memang ada, kapan kejadiannya? Apakah pihak restoran sudah memeriksa makanan yang disajikan har
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar







