Aku menoleh.Wajahnya benar-benar hancur kali ini. Tidak ada lagi sisa-sisa ketegasan yang biasa ia tunjukkan. Matanya merah, air mata terus jatuh tanpa henti.“Aku sungguh mencintai Ayahmu,” katanya lirih, hampir seperti pengakuan yang selama ini ia tahan.Aku terdiam.“Katakan padaku apa yang kamu inginkan,” lanjutnya tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut. “Aku akan mewujudkan semuanya.”Aku mengernyit.“Apa maksud Tante?”Dia menatapku dengan putus asa.“Perusahaanku… aku bisa memberikannya padamu,” ucapnya tergesa. “Bahkan semuanya… semua yang aku punya.”Aku benar-benar terpaku.“Kamu hanya perlu…” suaranya melemah sejenak, lalu dilanjutkan dengan gemetar, “menikah dengan salah satu kakak sepupumu itu. Maka semua akan jadi milikmu.”Dadaku seperti dipukul.Aku menatapnya tidak per
Read more