MasukElvano memperhatikan Kiran yang baru saja minum obat setelah dia paksa makan siang.“Apa benar-benar tidak perlu ke rumah sakit? Badanmu masih hangat.” Elvano menatap cemas, apalagi Kiran masih mengeluh agak pusing.Kiran baru saja selesai meneguk air putih. Dia menoleh pada Elvano yang menatapnya.“Tidak usah. Aku sudah lebih baik. Istirahat setengah hari lagi juga besok membaik.” Kiran tersenyum lembut setelah membalas. “Kamu kembalilah ke perusahaan, aku sudah baik-baik saja.” Kiran meletakkan gelas di atas meja setelah selesai bicara.Elvano mencebik. “Mana bisa aku meninggalkanmu?”Kening Kiran berkerut dalam mendengar balasan Elvano.“Ayahmu memintaku menjagamu, itu artinya sebelum dia kembali, aku tidak akan pergi.”Kiran sampai tak bisa berkata-kata mendengar penolakan Elvano.“Tapi aku mau istirahat.” Kali ini Kiran menatap serius.“Tidurlah. Aku akan berjaga, atau mau tidur di sini?” Dengan tenang Elvano menepuk pahanya.Elvano meminta Kiran berbaring berbantal pahanya.Kira
Setelah mobil terparkir sempurna.Noah turun dari dalam mobil. Dia memang sengaja tidak mau diturunkan di depan restoran agar bisa mendekati Surya.Begitu kedua kakinya menapak di luar mobil. Senyum Noah langsung mengembang saat Surya menatap ke arahnya.“Anda lagi.” Surya sedikit membungkukkan tubuhnya, menyapa dengan senyum ramah pada pria yang beberapa kali datang di restoran ini.Senyum Noah masih terangkat di bibirnya ketika mendekat ke Surya.“Anda kerja dari pagi sampai malam, Pak?” Noah mulai berbasa-basi.Surya tersenyum canggung. Baru kali ini ada pelanggan restoran yang mau mengajak bicara pekerja seperti dirinya.“Sebenarnya hanya malam saja. Tapi karena teman saya harus mengantar istrinya cek kehamilan di rumah sakit, jadi saya yang menggantikan.” Surya bicara dengan sopan.“Kiran berangkat bekerja?” Noah mulai memancing.Surya tidak cukup mengenal pria di depannya ini, sehingga dia tidak sepenuhnya jujur dengan membalas, “Iya.”Noah mengangguk-angguk.“Apa Anda mau makan
Ketika masih bicara, terdengar suara ponsel Kiran yang terus berdering.Tatapan Elvano dan Kiran sama-sama tertuju ke arah kamar.Kiran segera berdiri untuk melihat ponselnya.Sedang Elvano menatap dingin. Dia menebak siapa yang menghubungi Kiran lagi.Kiran masuk ke kamar.Dia mengambil ponsel lamanya, nama Adrian terpampang di layar.Kiran tidak langsung menjawab panggilan itu.Kiran menoleh ke pintu kamarnya sejenak. Elvano ada di sini, Kiran tidak mau menyinggung sang kekasih jika menjawab panggilan dari Adrian.Akhirnya, Kiran memilih memasukkan ponsel ke laci. Dia keluar dari kamar.Saat kembali ke ruang tamu.Kiran menatap pada Elvano yang sedang makan buah.“Kamu masih menggunakan nomor lamamu?”Kiran terkejut mendengar pertanyaan Elvano.Dia lebih dulu duduk di samping Elvano.Sengaja, kepala Kiran disandarkan di pundak Elvano.“Iya, buat jaga-jaga saja ada teman atau Bibi Anggit menghubungi, karena mereka tahunya nomor lamaku. Aku tidak memberitahu ke banyak orang soal nomor
Elvano membiarkan saja ponsel Kiran terus berdering. Sampai panggilan itu berakhir sendiri.Dia menoleh pada Kiran yang benar-benar tidak terganggu dengan suara ponsel.Elvano duduk di tepian ranjang.Menatap Kiran yang sangat pulas. Elvano mengulurkan tangan menyentuh kening Kiran.Masih hangat.Baru saja akan menarik kembali telapak tangannya, Elvano terdiam saat Kiran menahan telapak tangannya, lalu menyentuhkan ke pipi.“Tangan Ayah dingin, nyaman.” Suara Kiran begitu lirih.Bibir Elvano tersenyum kecil.“Dasar anak ayah,” gumam Elvano menatap gemas pada Kiran.Kekasihnya ini benar-benar tidak bisa lepas dari sosok ayahnya.Elvano membiarkan Kiran merasakan tangannya yang dingin, sampai perlahan genggaman tangan Kiran terlepas.Elvano bangun dari duduknya.Dia keluar dari kamar Kiran untuk menyiapkan buah dan kue yang dibawanya.Elvano sibuk di dapur saat mendengar suara Kiran memanggil Surya.“Ayah, aku masih mengantuk. Ayah di mana?”Kedua alis Elvano sampai tertarik ke atas.Di
