Pagi itu, suasana meja makan di istana terasa lebih hening dari biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar mengepul hangat, namun Sera hanya mengaduk-aduk piringnya dengan sendok tanpa selera. Di seberang meja, Rendra memperhatikan gerak-gerik sang istri.Pria itu menarik napas pendek, lalu memasang raut wajah murung. Keningnya berkerut samar, bibirnya terkatup rapat, menampilkan ekspresi yang menyiratkan rasa bersalah mendalam."Sera," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan dan sedikit bergetar.Sera mendongak dari piringnya, menatap suaminya lurus. "Iya, Mas?"Rendra mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih jemari Sera dan menggenggamnya perlahan. "Aku benar-benar minta maaf soal wisuda lusa nanti. Rasanya aku menjadi suami yang tidak berguna karena tidak bisa berdiri di sampingmu di hari sepenting itu."Melihat tatapan sang suami yang tampak begitu redup dan terpukul, rasa kecewa yang sempat mengendap di hati Sera seketika luntur. Ia membalikkan telapak ta
Last Updated : 2026-10-20 Read more