เข้าสู่ระบบJihan terdiam. Tatapannya bergerak dari wajah Ryn ke saku jaketnya, kemudian kembali lagi. Ada kepanikan yang berusaha disembunyikannya di balik amarah.Ryn melihat perubahan itu dan nyaris ingin bertepuk tangan. Akhirnya. Setelah berjam-jam menunggu, perempuan itu mulai menunjukkan reaksi yang dia harapkan.“Aku nggak peduli kamu mau jadi pecandu atau pengedar narkoba,” kata Ryn santai. “Serius. Kamu mau melakukan apa sama hidup kamu, itu urusan kamu. Mau bikin hidup berantakan sampai nggak berbentuk juga silakan. Aku nggak punya cita-cita jadi malaikat pelindung kamu.”“Kalau begitu, jangan ikut campur!”“Lah, masalahnya kamu ikut campur ke hidup aku!” Ryn langsung menoleh tajam. “Kamu tuh kenapa, sih? Hidup kamu kurang kerjaan banget sampai harus ngurusin bisnis aku? Aku punya restoran, kamu sabotase. Aku cari uang, kamu bikin orang takut makan di tempatku. Aku berusaha bangun bisnis baik-baik, kamu malah sibuk nyari cara supaya semuanya berantakan. Memangnya aku pernah datang ke r
“Mau ke mana kamu, Jihan? Buru-buru banget?”Jihan yang baru keluar dari klub langsung menghentikan langkahnya. Jam digital di dasbor mobil Ryn menunjukkan pukul tiga lewat beberapa menit, dan suasana di depan Velvet Room mulai lengang.Sebagian pengunjung sudah pulang, sementara beberapa lainnya masih bergerombol di dekat pintu masuk.Jihan sendiri berjalan sempoyongan dengan riasan yang mulai berantakan. Gerak-geriknya tidak teratur, emosinya tampak naik turun, dan laki-laki yang berjalan di sampingnya sesekali harus menahan lengannya agar dia tidak kehilangan keseimbangan.“Jangan ganggu aku, Ryn!” bentak Jihan dengan emosi yang mendadak meledak. Dia melotot seolah-olah Ryn baru saja mengumumkan kebangkrutan seluruh keluarganya.Ryn mengangkat kedua tangan. “Lho, aku belum ngomong apa-apa, kamu udah emosi. Santai, dong. Darah tinggi nanti.”“Pergi sana!”“Ya ampun, galak banget. Aku cuma mau ngobrol.” Ryn kemudian melirik lelaki yang berdiri di samping Jihan. Penampilannya cukup me
Perempuan bergaun merah itu mendongak. “Iya? Ada apa?”“Bisa ngobrol sebentar nggak? Di tempat yang agak sepi,” pinta Ryn sedikit memohon.Perempuan itu mengerutkan kening, tampak curiga. “Maaf, Mbak, saya lagi kerja.”“Sebentar aja. Nggak sampai lima menit, kok. Aku nggak akan menyita waktu kamu lama-lama.”Kalimat itu terdengar meyakinkan, terutama karena Ryn mengucapkannya dengan senyum manis yang biasa dipakai untuk menghadapi pelanggan rewel. Bedanya, pelanggan Aozora biasanya mengeluhkan pesanan yang terlambat, sedangkan kali ini dia hendak meminta bantuan untuk mengorek urusan orang lain di klub malam. Perkembangan karier yang cukup menarik, kalau dipikir-pikir.Karena Ryn terus tersenyum dengan sikap yang sulit ditolak tanpa terlihat kasar, perempuan itu akhirnya mengikuti langkahnya menuju toilet perempuan.Begitu mereka masuk, Ryn memastikan tidak ada orang lain yang berdiri terlalu dekat sebelum berbalik menghadapnya.“Mau bantu aku?” tanya Ryn.“Bantu apa dulu, Mbak?”“Aku
Senyum Jihan tidak langsung hilang, tetapi sorot matanya berubah tajam. “Bisnis apa? Jangan asal nuduh. Kalau nggak punya bukti, lebih baik diam.”“Justru aku ke sini buat cari bukti.”“Bukti yang nggak akan pernah kamu dapatkan, bahkan kalau kamu bersujud di kaki aku.” Jihan membetulkan tali tasnya. “Maaf, aku sibuk. Nggak ada waktu buat meladeni perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga aku, apalagi perempuan yang merebut tunangan aku.”Ryn memiringkan kepala, menahan keinginan untuk tertawa mendengar tuduhan yang masih saja diulang Jihan setelah sekian lama. “Kamu masih bahas itu? Aku sampai lupa kapan terakhir kali kamu punya bahan hinaan baru.”Jihan menoleh dengan tatapan tajam, jelas tidak suka dengan cara Ryn menanggapinya.Namun, sebelum sempat membalas, Ryn lebih dulu melanjutkan dengan nada ringan yang justru terasa menusuk. “Kalau semua masalah hidup kamu masih mau ditimpakan ke aku, silakan. Tapi jangan sampai kamu lupa bedain urusan pribadi sama keselamatan orang la
“Jihan?” ulang Ryn, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Kok kesimpulannya ke situ? Memang dia punya motif yang jelas, tapi kita nggak bisa asal nuduh. Kalau ternyata salah, ini malah bisa jadi bumerang buat kita.”“Saya setuju, Mbak. Makanya saya belum berani menyimpulkan dia sebagai otaknya sebelum bukti-buktinya lengkap.” Naufal menggeser tablet ke tengah meja, lalu membuka rekaman yang tadi mereka bahas. “Barusan tim saya mengabari kalau orang yang menyerahkan bungkusan kepada karyawan dapur itu adalah mantan sopir Jihan. Kami sudah mencocokkan identitasnya dengan data yang kami punya.”Ryn menatap layar tablet itu cukup lama. “Mas Naufal yakin orangnya sama?”“Tim sudah memeriksa identitasnya, Mbak. Ada beberapa hal yang cocok, termasuk riwayat pekerjaannya. Kami juga menemukan komunikasi antara dia dan karyawan dapur yang sekarang sedang diperiksa. Memang belum cukup untuk membuktikan Jihan yang menyuruh mereka, tapi keterkaitan ini tidak bisa diabaikan.”Ryn menyandarkan pun
Naufal memperbesar gambar pada layar. Kualitas rekamannya tidak terlalu bagus, tetapi sosok seorang karyawan dapur masih bisa dikenali dari seragam yang dikenakannya.Dalam rekaman tersebut, karyawan itu terlihat berdiri di pinggir jalan yang terhubung dengan pintu belakang, lalu menerima sebuah bungkusan kecil dari seseorang.Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar, dia memasukkan bungkusan tersebut ke dalam saku seragamnya sebelum kembali masuk ke area dapur.“Kami belum bisa memastikan isi bungkusan itu hanya dari rekaman. Namun, setelah kejadian tersebut, ada beberapa aktivitas lain yang membuat kami semakin curiga,” jelas Naufal.Ryn memperhatikan rekaman itu sekali lagi. Dadanya terasa sesak membayangkan kemungkinan bahwa seseorang sengaja merusak makanan pelanggan demi menjatuhkan Aozora.Jika dugaan itu benar, masalah ini bukan lagi sekadar serangan terhadap bisnisnya. Ada pelanggan yang mengalami gangguan kesehatan, sementara puluhan karyawan yang tidak tahu apa-ap
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere







