“Yang Mulia, ada apa?” Anne mendekati Helena yang tampak berlari dengan kencang dari arah lorong istana barat. Peluh sudah membanjiri tubuhnya. Wajahnya pucat pasi bagai kunarpa. Napasnya juga memburu seolah dikejar waktu. “Anne,” suaranya rendah, napasnya terengah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mengintip mereka. Tak lama kemudian, ia meraih pergelangan tangan Anne, setengah menyeretnya untuk bicara di tempat yang sepi. Tubuh Helena gemetar meski ia berusaha mengatur napasnya agar normal. Baru saja ia mendengar berita buruk tentang penangkapan Baron Victor Moreau oleh pasukan bayangan. “Tenangkan dirimu, dulu, Putri,” bisik Anne tak kalah khawatir, melihat majikannya yang berwajah pias seperti melihat setan. Beberapa kali Helena menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia mengulanginya hingga tiga kali. Setelah merasa lebih baik, ia mulai bercerita. “Anne, aku sudah mendengar semuanya,” bisik Helena, suaranya rendah bernada khawatir. Anne me
Read more