Valerius menarik kursi di sebelah Elara, mengabaikan piring perak yang masih kosong di depannya. Ia meraih jemari istrinya yang dingin, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki.Di hadapan Lyra yang masih mengunyah dan para pelayan yang mendadak mematung, sang Duke tidak lagi berusaha menyembunyikan sisi lembutnya di balik topeng es yang dulu ia agungkan.“Kau mendengar apa yang kukatakan tadi, Elara. Isolde mungkin menghilang dalam kabut, tapi dia tidak akan pernah bisa menyentuh gerbang ini lagi,” suara Valerius terdengar berat, namun bergetar dengan keyakinan yang absolut.Elara menatap mata suaminya, mencari celah keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang membara. “Tapi dia licik, Valerius. Jika dia tidak menyerang dari depan, dia akan merayap lewat celah yang tidak kita duga.”“Maka aku akan menutup setiap celah itu dengan baja, bukan lagi dengan sihir yang tidak stabil,” jawab Valerius tegas. Kemudian meno
Read More