Doni berdiri mematung di sudut toko, dikelilingi belasan tas belanjaan yang tergeletak di kakinya. Matanya terus melirik ke arah saku celana, menunggu getaran ponsel berikutnya yang terasa seperti detak bom waktu. Ancaman Siska adalah maut yang siap menjemput status mewahnya kapan saja."Gue harus gimana? Lima puluh juta ngga mungkin jatuh dari langit," batin Doni dengan napas yang mulai tidak beraturan. Setiap detik yang berlalu terasa sangat menyiksa.Di depannya, istrinya sedang tertawa bahagia bersama pria lain, sementara di sakunya, rahasia kotornya sedang mengancam untuk meledak dan memusnahkan segala kemewahan yang dia miliki.Keringat di punggung Doni semakin deras, menciptakan noda basah yang sangat jelas terlihat di balik kemeja birunya.Berbunyi berulang kali tanpa jeda, suara bising itu sangat mengganggu fokus Amara. Menoleh dengan tatapan penuh selidik, nyonya muda ini memicingkan mata kecokelatannya."HP kamu bunyi terus dari tadi! Si
Read more