Se connecter“Ya udah,” gumam Ryn kesal sambil mematikan layar ponselnya. “Nggak jadi.”Perawat yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya langsung menoleh. “Nyonya?”“Nggak jadi periksa.” Ryn menyandarkan tubuh ke sofa dengan wajah masam. “Katanya suamiku mau nemenin, sekarang malah nyuruh aku pergi sama orang lain.”“Tapi jadwal pemeriksaannya sudah dibuat, Nyonya.” Perawat itu mencoba membujuk.“Batalin aja.” Ryn menarik selimut tipis yang baru saja disampirkan perawat hingga menutupi sebagian tubuhnya. “Aku nggak mau.”Perawat itu terdiam. Dia tahu Ryn bukan sedang benar-benar menolak pemeriksaan karena tidak mau menjaga kesehatan, melainkan sedang merajuk karena Kylar tidak bisa menemaninya.Namun membujuk perempuan hamil yang sedang kesal jelas bukan perkara mudah, apalagi sejak tadi pagi Ryn memang terlihat kelelahan.“Ngapain diperiksa kalau ayahnya aja nggak ada,” gerutu Ryn.Perawat tersebut tidak lagi membantah. Dia hanya menghela napas kecil, lalu membiarkan Ryn berbaring di sofa. Bebe
“Mas, hari ini jadi nemenin kontrol?” suara Ryn terdengar dari atas ranjang ketika Kylar baru saja selesai mengenakan pakaian golf. “Kata Om Gala, kemungkinan kita udah bisa lihat jenis kelaminnya.”Biasanya Gala hanya menerima konsultasi pada hari kerja, tetapi karena jadwal pemeriksaan Ryn memang sudah dipantau ketat sejak awal kehamilan, dokter itu sengaja membuka satu slot konsultasi di akhir pekan agar Kylar tidak perlu meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Kebetulan pula pemeriksaan kali ini bertepatan dengan usia kandungan Ryn yang memasuki dua puluh minggu.Dua puluh minggu.Bagi Ryn, waktu terasa berjalan sangat lambat. Sejak pulang dari Jepang, sebagian besar harinya lebih banyak dihabiskan di kamar. Kondisinya memang sempat membaik, tetapi mual dan muntah masih sesekali datang tanpa aba-aba, sementara kandungannya tetap membutuhkan pengawasan.Banyak hal yang biasanya bisa dia lakukan dengan mudah terpaksa harus dilewatkan, bahkan ketika Lala melahirkan bayi laki-laki, Ry
“Dia mau apa tadi?” tanya Kylar begitu mereka sudah berada di dalam mobil menuju bandara. Nada suaranya terdengar biasa, tetapi sejak mobil meninggalkan hotel, pandangannya beberapa kali sempat melirik Ryn yang duduk di sampingnya.“Dia cuma kasih kartu nama.” Ryn menyandarkan kepala ke jok, masih terlalu lelah untuk banyak bergerak. “Katanya kalau nanti aku butuh bantuan atau ada masalah yang nggak bisa aku selesaikan sendiri, aku bisa hubungi dia. Dia juga bilang punya kenalan yang mungkin bisa bantu.”Kylar meliriknya sekilas. “Bantuan apa?”“Kayaknya bantuan hukum.” Ryn menguap kecil. “Mungkin karena waktu itu dia dengar kita ribut di restoran. Aku kan sempat ngomong macam-macam di depan dia. Mungkin dia pikir masalah kita serius dan aku bakal benar-benar pergi dari kamu atau semacamnya.”Rahang Kylar mengeras tipis.Jadi laki-laki itu mendengar sedikit pertengkaran mereka, lalu merasa perlu ikut campur sejauh itu?Mereka bahkan baru bertemu sekali. Tidak tahu apa-apa tentang hubu
“Mas, lemes banget aku.”Ryn mengeluh keesokan harinya setelah semalaman hampir tidak bisa beristirahat karena mual dan muntah yang datang berkali-kali.Bahkan sejak pagi, Kylar sudah memanggil perawat untuk datang ke kamar hotel agar Ryn tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit. Setelah diperiksa, cairan infus dipasang sementara di kamar untuk membantu menjaga kondisi tubuhnya yang mulai kekurangan cairan.Kylar yang sedang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas langsung menoleh. Dia membawa gelas itu ke ranjang, lalu duduk di tepi kasur tempat Ryn bersandar setengah rebah dengan kepala bertumpu pada headboard.“Makanya kita pulang ke Indonesia lebih cepat, ya? Kalau di rumah aku lebih tenang. Kita bisa minta Om Gala periksa langsung, atau kalau perlu kita sewa perawat buat datang ke rumah,” bujuk Kylar.“Sayang banget.” Ryn menerima gelas tersebut dengan kedua tangan. “Jadinya malah hambur-hamburin uang.”“Kamu masih mikirin uang?”“Ya masa nggak?” Ryn menyesap jus itu perlahan. Baru dua
“Apa?” Kylar muncul dari arah kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Dia belum sempat mengenakan pakaian dan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggang. “Kenapa?”Ryn langsung menunjuk meja makan dengan wajah berbinar. “RUJAK CINGUR!”Kylar berhenti melangkah. Melihat ekspresi istrinya, sudut bibirnya otomatis terangkat puas.“Katanya mau?” tanyanya seolah-olah dia sama sekali tidak baru saja merepotkan Kael untuk mendapatkan makanan khas Surabaya di tengah Tokyo.Ryn berjalan cepat menghampirinya, lalu memeluk pinggang suaminya tanpa pikir panjang. “Mas! Aku kira kamu cuma ngomong doang.”“Aku pernah nggak nurutin kamu?” Kylar mengusap punggung istrinya sambil menahan senyum.Ryn mendongak. “Pernah.”Senyum Kylar langsung menghilang. “Kapan?”“Tadi. Waktu aku bilang mau cowok Jepang.”Kylar memicingkan mata. “Itu bukan ngidam. Itu ancaman.”Ryn langsung tertawa. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan kembali melirik meja makan. “Aku makan sekarang, ya?”Kylar mengang
“Ya, jangan, Pi!” protes Kylar spontan sambil melirik bagian bawah tubuhnya seolah ancaman itu benar-benar masih mungkin dilakukan. “Pokoknya nanti aku ceritain semuanya, lengkap. Duduk masalahnya juga.”“Terus Ryn sekarang di mana? Kamu udah ketemu dia?” Kael langsung memberondong dengan pertanyaan berikutnya.“Udah. Dia lagi tidur.” Kylar melirik ke arah ranjang sebelum melanjutkan, “Kemarin sempat pingsan.”“APA?” Suara Kael langsung meninggi. “Bener-bener kamu, Kylar! Kamu ngapain Ryn sampai pingsan begitu?”Kylar mendadak diam. Dia tentu tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya di kamar hotel. Kalau sampai Kael tahu dirinya sempat memaksa Ryn ketika emosi mereka sedang sama-sama kacau, bisa-bisa bukan hanya ancaman sunat yang akan keluar. Bisa-bisa warisan keluarga benar-benar ikut dibicarakan.“Istriku kecapekan, Pi,” jawab Kylar akhirnya, memilih bagian yang paling aman untuk diceritakan. “Soalnya sekarang dia lagi hamil.” Di seberang sana mendadak sunyi.Kylar menunggu
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap







