Kelopak mata Kiran perlahan terbuka. Kepalanya seperti sulit digerakkan, tubuhnya terkulai tak bertenaga. Tangan Kiran terangkat pelan untuk menekan kepala, ketika itu dia baru menyadari kalau selang infus terpasang di lengannya. Mata Kiran mengedar, bau disinfektan yang begitu pekat, menyadarkannya jika berada di klinik perusahaan. Kiran bersiap bangun, tetapi urung ketika mendengar suara orang berbincang dari balik tirai. “Kamu tuh, El. Bisa-bisanya tidak tahu kalau karyawanmu sakit sampai kena malnutrisi begini. Dia sering kamu suruh lembur?” Kiran terdiam. Suara Ayudhia jelas-jelas dikenalinya. Matanya tertunduk, kondisinya ternyata bukan sekadar flu biasa. “Lembur itu biasa. Aku ini atasannya, bukan pengasuh yang tahu betul bagaimana kondisinya.” Jemari-jemari Kiran meremat selimut kala mendengar nada bicara Elvano yang terdengar tak acuh. “Dia sudah dewasa. Bagaimana kondisinya, dia yang tahu. Apa aku perlu tanya ke satu persatu karyawanku, apa mereka sehat atau tidak?”
続きを読む