Minggu-minggu berikutnya menjadi ujian kesabaran yang paling nyata bagi pasangan ini. Reza tidak menyerah, ia benar-benar berikhtiar. Setiap akhir pekan, ia kembali ke pondok pesantren, duduk di hadapan Kyai sepuh, mencoba membedah setiap inci hatinya yang membeku. Ia mencari ketenangan di antara riuh rendah suara santri yang mengaji dan keheningan sepertiga malam di masjid pondok.Di tempat itu, hidup terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk kota, tidak ada tekanan dunia yang menuntut kesempurnaan. Hanya lantunan ayat suci, langkah-langkah santri yang berjalan menuju masjid, serta udara malam yang dingin dan jernih.Sering kali, Reza duduk sendirian di serambi masjid setelah salat tahajud. Ia memandang halaman pesantren yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu temaram.“Masih berat?” tanya Kyai sepuh suatu malam, duduk di sampingnya.Reza menunduk. “Saya merasa seperti orang yang rusak, Kyai.”“Rusak bagaimana?”Reza tersenyum pahit. “Sebagai laki-laki… saya me
Last Updated : 2026-03-19 Read more