Surya mendekap erat tubuh Kiran.Mata tuanya berkaca-kaca melihat putrinya ketakutan seperti ini.“Ada Ayah yang akan melindungimu di sini.” Napas Surya berembus berat.“Tidurlah, Ayah akan terus menemanimu.” Kiran mengangguk. Perlahan dia memejamkan mata, membiarkan pikirannya merasa aman berada dalam pelukan pria yang selama ini terus melindunginya.Keesokan harinya.Semalaman Surya tidur dengan posisi duduk di kursi samping ranjang untuk menemani Kiran.Dia benar-benar tidak meninggalkan Kiran, walau hujan reda sejak tengah malam tadi.Surya baru saja membuka matanya ketika sinar matahari mulai menelusup masuk dari celah jendela.Surya menegakkan tubuhnya, merenggangkan otot-otot tuanya yang kaku karena posisi tidur yang sangat tidak nyaman.Ketika menoleh ke arah Kiran, Surya langsung berdiri saat melihat wajah Kiran yang sangat pucat.“Kiran.” Tangan Surya terulur menyentuh kening putrinya.Mata Surya membola lebar merasakan tubuh putrinya yang sangat panas.Surya buru-buru kelua
Kiran berdiri. Dia terkejut melihat Noah ada di sini, di hadapannya.Kenapa pria ini di sini?“Anda.” Tidak tahu kenapa, Kiran tiba-tiba panik.Mungkinkah karena takut kalau Elvano tahu lalu cemburu?Noah tersenyum.“Tidak kusangka kita bertemu di sini.” Tatapan Noah lembut pada Kiran. “Kamu Kiran, ‘kan? Waktu itu Elvano Radjasa memanggilmu dengan nama itu. Kita belum berkenalan secara resmi.”Noah mengulurkan tangan ke Kiran.Kiran bingung. Dia ingin menolak, tetapi takut menyinggung Noah.Ayahnya bekerja di restoran ini, sedang Noah di sini pasti sebagai pelanggan.Jika Kiran tidak sopan, Kiran takut Noah mengadu dan pekerjaan ayahnya terkena imbasnya.Akhirnya, Kiran membalas uluran tangan Noah.“Aku Noah.” Senyum pria ini semakin lebar.“Kiran.” Kiran menarik cepat-cepat tangannya dari Noah.“Aku benar-benar tidak menyangka bertemu denganmu di sini.” Noah sengaja datang ke restoran itu lagi untuk memastikan kalau pria yang dia lihat sore tadi memang benar ayah Kiran.Dan, siapa sa
Dalam kebingungan yang menguasainya. Elvano melihat mata Kiran yang terpejam rapat ketika bibir mereka bersentuhan. Bahkan ini tak bisa dibilang berciuman, tetapi hanya menyentuhkan bibir sama sekali.Ketika Elvano merasakan tangan Kiran merayap di dadanya. Dengan cepat dia mencekal pergelangan tan
Dania tersentak. Tatapannya tertuju pada tangan Kiran yang sekarang berpindah memegang tali tas. Mata Dania menyipit, dia yakin tadi melihat Kiran menggenggam tangan Elvano.Telapak tangan Dania mengepal erat. Namun, dia bersikap biasa ketika memandang pada Elvano.“Selamat siang, Pak.” Dania sedik
Kiran berdiri di depan meja Elvano. Tangannya menyusun stopmap-stopmap di meja, tetapi tatapannya lurus menembus udara.Harus bagaimana sekarang?Kiran bingung, pikirannya tak bisa mencari jalan untuk mengatasi masalahnya.Bagaimana caranya Kiran meminta kalungnya dari Elvano?Napas Kiran begitu be
Kiran baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi saat mendengar Elvano bicara.“Jadi, aku ini atasanmu, ya?”Kiran menoleh pada Elvano yang sudah menatapnya. “Kalau bukan atasan, lalu apa?” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mana mungkin aku balas kamu mantanku, ‘kan?”Bibir Elvano terbuka







