"Kamu jauh lebih beruntung dari aku, Gas," kataku dengan suara agak bergetar. "Kita berdua sama-sama anak Gunadi, tapi dari Ibu yang beda. Bedanya, Ibumu masih ada di sampingmu. Sementara Ibuku... Ibuku udah meninggal secara misterius bertahun-tahun lalu. Aku hidup sendirian, Gas. Nggak ada siapapun yang bisa aku percaya. Aku gak punya saudara lagi... cuma kamu satu-satunya saudaraku saat ini."Bagas tertegun membisu. Tatapan matanya yang tadi tegang perlahan melunak, memancarkan rasa iba yang mendalam."A Aris..." gumam Bagas lirih. Dia menghela napas panjang, seolah luluh oleh kejujuranku. "Ya udah, A. Nanti aku aturin biar Aa bisa ketemu sama Ibu. Tapi ingat, jangan bawa kendaraan pribadi milik Aa pas ketemu Ibu, takutnya keberadaan Ibu terendus sama si Gunadi.""Aku paham, Gas. Makasih banyak," jawabku lega. "Tapi... bisa ketemunya besok?""Bisa, besok aku kabarin," sahut Bagas.Aku merapikan posisi dudukku, menatap Bagas serius. "Gas, sebenarnya... seberapa jauh kamu tahu soal Ay
Last Updated : 2026-09-04 Read more