Share

Bab 30: Sisa Rasa

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-02-24 18:51:17

Rhea masih berdiri di ruang tengah apartemennya sambil memandang semua barang yang dibelikan oleh Justin.

Tas-tas belanja dengan logo emas mengkilap berjejer di atas sofa usang dan lantai marmernya yang sudah sedikit retak di sudut-sudutnya.

“Sialan kamu, Justin,” gumam Rhea dengan pelan.

Dia kemudian melemparkan tas kerjanya ke atas meja makan kecil yang kini juga sudah dikuasai oleh kotak sepatu bermerek.

Rhea berjalan melewati tumpukan barang itu dengan perasaan dongkol yang menggelegak di d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
udahlah Rhea lebih baik terima ajja percuma d kembalikan juga kan toh bakal berakhir d tempat sampah .sayang
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Udah sih terima aja Rhea toh Justin ngasih, bukan kamu yang minta.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 85: Aku jauh lebih Mencintaimu

    “Ini bukan cincin yang dipilihkan oleh sekretaris atau asisten. Aku memesan ini sendiri tiga bulan yang lalu, bahkan sebelum aku tahu pasti kamu akan kembali ke hidupku,” Justin mengambil cincin itu.“Jangan biarkan ketakutanmu menang atas cinta kita lagi. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjagamu lebih baik dari siapa pun.”Rhea menatap cincin itu, lalu beralih menatap wajah Justin yang penuh dengan harapan. Rasa ragu itu masih ada di sudut hatinya, namun kekuatan yang terpancar dari mata Justin seolah memberikan energi baru baginya untuk berani melangkah.“Apakah kamu yakin semuanya akan baik-baik saja?” tanya Rhea sekali lagi, mencari kepastian terakhir.“Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri, Rhea. Selama kamu di sampingku, tidak ada yang bisa menyentuhmu. Aku akan menjadi perisaimu, dan aku akan menjadi rumahmu,” Justin menggenggam jari manis kiri Rhea.“Jadi, maukah kamu menikah denganku dan membuat sepuluh tahun yang hilang itu terasa tidak berarti lagi

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 84: Lamaran Dadakan

    Angin malam yang berembus di balkon lantai tiga puluh dua itu terasa dingin, namun dekapan Justin di pinggang Rhea memberikan kehangatan yang kontras.Cahaya lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawah mereka tampak seperti hamparan berlian yang tak berujung, tetapi fokus Justin hanya tertuju pada wanita yang kini bersandar di dadanya. Dia memutar tubuh Rhea secara perlahan agar mereka bisa saling berhadapan.“Rhea,” panggil Justin dengan suara rendah dan serak.“Iya?” Rhea mendongak, menatap mata hitam pekat yang selalu berhasil melumpuhkan logikanya.“Sepuluh tahun itu waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian yang terpaksa. Aku tidak mau menunggu satu detik pun lebih lama lagi setelah semua kekacauan ini mereda,” Justin meraih tangan Rhea, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.“Ayo kita menikah. Sesegera mungkin.”Rhea terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, namun ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.Dia melepaskan tangannya dari genggaman Justi

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 83: Wanita Licik

    “Aku tidak butuh dukungan dari seseorang yang menghancurkan hidupku. Mulai hari ini, Mama tidak punya akses ke satu sen pun uang Chayton Group. Mama juga dilarang masuk ke gedung ini tanpa izin tertulis dariku.“Semua staf di rumah akan aku ganti dengan orang-orangku. Mama tetap bisa tinggal di sana, tapi Mama tidak punya kuasa atas apa pun.”“Kamu ingin memenjarakanku di rumahku sendiri?!”“Aku hanya memberikan Mama waktu untuk berpikir. Mungkin dengan hidup dalam kesederhanaan, Mama bisa belajar bagaimana rasanya menjadi manusia yang punya empati,” Justin memberikan ultimatumnya.“Dan satu hal lagi. Jika Mama berani mendekati Rhea atau mencoba melakukan hal aneh padanya lagi, aku tidak akan segan-segan menyerahkan bukti-bukti penggelapan dana kantor yang selama ini Mama lakukan ke pihak kepolisian. Aku punya semua catatannya, Ma. Jangan tantang aku.”Violet menatap Justin dengan pandangan tidak percaya. Dia menyadari bahwa putranya yang dulu bisa dia atur, kini telah berubah menjadi

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 82: Violet yang Memulai Duluan

    Justin berdiri diam di belakang meja kerjanya yang luas seraya menatap ke luar jendela besar yang menampilkan deretan gedung pencakar langit Jakarta.Namun, matanya tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Pikirannya masih terpaku pada pengakuan Rhea beberapa saat yang lalu. Rasa bersalah, amarah, dan benci bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan tekanan yang menyesakkan.Dia meraih telepon kantor, menekan tombol panggil cepat menuju departemen keuangan keluarga Mahendra yang dikelola oleh orang kepercayaannya.“Halo, Pak Hendra?” suara Justin terdengar dingin dan datar, hampir tanpa emosi.“Iya, Pak Justin. Ada yang bisa saya bantu?”“Blokir semua kartu kredit dan debit atas nama Violet Mahendra sekarang juga. Tanpa pengecualian. Hentikan semua aliran dana bulanan ke rekening pribadinya. Jika ada tagihan apa pun yang datang atas nama Mama mulai detik ini, jangan ada satu pun yang dibayar oleh perusahaan atau aset keluarga.”Di seberang telepon, terdengar jeda yang cuku

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 81: Fakta yang Mengejutkan

    Seketika itu juga, Violet tersentak. Ekspresi kemarahannya mendadak berubah menjadi kegugupan yang coba dia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya. Dia membuang muka, tidak berani menatap mata Justin secara langsung.“Semua orang tahu itu, Justin. Kau patah hati berbulan-bulan, siapa yang tidak sadar?” jawab Violet dengan nada yang dipaksakan santai.“Tidak, Ma. Jangan mencoba membodohiku,” Justin meraih bahu ibunya, memaksanya untuk kembali menatapnya.“Saat itu, aku hanya bilang pada Mama bahwa kami kehilangan kontak. Aku tidak pernah bilang pada siapa pun bahwa Rhea 'meninggalkanku'.“Bahkan Daniel pun tidak tahu detailnya karena dia sedang di luar negeri saat kejadian itu. Jadi, aku tanya sekali lagi ... dari mana Mama tahu soal Rhea yang meninggalkan aku?!”Violet menepis tangan Justin dengan kasar. “Daniel yang memberitahuku! Ya, Daniel pernah bercerita padaku beberapa tahun lalu!”Justin tersenyum campah, sebuah senyum yang penuh dengan rasa jijik. “Itu tidak masuk akal, Ma.

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 80: Kecurigaan Justin

    Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer koridor eksekutif Chaytin Group terdengar seperti detak jam yang memburu, tajam dan penuh penekanan.Violet Mahendra melangkah dengan dagu terangkat, mengenakan setelan desainer yang memancarkan aura kekuasaan yang dipaksakan.Begitu dia berbelok ke arah meja sekretaris di depan pintu besar ruang CEO, langkahnya mendadak terhenti.Matanya langsung melotot lebar. Di sana, duduk dengan tenang sambil memeriksa beberapa berkas di tabletnya, adalah wanita yang paling dia benci di dunia ini. Rhea.Rhea menyadari kehadiran seseorang di depannya. Dia mendongak, lalu segera berdiri dengan sikap profesional yang sempurna.Dia mengenakan kemeja putih tulang dan rok pensil yang membuatnya terlihat sangat elegan namun tetap rendah hati.“Selamat pagi, Bu Violet. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Rhea dengan suara yang tenang, meski di dalam hatinya dia merasakan gelombang kegelisahan yang luar biasa.Violet tidak menjawab sapaan itu. Dia justr

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 6: Harga Diri yang Dipertaruhkan

    “Strategi ini tidak hanya fokus pada profit jangka pendek, tapi juga membangun loyalitas konsumen melalui pendekatan emosional yang personal. Saya yakin, Chayton Group bisa menjadi pemimpin pasar jika kita berani mengambil langkah ini.”Rhea menutup presentasinya dengan napas yang tertata. Dia lalu

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 7: Berpikir Ulang

    Suara guntur menggelegar, menggetarkan kaca-kaca lobi Chayton Group yang menjulang tinggi.Di luar, langit berubah menjadi abu-abu pekat, menumpahkan air dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Rhea berdiri di depan pintu kaca otomatis seraya menatap layar ponselnya dengan putus as

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 2: Tekanan yang Memilukan

    Pagi hari yang membuat Rhea semangat karena hari ini dia resmi jadi bagian dari perusahaan ternama di kota itu.Rhea berdiri di lobi, merapikan blazer hitamnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Ia merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung es.“Selamat pagi, Ibu Rhea Jasminda Kairine? Saya d

  • Hanyut dalam Dekapan Sahabatku   Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

    “Itu ... Justin?” bisik Sarah sambil menunjuk ke arah pria berparas tampan itu. “Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi penguasa Chayton Group sekarang, ya?” ucapnya dengan mata berbinar memuji ketampanan pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun itu. Jantung Rhea berdegup kencang hingga t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status