Lampu minyak di ruang kerja Valerius bergetar hebat saat pintu kayu ek setebal satu jengkal itu terbanting terbuka.Hans masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya, memapah seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam yang sudah compang-camping. Bau amis darah dan aroma busuk sihir hitam seketika memenuhi ruangan yang semula tenang itu.“My Lord, dia kembali,” suara Hans terdengar serak, tengah menahan beban tubuh pria di bahunya. “Tapi keadaannya sangat buruk.”Valerius segera bangkit dari kursi kerjanya, menyingkirkan gulungan peta yang tengah ia pelajari. Ia membantu Hans membaringkan mata-mata itu di atas sofa kulit panjang.Pria itu, salah satu pelacak terbaik Drakenhoff bernama Kaelen, terengah-engah dengan luka sayatan yang melintang di dadanya, luka yang tidak mengeluarkan darah merah, melainkan cairan kelabu kusam yang beruap.“Kaelen, bertahanlah,” ujar Valerius, tangannya mengepal melihat ko
Read more