Di ujung lain ruangan, Vera sedang berdiri membelakangi mereka, sibuk menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir porselen.Laras menoleh saat mendengar suara langkah sepatu boots Satria. Wajah Laras langsung berbinar cerah, memancarkan senyum tulus yang sangat menenangkan."Pagi, Satria," sapa Laras dengan suara lembutnya."Pagi, Laras. Sudah bangun dari tadi rupanya," balas Satria santai, berusaha keras membuat nada suaranya senormal mungkin. Dia berjalan mendekati meja makan.Laras mengangguk pelan. Mata cokelatnya menatap Satria dengan penuh perhatian, memeriksa apakah ada luka memar baru di wajah pemuda itu setelah pertarungan semalam. Merasa Satria baik-baik saja, senyum Laras semakin lebar."Kamu sudah sarapan belum, Sat?" tanya Laras ramah. "Bi Inah baru saja bikin roti panggang sama nasi goreng. Ayo makan dulu."Satria tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal."Wah, makasih banyak tawarannya, Laras. Kebetulan perut saya memang sudah demo dari t
Magbasa pa