로그인“Ryn, sini!” panggil seorang wanita begitu Ryn baru saja memasuki area outdoor tempat acara arisan diadakan. “Kangen banget, sih. udah lama nggak ketemu.”Ryn tersenyum kecil sebelum menghampiri wanita itu dan duduk di kursi kosong di sebelahnya. “Kangen apaan? Orang kita tetanggaan.”Wanita itu adalah Anindita, istri Zaky. Keduanya sudah menikah sekitar dua tahun lalu setelah Benny menjodohkan putra angkatnya itu dengan salah satu putri dari keluarga konglomerat yang memang sudah lama memiliki hubungan baik dengan keluarga Hartono.Setelah pernikahan mereka, Anindita ikut tinggal bersama Zaky di rumah yang berada tepat di sebelah kediaman Ryn dan Kylar. Sejak saat itu, mereka pun cukup sering bertemu sebagai tetangga.Tentu saja Kylar menjadi salah satu orang yang paling bahagia ketika Zaky akhirnya menikah. Setidaknya, satu laki-laki yang dulu sempat membuat Kylar waswas sekarang sudah resmi menjadi milik orang lain. “Tetap aja. Kamu sekarang jarang kelihatan sejak hamil.” Anindita
Ryn sepertinya memang harus banyak bersyukur karena memiliki suami yang meskipun terkadang menyebalkan dan terlalu protektif, selalu memastikan dirinya berada dalam keadaan aman. Masa-masa sulit sejak trimester pertama hingga trimester kedua akhirnya berhasil mereka lewati dengan jatuh bangun. Berkali-kali Ryn harus masuk rumah sakit karena dehidrasi akibat muntah terus-menerus, bahkan berat badannya sempat turun cukup banyak. Namun, perlahan kondisinya mulai membaik. Kini usia kandungannya sudah menginjak tiga puluh minggu, dan dua jagoan kecil di dalam perutnya sepertinya mulai mau bekerja sama dengan ibunya. Setelah sekian lama hanya bisa beristirahat di rumah, hari ini Ryn memutuskan kembali ke restoran. Keputusannya sebenarnya sudah lama dia pikirkan, terlebih karena selama berbulan-bulan dirinya tidak ikut campur dalam operasional.Sayangnya, begitu kembali melihat laporan dan kondisi di lapangan, Ryn baru menyadari satu hal yang membuat kepalanya pening, omzet beberapa cabang
“Nggak apa-apa, Nek. Sesekali,” jawab Kylar sebelum Ryn sempat membuka suara.Keduanya kini sudah duduk di sofa ruang keluarga, dengan Ryn di tengah dan Kylar di sebelahnya.Anjana menghela napas, lalu duduk di hadapan mereka. “Dengar Nenek baik-baik, Ryn. Makanan itu penting sekali untuk ibu hamil, apalagi kamu mengandung dua. Nenek justru heran kenapa Kylar membiarkan kamu makan makanan seperti itu.”Kylar mengernyit. “Dia cuma mau makan sedikit, Nek.”“Sedikit atau banyak tetap harus diperhatikan. Kamu juga jangan selalu menuruti semua keinginannya.” Anjana menatap Ryn yang sejak tadi hanya diam sambil memeluk kantong makanannya. “Kamu juga harus bisa menahan keinginan, Ryn. Nenek tadi sudah bawa makanan yang lebih baik. Ada sup salmon dengan sayuran. Hangat, bergizi, cocok untuk ibu hamil.”Baru mendengar kata sup salmon, wajah Ryn langsung memucat. Aroma kuah yang samar-samar tercium dari wadah makanan di atas meja seketika membuat perutnya bergejolak. Dia menelan ludah, berusaha
“Saingan-saingan Ayah hari ini mau makan apa?” tanya Kylar begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil setelah pemeriksaan. Dia sengaja menggunakan nada ringan, berharap suasana hati istrinya sedikit membaik setelah mendengar kedua bayi mereka dalam keadaan sehat.“Nggak,” jawab Ryn singkat sambil menyandarkan kepala ke jok.Kylar meliriknya. “Masih marah?”Ryn tidak menjawab.“Kan aku akhirnya tetap nemenin kontrol.”“Bukan berarti itu menghapus dosa kamu, Mas.” Ryn menoleh dengan wajah masih masam. “Kalau soal kerjaan, aku masih bisa maklumi. Tapi ini golf. Golf, Mas!”Kylar menghela napas pelan. Dia sebenarnya sudah menduga pembahasan itu belum selesai. “Aku, ‘kan, golf sama klien.”“Iya, aku tahu.” Ryn mengembuskan napas, lalu menatap ke luar jendela. “Aku juga nggak pernah bilang kamu nggak boleh kerja atau nggak boleh ketemu klien. Aku tahu golf kamu itu bagian dari kerjaan. Yang aku kesel itu kenapa kamu nggak bisa atur waktunya?”Kylar terdiam.“Apalagi sekarang weekend,” lanjut
“Ya udah,” gumam Ryn kesal sambil mematikan layar ponselnya. “Nggak jadi.”Perawat yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya langsung menoleh. “Nyonya?”“Nggak jadi periksa.” Ryn menyandarkan tubuh ke sofa dengan wajah masam. “Katanya suamiku mau nemenin, sekarang malah nyuruh aku pergi sama orang lain.”“Tapi jadwal pemeriksaannya sudah dibuat, Nyonya.” Perawat itu mencoba membujuk.“Batalin aja.” Ryn menarik selimut tipis yang baru saja disampirkan perawat hingga menutupi sebagian tubuhnya. “Aku nggak mau.”Perawat itu terdiam. Dia tahu Ryn bukan sedang benar-benar menolak pemeriksaan karena tidak mau menjaga kesehatan, melainkan sedang merajuk karena Kylar tidak bisa menemaninya.Namun membujuk perempuan hamil yang sedang kesal jelas bukan perkara mudah, apalagi sejak tadi pagi Ryn memang terlihat kelelahan.“Ngapain diperiksa kalau ayahnya aja nggak ada,” gerutu Ryn.Perawat tersebut tidak lagi membantah. Dia hanya menghela napas kecil, lalu membiarkan Ryn berbaring di sofa. Bebe
“Mas, hari ini jadi nemenin kontrol?” suara Ryn terdengar dari atas ranjang ketika Kylar baru saja selesai mengenakan pakaian golf. “Kata Om Gala, kemungkinan kita udah bisa lihat jenis kelaminnya.”Biasanya Gala hanya menerima konsultasi pada hari kerja, tetapi karena jadwal pemeriksaan Ryn memang sudah dipantau ketat sejak awal kehamilan, dokter itu sengaja membuka satu slot konsultasi di akhir pekan agar Kylar tidak perlu meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Kebetulan pula pemeriksaan kali ini bertepatan dengan usia kandungan Ryn yang memasuki dua puluh minggu.Dua puluh minggu.Bagi Ryn, waktu terasa berjalan sangat lambat. Sejak pulang dari Jepang, sebagian besar harinya lebih banyak dihabiskan di kamar. Kondisinya memang sempat membaik, tetapi mual dan muntah masih sesekali datang tanpa aba-aba, sementara kandungannya tetap membutuhkan pengawasan.Banyak hal yang biasanya bisa dia lakukan dengan mudah terpaksa harus dilewatkan, bahkan ketika Lala melahirkan bayi laki-laki, Ry
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry







