Makan malam itu seharusnya sederhana.Amara duduk di meja kecil bersama Lily, piring-piring sudah setengah kosong, suara sendok beradu pelan dengan keramik.Lily bercerita tentang sekolahnya—tentang guru barunya, tentang gambar yang dia tempel di papan kelas—sementara Amara hanya sesekali menanggapi, pikirannya masih tersangkut pada hari yang panjang.Ketukan di pintu membuatnya terdiam.Satu ketukan. Pelan. Tapi cukup untuk membuat jantung Amara seolah terhenti sesaat.Ia berdiri lebih dulu, refleks. “Lily, duduk di sini dulu,” katanya cepat, lalu melangkah ke pintu.Begitu pintu terbuka, dunia Amara terasa menyempit.Noah berdiri di sana.Rapi, seperti biasa. Wajahnya sedikit lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu, tapi tatapan itu—tatapan yang dulu selalu membuatnya merasa pulang—masih sama. Amara langsung menegang, satu tangannya refleks menahan daun pintu, seolah tubuhnya menjadi penghalang.“Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya rendah, waspada.Noah tidak langsung menj
Read more