“Hey, Nay! Kamu sibuk?” Tanya Dalia dari seberang sana dengan nada riang.“Yah, begitulah…” Naya mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke luar jendela kantornya. Sebenarnya dia tak benar-benar mengerjakan sesuatu, karena posisinya sebagai direktur bidang keberlanjutan dan warisan perusahaan hanya sekadar formalitas.Sedari tadi, Naya hanya mengecek data-data sejarah perkebunan teh milik keluarganya dari zaman kolonial, ternyata cukup menarik juga. Tapi selebihnya, dia tak bisa mengendalikan perusahaan sepenuhnya.Belum saja, pikir Naya. Pada saatnya nanti, ketika dia berhasil hamil dan punya anak, perusahaan ini akan kembali ke keluarganya dan semua itu berkat dirinya.“Kalau kamu tidak sibuk, aku mau ngajakin karaoke, malam ini setelah pulang kantor, gimana? Ayolah… plis… sekalian aku mau kenalin kamu sama pacarku, yang luar biasa itu lho…” tukas Dalia sambil cekikikan.“Oke, aku bisa kok.”“Nah, begitu dong! Oh ya, sekalian ajak Arman ya. Kita double date.”“Nggak bisa. Dia sib
Read more