“Yang Mulia, tabib istana datang,” lapor sang prajurit dengan nada ragu di ambang pintu Paviliun Honeysuckle.Isabella—yang baru saja mengompres pangeran, mengerutkan keningnya. “Siapa yang meminta tabib datang?”“Putri Helena, Yang Mulia. Beliau sangat khwatir,” jawab prajurit lalu mengantarkan sang tabib mendekati bibir pintu, melewati Isabella begitu saja. Isabella langsung menghadang jalannya. Ia bersedekap tangan di dada. “Kau tuli? Kotoran menyumbat telingamu? Aku sudah katakan, tidak perlu. Pangeran Alex sendiri yang melarangnya. Kondisinya sudah membaik. Beliau ada di bawah pengawasanku.” Prajurit itu saling melempar pandang dengan sang tabib. Mereka tampak dilanda bingung. Di istana ke duanya adalah hukum yang harus dipatuhi. Namun, Alex adalah hukum yang mutlak. Statusnya lebih tinggi ketimbang permaisurinya. “Pergilah! Sebelum Pangeran Alex bangun dalam kondisi mood yang buruk,” peringat Isabella sembari mengembuskan napas kasar. “Kalian tahu sendiri, bagaimana temperame
閱讀更多