เข้าสู่ระบบKabin mobil mewah itu masih hening menunggu jawaban Satria. Vera menatap asistennya dengan mata yang masih merah dan penuh harap. Wanita itu sudah siap mengeluarkan cek kosong berapa pun nominalnya asalkan Satria mau kembali dan mengurus kekacauan di rumahnya.Satria membuang napas panjang. Otaknya berputar cepat menimbang nimbang tawaran ini. Gaji dua kali lipat jelas sangat menggoda buat orang yang baru beberapa jam jadi pengangguran. Tapi memori soal Kiki yang menguncinya di kamar dan menggodanya habis habisan masih menempel kuat di kepalanya. Belum lagi urusan Dinda di kosan yang juga mulai berani macam macam pagi ini. Kalau dia terus di luar, bisa bisa dia malah jadi korban perempuan lain."Oke, Non," jawab Satria pelan. Suaranya akhirnya memecah keheningan. "Saya mau balik kerja di rumah Nona."Wajah Vera langsung cerah seketika. Senyum lega mengembang lebar di bibirnya. Dia buru buru menghapus sisa air matanya pakai tisu."Syukurlah, Satria. Makasih banyak. Kamu mau minta fasil
Kabin Alphard itu mendadak sunyi senyap. Deru mesin mobil dan suara klakson jalanan Sudirman sama sekali tidak bisa menembus kaca tebal tersebut. Satria masih menyandarkan punggungnya dengan lemas, menunggu hukuman atau makian apa lagi yang bakal keluar dari mulut bos besarnya ini.Namun, sesuatu yang sama sekali tidak pernah Satria bayangkan malah terjadi.Vera perlahan menundukkan kepalanya. Bahu wanita karier yang biasanya selalu tegak penuh wibawa itu kini terlihat merosot. Vera memijat pangkal hidungnya pelan, lalu membuang napas yang terdengar sangat panjang dan berat. Segala aura intimidasi dan kemarahannya menguap begitu saja, digantikan oleh raut wajah yang sangat lelah dan penuh rasa bersalah.Saat Vera kembali mengangkat wajahnya dan menatap Satria, mata tajam itu kini terlihat sedikit berkaca kaca."Maafin saya, Satria," ucap Vera dengan suara yang sangat pelan dan nyaris bergetar.Satria langsung melongo. Matanya mengerjap beberapa kali. Dia menatap Vera dari atas sampai
"Alasan!" potong Vera cepat, matanya sedikit berkaca kaca karena campuran marah dan frustrasi. "Laki laki berbadan besar kayak kamu, jago berantem ngelawan belasan preman, masa bisa jadi korban anak umur sembilan belas tahun? Logika kamu di mana, Satria?! Kalau kamu emang gak ada niat buruk, kamu bisa aja dorong dia. Kamu bisa aja lari atau teriak minta tolong sama orang rumah. Tapi nyatanya kamu malah nikmatin kan?! Kamu biarin aja dia ngelakuin itu ke kamu sampai ninggalin bekas menjijikkan di leher kamu itu!"Kata kata Vera itu menohok tepat di titik kelemahan Satria. Memang benar, Satria punya tenaga untuk mendorong Kiki. Tapi waktu itu Kiki mengancam akan berteriak dilecehkan kalau Satria kabur. Dan sialnya, insting kelaki lakian Satria pada akhirnya memang kalah oleh godaan agresif si bungsu malam itu.Satria menunduk sejenak. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Dia sadar dia juga salah karena pada akhirnya merespons godaan itu, tapi dia tetap tidak t
"Saya bilang ikut, Satria! Jangan berani beraninya kamu ngebantah saya di tempat umum begini," potong Vera makin tajam, matanya melotot memberikan ancaman tanpa ampun. "Kamu pikir urusan kita udah selesai setelah kamu kabur bawa ransel butut kamu itu kemarin? Urusan kita belum selesai. Masuk ke mobil saya sekarang juga!"Tanpa memberikan kesempatan bagi Satria untuk membayar minuman dinginnya atau mencari alasan lain, Vera menarik tangan Satria dengan paksa. Wanita itu menyeret asisten berbadan besar itu layaknya induk kucing yang sedang menyeret anak nakalnya, menuju pintu keluar minimarket di mana sebuah Alphard hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin menyala di pinggir jalan.Pintu geser Alphard hitam itu terbuka otomatis. Satria nyaris terjerembap masuk ke dalam kabin karena tarikan Vera yang tidak main main kerasnya. Belum sempat Satria memperbaiki posisi duduknya di jok kulit yang empuk, Vera sudah masuk menyusul dan duduk tepat di sebelahnya. Pintu mobil langsung tertutup r
Matahari Jakarta siang itu benar benar terasa memanggang ubun ubun. Setelah Dinda rapi dengan seragam kerjanya dan wangi vanilla bercampur aroma kopi yang khas, perempuan itu pamit berangkat ke cafe. Satria pun tidak mau berlama lama menumpang diam di kosan. Dia punya harga diri yang harus diberi makan, bukan sekadar menumpang hidup pada kebaikan teman.Memakai kaus hitam kesayangannya dan jaket kulit yang warnanya sudah memudar ditelan waktu, Satria memacu motor bebek bututnya membelah jalanan ibu kota. Niatnya hari ini cuma satu, mencari lowongan pekerjaan apa saja yang penting halal. Dari ruko ke ruko, pabrik kecil, sampai bengkel las pinggir jalan dia datangi. Tapi namanya mencari kerja dadakan di Jakarta, susahnya minta ampun. Kebanyakan menolak karena tidak ada lowongan, atau gajinya terlalu mencekik leher untuk menyambung hidup sebulan ke depan.Sekitar jam dua siang, tenggorokan Satria rasanya sudah seperti padang pasir yang kering kerontang. Panasnya aspal jalanan dan asap kn
Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.Begitu suapan terakhir selesai, Dinda membereskan sisa bungkus daun pisang itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil di sudut kamar. Dia kemudian meregangkan tubuhnya sejenak. Gerakan itu tentu saja membuat daster katunnya sedikit terangkat, tapi untungnya mata Satria sedang sibuk mengamati pola keramik di lantai."Kenyang juga ya," gumam Dinda sambil mengusap perut ratanya dari balik daster. Dia menoleh ke arah jam dinding kecil di atas meja belajarnya. "Ud
Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu
Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem
Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya
"Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp







