Rocella terpaku. Bibirnya sempat tercekat, matanya melebar sesaat sebelum kilat marah melintas di wajahnya. “T-tentu, Yang Mulia. Aku tidak memiliki apa yang kau miliki,” ujarnya kaku, bahunya sedikit menegang. Madeleine membalas dengan senyum tipis, seolah kalimat barusan tidak berarti apa-apa. Namun ia tahu, Rocella bukan tipe yang mundur tanpa mencoba sekali lagi. Benar saja. Wanita itu berdehem pelan. Tatapannya yang semula terangkat perlahan turun, berhenti di kerah gaun Madeleine yang hari itu tertutup lebih tinggi dari biasanya. “Yang Mulia,” Suaranya kini lebih lembut, tapi ada tekanan di baliknya. “Apakah kau terluka?” Nada suara Rocella sama sekali bukan kekhawatiran. Itu rasa ingin tahu yang terlalu terang untuk disebut perhatian. “Aku hanya salah memilih kalung,” jawab Madeleine ringan. “Logamnya membuat kulitku iritasi.” Penjelasan itu sederhana. Cukup untuk menutup satu pintu tanpa membuka celah lain. Rocella mengangguk pelan, meski sorot matanya belum se
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-12 อ่านเพิ่มเติม