로그인Untungnya Kylar berhasil menangkap tubuh istrinya sebelum perempuan itu jatuh membentur lantai.“Sayang. Ryn, buka mata.” Tangan Kylar bergerak cepat menyentuh pipi istrinya, tetapi tidak ada respons selain napas pelan yang masih terasa di dekat jemarinya. Rasa panik yang sejak tadi bercampur dengan amarah dan frustrasi seketika berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.“Sir, is she all right?” Seorang staf hotel yang kebetulan melintas berhenti beberapa langkah dari mereka.Kylar langsung mengangkat wajah. “Call an ambulance. She's unconscious. Move!”Staf tersebut tampak terkejut melihat kepanikan di wajah pria itu. Dia segera mengangguk dan menekan tombol radio di pundaknya. “Of course, sir. I'll call one immediately.”“Tell them to hurry,” kata Kylar cepat. “We don't have time.”Sambil berbicara ke alat komunikasinya, staf itu mendekat karena melihat Kylar sedikit kepayahan. “Sir, let me help you carry her.” Kylar menoleh tajam. “No.”Staf itu terdiam.“I said no.” Nada Kyl
Ryn langsung mendorong bahu Kylar, tetapi pria itu justru menangkap tangannya. Dalam satu gerakan, tubuh Ryn terdorong mundur hingga terlentang di atas ranjang.Sebelum perempuan itu sempat bangkit, Kylar sudah menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala dengan satu tangan. Tubuh pria itu menunduk di atasnya tanpa benar-benar menekan seluruh berat badannya, tetapi cukup dekat untuk membuat Ryn kesulitan menghindar ketika Kylar kembali membungkam bibirnya.Ryn langsung memberontak. Dia mencoba menarik kedua tangannya, memalingkan wajah, bahkan meliukkan tubuh ke samping untuk mencari celah agar bisa lepas, tetapi Kylar seolah sudah terlalu lama kehilangan kesabaran untuk membiarkannya kabur lagi.Ketika Ryn berhasil mengalihkan wajah, pria itu menahan dagunya agar kembali menatapnya. Begitu perempuan tersebut membuka mulut untuk memprotes, Kylar justru menangkap bibirnya lagi, memperdalam ciuman itu seolah benar-benar berniat menghentikan semua kata yang sejak tadi berusaha kelu
“Sumpah, ya, kamu tuh ngeselin banget. Sana pesan kamar sendiri. Ngapain juga ngikutin ke kamar aku?”Ryn terus mengomel sambil membuka pintu kamar, tetapi pada akhirnya dia tetap bergeser memberi jalan.Kylar masuk tanpa banyak bicara, lalu menutup pintu di belakangnya.“Semua kamar penuh,” jawab Kylar sekenanya.Padahal sejak tahu Ryn menginap di hotel ini, Kylar sudah memastikan masih ada beberapa kamar yang tersedia. Dia hanya tidak berniat mengambil kamar sendiri. Setelah mencari istrinya seperti orang kehilangan akal, dia tidak mungkin datang sejauh ini hanya untuk tidur sendirian di kamar lain. Kylar menjatuhkan tubuh ke sofa yang berada di area duduk kamar itu sambil mengembuskan napas panjang. Dia mengira Ryn akan duduk di sebelahnya. Namun istrinya justru berjalan melewatinya dan memilih duduk di tepi ranjang.Kylar menatap Ryn. Lalu menatap jarak di antara mereka.Kamar itu terlalu besar untuk percakapan seperti ini. Sofa dan ranjang berada cukup jauh, dipisahkan oleh area
Kylar terdiam.Jayden melirik Ryn, lalu Kylar, tampak jelas menyadari bahwa dia baru saja duduk di tengah sesuatu yang jauh lebih rumit daripada obrolan antar-turis Indonesia.Sementara Ryn kembali meraih gelas minumnya seolah sama sekali tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan sempat menyesap minuman itu dengan tenang sebelum menambahkan, “Kalau Anda mau mencari seseorang, sepertinya Anda salah meja.”Tatapan Kylar tidak bergeser sedikit pun darinya.“Ryn.”Ryn akhirnya menoleh, lalu mengangkat sebelah alis. “Oh, jadi Anda tahu nama saya? Maaf, tapi saya benar-benar nggak ingat pernah bertemu dengan Anda.”Kylar mengembuskan napas panjang. Wajahnya masih tenang, tetapi Ryn mengenalnya terlalu baik untuk tidak menyadari rahang pria itu mulai mengeras. “Sayang, jangan begini.”“Jangan panggil saya begitu.” Ryn langsung meletakkan gelasnya. Kali ini senyum di wajahnya benar-benar hilang. “Suami saya nggak ada di sini.”Kalimat itu membuat Jayden perlahan meluruskan punggungnya.Sedangkan Kyla
Kylar pikir caranya berhasil membuat Ryn menghubunginya?Oh, jangan harap.Gengsi Ryn saat ini rasanya sudah lebih tinggi daripada Tokyo Skytree.Sudah pria itu yang mengkhianatinya, sekarang dia juga harus menghubungi Kylar untuk meminta kartu kreditnya dibuka kembali? Enak saja.Lalu apa? Dia harus berkata, ‘Mas, kartuku nggak bisa dipakai. Tolong dibuka, ya?’Sementara Kylar mungkin akan duduk di rumah sambil merasa rencananya berhasil?Mimpi.Ryn masih punya harga diri. Dan, yang lebih penting, dia masih punya uang.Hello, dia bukan Ryn si anak Account Payable yang harus menghitung pengeluaran sebelum membeli sesuatu. Sekarang dia adalah pemilik Aozora, dengan sepuluh cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.Mana mungkin seorang pemilik bisnis tidak memiliki kartu debit dengan saldo sendiri hanya karena suaminya memutuskan memblokir kartu kredit yang selama ini digunakannya?Walaupun, kalau dipikir-pikir, modal awal Aozora memang berasal dari–Ish!Kenapa sih, ke mana-m
Naufal datang tidak lama kemudian. Begitu memasuki kamar utama dan melihat ekspresi Kylar yang sudah berubah gelap, dia langsung tahu pertengkaran kali ini bukan sesuatu yang akan selesai hanya dengan satu telepon, sekuntum bunga, atau permintaan maaf sederhana.“Cari taksi yang bawa Ryn dari rumah tadi,” perintah Kylar tanpa basa-basi. “Saya mau tahu taksinya ke mana, dia turun di mana, berangkat jam berapa, sampai jam berapa. Cari semuanya.”Sementara Naufal mulai menghubungi pihak-pihak yang bisa membantunya melacak kendaraan tersebut, Kylar kembali memeriksa semua kemungkinan yang ada di kepalanya.Ryn datang dari Surabaya, lalu meninggalkan rumah setelah melihat dirinya bersama perempuan itu. Kalau istrinya pergi dari rumah, kemungkinan paling masuk akal adalah kembali ke Surabaya.Kylar langsung membuka daftar kontak di ponselnya dan mencari nama Anne. Jarinya menekan tombol panggil tanpa ragu.Panggilan tersambung setelah beberapa dering.“Anne.”“Mas Kylar? Ada apa, Mas?” Suar
Pagi keberangkatan akhirnya tiba.Kylar sudah berdiri rapi dengan kaus polo hitam, celana panjang, dan jaket tipis yang menggantung di lengannya. Sebuah koper berukuran sedang berdiri di samping kaki pria itu, siap diba
“Tutupi?” ulang Kylar hati-hati. “Maksudnya gimana?”Kylar tidak mau buru-buru menyimpulkan. Karena mungkin saja Ryn belum tahu semuanya. Dia akhirnya meletakkan tabletnya ke samping lalu menepuk pelan kasur di sebelahnya.“Sini dulu, ngobrolnya sambil duduk,” ajaknya lembut.Ryn menurut. Dia duduk
‘Serius? Harus banget ketemu di sini? Di Jepang?’ gerutu Kylar dalam hati.Di sebelahnya berdiri seorang wanita dengan rambut ash grey bergelombang dan dress pink selutut yang terlalu mencolok untuk ukuran siang hari. Dan sosok itu sedang tersenyum lebar ke arahnya.“Kamu ngapain di sini?” tanya Ky
Awalnya Ryn hanya diam. Tidak langsung bereaksi. Hanya menatap layar itu, seolah butuh waktu untuk memahami apa yang sedang dia lihat. Namun detik berikutnya, notifikasi kembali bermunculan, bertumpuk satu sama lain, bergerak cepat tanpa memberi jeda.







