Sebastian pikir, dengan memaksa dirinya menjauh, semuanya akan kembali normal.Ia pikir satu minggu cukup untuk menenangkan diri. Cukup untuk menghapus bayangan wajah kecil itu dari kepalanya.Ternyata ia salah.Bukan hanya ia tidak bisa menjalani hari seperti biasa, tapi wajah Lily bahkan justru semakin jelas.Suara kecilnya, tawanya. Cara ia berbicara dengan polos. Semakin ia mencoba melupakan, semakin sering semua itu terngiang.Satu minggu sudah sejak makan siang itu.Bukannya mereda, rasa rindu itu justru menebal. Mengacaukan pikirannya.Tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak. Ia selalu terbangun pagi-pagi sekali, tidak peduli ia baru memejamkan mata satu jam atau belum tidur sama sekali.Dan tadi malam—ia benar-benar tidak tidur.Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika Sebastian akhirnya duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya kasar.Ia tidak tahan lagi.Pagi itu juga ia kembali ke sekolah.Bukan dengan jas ataupun dengan mobil mewahnya.Ia mengenakan pakaian biasa. Ram
Read more