Rendra melipat kedua tangannya di atas permukaan meja. Sorot matanya menembus tepat ke manik mata Irawan yang semakin gelisah.Irawan menarik napas pendek yang terdengar berat. Jemarinya merapikan jasnya yang kusut, lalu perlahan bangkit berdiri seraya menundukkan kepala dengan takzim."Saya mengerti poin Anda, Pak Presiden.""Keputusan bijak selalu menyelamatkan kapal yang sedang berlayar di tengah badai, Pak Irawan," sahut Rendra datar tanpa senyum sedikit pun.Irawan pamit undur diri dengan langkah kaku. Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat di belakang pria itu, Evan melangkah masuk tanpa suara dari pintu samping, membawa tablet kerja dan berkas harian."Pak," panggil Evan dengan nada hormat. "Apa anda ingin langsung menuju agenda berikutnya, atau …. “Rendra bangkit dari kursinya, membetulkan kancing jasnya yang terbuka. "Aku mau menemui Sera dulu.”Evan kemudian mengangguk, memersilahkan Rendra untuk menemui Sera lebih dulu.Langkah Rendra membawanya menyusuri selasar menuju l
Last Updated : 2026-10-27 Read more