Malam itu, setelah pertemuan di ruang tamu masjid yang menguras emosi, Almira tidak bisa langsung memejamkan mata. Ia sudah berbaring cukup lama, membiarkan tubuhnya terdiam, tetapi pikirannya menolak untuk ikut beristirahat. Suasana kamar begitu sunyi, hanya suara napas Arkana dan Ardina yang teratur menjadi satu-satunya hal yang terasa nyata. Namun di dalam kepalanya, semuanya justru riuh—terlalu riuh untuk diabaikan.Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, satu wajah kembali muncul tanpa izin. Tenang. Teduh. Tidak memaksa, tapi justru sulit disingkirkan. Rayyan. Dan kalimat itu—yang diucapkan tanpa nada dramatis, tanpa tekanan, tapi justru meninggalkan gema yang lebih dalam daripada apa pun—“Saya belum pernah menikah.”Almira menarik napas panjang, lalu memeluk bantal di dadanya, seolah mencoba menahan sesuatu yang perlahan bergerak di dalam dirinya. Ada rasa lega yang datang begitu saja, tanpa ia minta. Tapi bersamaan dengan itu, muncul rasa lain yang jauh lebih mengga
Last Updated : 2026-04-23 Read more