Pagi itu, sinar matahari pagi menyusup lewat celah gorden tipis, membentuk garis-garis emas lembut di atas seprai yang sudah kusut semalaman. Nadia terbangun lebih dulu, tubuhnya masih telanjang, hangat, dan sedikit lengket dari sisa-sisa malam yang panjang. Dia memandang Wiro yang masih tertidur di sampingnya—wajahnya damai, bibir sedikit terbuka, dada naik-turun pelan, dan satu tangannya tergeletak santai di atas perut Nadia.Nadia tersenyum kecil, merasakan getar hangat di perut bawahnya hanya dengan melihat Wiro begitu. Dia menggeser tubuh pelan, naik ke atas Wiro tanpa membangunkannya dulu. Duduk di pinggang pemuda itu, Nadia membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah Wiro. Perlahan, dia menggesekkan bagian paling sensitifnya ke perut Wiro yang rata—gerakan kecil, basah, hanya untuk membangunkan sensasi di dirinya sendiri.Wiro menggeliat pelan, matanya terbuka setengah, masih sayu. Begitu melihat Nadia di atasnya, senyum malas langsung muncul di bibirnya.“Pagi,
続きを読む