Aku tersenyum tipis mendengar kelucuan Aldi, rasa hangat perlahan mengalir di dadaku.Meskipun usianya sudah 75 tahun, fisik Kakek Kosim masih terlihat sangat tegap, segar, dan cekatan. Sorot matanya memancarkan kedamaian sekaligus wibawa yang kuat."Terima kasih banyak ya, Kakek Kosim, Adik Aldi... Kalau tidak ada Kakek dan Aldi, mungkin saya sudah membusuk di tepi sungai," ucapku tulus."Sama-sama, Aris. Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling menolong," sahut Kakek Kosim. "Sekarang kamu makan buburnya, setelah itu Kakek mau balur tubuhmu pakai ramuan obat yang sudah Kakek racik."Setelah aku menghabiskan semangkuk bubur hangat, Kakek Kosim mengeluarkan sebuah wadah tumbukan batu berisi racikan rempah-rempah hijau dan minyak hangat. Dengan telaten, Kakek Kosim membalurkan ramuan tradisional itu ke seluruh persendian, dada, paha, dan punggungku yang lebam kebiruan.Ajaibnya, begitu ramuan rempah itu meresap ke kulit, rasa hangat yang menjalar perlahan-lahan mengikis rasa nyeri
Last Updated : 2026-09-11 Read more