Ardina dan Arkana sudah selesai menyusu lebih awal dari biasanya. Udara di dalam kamar terasa cukup hangat, lampu tidur berwarna kuning redup menyala di sudut ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Almira, yang seharian lelah mengurus anak-anak pastinya, butik dan rumah juga, sempat berpikir bahwa malam ini ia akan mendapatkan waktu istirahat sedikit lebih panjang dari biasanya.Namun, sekitar pukul sebelas malam, suara tangisan terdengar. Awalnya pelan, seperti rintihan yang tertahan, lalu perlahan berubah menjadi lebih jelas, meninggi, dan membawa nada kesakitan yang tidak biasa. Almira langsung membuka mata. Tubuhnya bangkit tanpa perlu berpikir panjang, refleks yang terbentuk dari malam-malam panjang tanpa tidur. Ia mendekati boks bayi dan mendapati Ardina menggeliat gelisah, wajah mungilnya memerah, napasnya terdengar lebih pendek dan cepat dari biasanya.“Ardina…?” bisiknya lirih, sambil mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati.Begitu telapak tangan
Last Updated : 2026-04-13 Read more