“Cukup, Isabella,” Alex menatap tajam istrinya. “Ini bukan urusanmu. Berhentilah mencari perhatian. Kembali ke pavilion sekarang!” suaranya rendah tetapi penuh penekanan.Dan, kalimat itu berhasil mengikis harga diri Isabella. Wajah Isabella memerah karena amarah yang tertahan. Ke dua tangannya mengepal erat hingga urat-urat hijau kelihatan di punggung tangannya. Pertama, ia tidak suka cara Alex menegurnya dengan menyebutnya ‘mencari perhatian’. Ke dua, ia tidak suka Alex menginterupsi pada penyelidikan yang ia lakukan. “Pangeran Alex, dengar, Emma tidak bunuh diri. Dia …”Bahkan sebelum kalimatnya tuntas, Alex langsung menarik pergelangan tangannya keras. Ia setengah menyeretnya, membawanya keluar ruangan dingin itu. Tak peduli ia meronta. “Alex Harrington! Lepaskan!” pekik Isabella saat merasakan pergelangan tangannya dicengkram keras hingga memerah. Alex mendorong Isabella masuk ke dalam kereta, mengabaikan rontaannya. Barulah setelah melihat Isabella meringis, pria dingin itu m
Read more