"Sabar dulu, Sayang, aku mau kamu ngerasain setiap inci dari milikku ini dengan pelan-pelan. Aku ngga mau cuma sekadar keluar, tapi aku mau jiwa kita menyatu di dalam sini. Nikmati saja setiap tusukannya, Amara, karena cuma aku yang bisa bikin kamu merasa sehidup ini."Merespons permintaan tersebut, Adrian mengangkat satu kaki jenjang Amara dan menyandarkannya di pinggiran wastafel marmer. Posisi ini membuat area inti Amara terekspos sempurna dan siap menerima hantaman kasih sayang yang beringas.Dengan satu sentakan mantap yang penuh perhitungan, Adrian menghujamkan pusakanya hingga menyentuh batas terdalam rahim Amara."Ahhh, gila, kenceng banget jepitannya!" erang Adrian menengadahkan kepala dengan urat leher menonjol.Sensasi hangat dan sempit yang diberikan oleh Amara membuat kewarasan sang dokter nyaris terbang ke awang-awang. Dia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang sangat teratur, menciptakan suara kecipak air yang beradu dengan daging.Setiap tumbukan yang terjadi
Read more