Se connecterPerempuan itu terdiam sesaat sebelum tersenyum sopan. “Saya mencari Mr. Kylar.”Ryn kembali memperhatikannya dari atas sampai bawah sebelum bertanya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dingin, “Kamu siapa?”Perempuan itu tampak hendak menjawab, tetapi sebelum sempat membuka mulut, suara langkah kaki Kylar terdengar dari belakang Ryn.“Sayang, siapa yang datang?”Ryn tidak langsung menoleh. Tatapannya masih tertuju pada perempuan di depannya, sementara perempuan itu justru lebih dulu melihat melewati bahu Ryn. Begitu pandangannya bertemu Kylar, ekspresinya berubah sedikit, lalu senyum sopan kembali muncul di wajahnya.“Oh, Mr. Kylar.”Kylar yang baru sampai di dekat pintu langsung berhenti. Wajahnya sempat menunjukkan keterkejutan melihat Elena sudah berdiri di depan rumah, lalu pandangannya berpindah kepada Ryn.“Elena?”Ryn perlahan menoleh kepada suaminya, kemudian kembali melihat perempuan di hadapannya. Jadi ini Elena?“Elena, kenalkan, ini istri saya, Ryn.” Kylar memperkenal
Beberapa saat kemudian, suasana rumah perlahan kembali ramai. Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman, Ryn turun ke ruang makan dengan rambut yang masih sedikit lembap dan tubuh yang terasa jauh lebih ringan setelah membersihkan diri.Begitu sampai di lantai bawah, dia mendapati kedua anaknya sudah duduk di meja makan sambil menunggu Kylar menyelesaikan makan malam.Aroma pasta yang sedang dimasak memenuhi ruangan, membuat Reynash beberapa kali melongok ke arah dapur dengan tidak sabar, sementara Lucius duduk tenang di salah satu kursi dengan sebuah buku terbuka di tangannya.“Kak Luc! Kamu lagi baca apa?” tanya Reynash penasaran sambil menggeser kursinya sedikit mendekat.“Aku lagi baca tentang paus,” jawab Lucius datar tanpa mengangkat wajah dari bukunya.“Wah? Mana? Aku mau lihat ikan paus!” Reynash langsung ikut melongok ke halaman buku, bahkan hampir menempelkan wajahnya ke bahu sang kakak.Lucius akhirnya mengangkat wajah dan menatap adiknya beberapa detik. “Paus bu
Kylar mengikuti arah pandang istrinya. “Itu punya Elena. Kemarin dia datang terus kakinya lecet, jadi aku pinjemin sandal. Kayaknya dia lupa bawa sepatu dia.”Ryn mengangguk kecil, tetapi pandangannya masih tertahan pada sepatu itu. “Dia sering datang ke sini?”“Nggak sering. Kemarin memang ada beberapa hal yang perlu diurus,” jawab Kylar santai sambil kembali mendorong koper menuju pintu.Ryn seharusnya tidak perlu bertanya lebih jauh. Dulu, ketika Naufal masih sering datang ke rumah mereka untuk membahas pekerjaan, dia juga tidak pernah mempersoalkan keberadaan laki-laki lain di rumah.Hanya saja, kali ini situasinya terasa berbeda. Ini rumah mereka di Paris. Ryn baru datang setelah berbulan-bulan hidup berjauhan dari suaminya, sementara perempuan yang bekerja paling dekat dengan Kylar ternyata sudah datang sampai ke rumah mereka. Entah kenapa detail kecil itu terasa lebih mengganjal daripada yang seharusnya.“Ngurus kamu?” sindir Ryn akhirnya ketika melihat kedua anak mereka sudah
“Bu Ratna, aku titip rumah, ya? Ibu jangan sedih selama aku pergi,” pamit Ryn kepada Ratna, kepala asisten rumah tangga yang sudah dia anggap keluarga sendiri.Semua persiapan akhirnya selesai. Urusan Aozora sudah Ryn limpahkan kepada Anne dan beberapa orang yang selama ini memang sudah membantunya menjalankan operasional, sehingga kepergiannya ke Paris tidak berarti restoran itu akan berhenti berjalan.Anak-anak juga sudah menyelesaikan masa preschool mereka dan akan melanjutkan pendidikan dasar di Paris sesuai rencana Kylar.Sebelum berangkat, Ryn bahkan sudah memastikan kondisi kehamilannya kepada Gala. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi mereka sehat dan Gala tidak melihat masalah dengan penerbangan selama Ryn menjaga kondisi tubuh, cukup minum, tidak terlalu banyak bergerak, serta mengikuti beberapa hal yang sudah dia ingatkan.Jadi secara teknis, tidak ada lagi alasan untuk menunda.Yang tersisa hanya perasaan berat meninggalkan Indonesia.“Ibu pasti kangen sama Nyonya, dan anak-
“Mas, kenapa tiba-tiba harus pindah?”Ryn bertanya lewat panggilan telepon setelah memastikan Reyansh dan Lucius sudah tertidur di kamar mereka.Malam sudah cukup larut, dan sekarang dia berada sendirian di kamar utama, duduk bersandar di kepala ranjang dengan satu tangan mengusap perutnya yang semakin besar.Sejak menerima pesan Kylar tadi, pikirannya tidak berhenti bertanya-tanya. Pindah ke Paris bukan keputusan kecil, apalagi jika itu berarti membawa dua anak mereka dan seluruh kehidupan yang selama ini sudah mereka bangun di Indonesia.“Nggak tiba-tiba,” jawab Kylar dari seberang. Suaranya terdengar lebih serius daripada biasanya. “Aku udah mikirin ini dari lama. Dan kayaknya ini keputusan yang tepat. Aku bisa lebih tenang kerja kalau kamu sama anak-anak tinggal di sini.”Ryn mengernyit. “Di Paris?”“Iya.”“Terus Aozora?”“Kamu masih bisa tetap pegang dari sini. Tapi kalau kamu pindah, kamu nggak harus bolak-balik terus. Kita bisa atur semuanya.”Ryn terdiam sebentar. Ada bagian d
Kylar tetap tenang, tetapi tatapannya tidak lagi sehangat beberapa menit sebelumnya. “Saya menghargai perhatian kamu. Tapi urusan makan saya bukan tanggung jawab kamu sampai harus memasak di rumah saya.”Elena menundukkan kepala sedikit. “Maaf, Mr. Kylar. Saya tidak bermaksud melewati batas.”“Saya tahu.” Nada Kylar sedikit melunak, tetapi sikapnya tetap tegas. “Kita bekerja bersama. Saya ingin hubungan kita tetap sebatas itu.”“Baik.”Kylar mengangguk lalu menyerahkan kembali map yang sudah ditandatangani. “Ini sudah selesai. Besok pagi kirim ke legal.”Elena menerima map tersebut dengan kedua tangan, lalu berdiri. “Baik, Mr. Kylar.”Dia berbalik hendak pergi, tetapi sebelum mencapai pintu, Kylar kembali memanggilnya. “Lena.”Elena menoleh.“Kalau ada berkas yang harus saya tanda tangan lagi, kirim ke ruang kerja atau beri tahu saya lewat pesan. Tidak perlu datang ke rumah kalau bukan sesuatu yang benar-benar mendesak.”Elena mengangguk pelan. “Saya mengerti.”“Bagus.”Elena kemudian
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke ar
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere







