Tepat jam sebelas siang, sesuai janji di dalam pesan singkat yang akhirnya Almira balas dengan satu kata dingin: “Ya.”Di depan rumah, Reza turun dari mobilnya, wajahnya memancarkan binar antusiasme yang jujur saja membuat ulu hati Almira terasa mual. Pria itu melangkah ragu saat pintu depan dibuka oleh Pak Hendra. Almira sendiri memilih tetap berada di belakang, mengawasi dari jarak yang ia ciptakan sendiri sebagai benteng.“Hati-hati, Za. Mereka baru saja selesai makan siang. Susu dan perlengkapannya sudah ada di tas itu,” suara Pak Hendra terdengar memberi instruksi.Reza mengangguk berkali-kali, tampak seperti murid yang sedang menerima tugas besar. Saat ia menggendong Arkana, dan asisten rumah tangga membantu membawa Ardina menuju mobil, Almira akhirnya memunculkan diri. Ia berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada. Tatapannya tajam, sedingin es di tengah terik siang.“Jam empat sore ya, Mas. Ngga boleh lewat semenit pun,” peringat Almira. Suaranya tidak tinggi, tapi
Last Updated : 2026-04-17 Read more