بيت / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Yang Tidak Ikut Pergi

مشاركة

Yang Tidak Ikut Pergi

مؤلف: Pilar Waisakha
last update تاريخ النشر: 2026-07-27 13:10:11

Bau mesiu masih menggantung di udara.

Pintu kontainer telah kembali tertutup.

Di luar, peluit pengawas terdengar panjang. Disusul deru forklift yang kembali bergerak, rantai besi beradu, dan suara kontainer yang diturunkan ke atas trailer. Pelabuhan melanjutkan harinya.

Di dalam ruangan, tak ada yang berpindah.

Elena masih menghadap pintu.

Tatapannya tertahan pada ambang tempat Julian menghilang.

Adriano berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Pistol masih berada di tangannya.

Moncongn
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu yang Tidak Pernah Dimiliki

    Sedan hitam berhenti di bawah beranda mansion. Mesin mati. Keheningan segera mengambil alih. Adriano turun lebih dulu. Elena menyusul dari sisi lain. Pintu utama telah terbuka. Seorang pelayan membungkukkan kepala ketika mereka melintas, lalu menutup kembali daun pintu tanpa suara. Foyer hanya diterangi lampu-lampu dinding yang menyisakan cahaya keemasan di sudut ruangan. Rumah sebesar itu terasa nyaris kosong. Tak terdengar langkah. Tak terdengar suara pelayan. Mereka baru beberapa langkah melewati ruang utama ketika Adriano berhenti. Elena mengikuti arah pandangnya. Valerius duduk di kursi rodanya. Menghadap ke arah mereka. Kedua tangannya bertumpu di atas sandaran. Tak ada map. Tak ada gelas kopi. Tak ada buku. Seolah ia memang tak melakukan apa pun selain menunggu. "Belum tidur." Valerius tidak menjawab. Tatapannya singgah pada memar di rahang Adriano. Naik ke pelipis yang masih menyisakan bekas benturan. Lalu beralih kepada Elena. "Jadi benar." Adriano tak

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Belum Bergerak

    Lampu-lampu proyek telah menyala. Cahaya putih menggantung di antara rangka baja yang belum selesai berdiri. Di kejauhan, sebuah derek berputar pelan sebelum akhirnya berhenti. Forklift terakhir melintas menuju gerbang keluar, disusul bunyi rantai yang bergesekan dengan kontainer. Pelabuhan mulai kehilangan suaranya. Di dalam kantor sementara, ruangan itu perlahan kembali menyerupai tempat bekerja. Elena memasukkan buku laporan terakhir ke dalam lemari arsip. Pintu lemari ditutup pelan. Di sudut ruangan, Adriano mendorong meja yang sempat bergeser akibat benturan. Kaki meja bergesek dengan lantai baja sebelum kembali tepat pada bekas posisinya. Kursi yang masih utuh disandarkan ke bawah meja. Blueprint diratakan. Map-map proyek ditumpuk menurut tanggal. Ikatan-ikatan uang masih berserakan di lantai. Tak ada yang menyentuhnya. Tak satu pun dari mereka membicarakan apa yang terjadi sore tadi. Yang terdengar hanya gesekan kayu, bunyi map yang saling bertumpuk, dan napas yang

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Ikut Pergi

    Bau mesiu masih menggantung di udara. Pintu kontainer telah kembali tertutup. Di luar, peluit pengawas terdengar panjang. Disusul deru forklift yang kembali bergerak, rantai besi beradu, dan suara kontainer yang diturunkan ke atas trailer. Pelabuhan melanjutkan harinya. Di dalam ruangan, tak ada yang berpindah. Elena masih menghadap pintu. Tatapannya tertahan pada ambang tempat Julian menghilang. Adriano berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pistol masih berada di tangannya. Moncongnya telah mengarah ke lantai. "Dia sudah pergi." Suara itu rendah. Elena tak menoleh. Tatapannya tetap berada di depan. "Masih ingin melihat ke sana?" Baru kali ini Elena menarik napas. "Aku memastikan dia benar-benar keluar." "Supaya selamat." Elena menutup mata sesaat. "Supaya kau tidak berubah pikiran." Sunyi memenuhi ruangan. Adriano menggeser pengaman pistol dengan ibu jarinya. Bunyi logam terdengar pendek. Magasin terlepas ke telapak tangannya. Ia memeriksa ruang peluru sekil

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Dia Pergi

    Moncong pistol itu tetap terarah. Tak bergeser. Elena masih berdiri di depan Julian. Tubuhnya menjadi satu-satunya jarak di antara laras pistol dan pria yang berada di belakangnya. Di ambang pintu, para pengawas dan staf membeku. Tak seorang pun berani melangkah masuk. "Jangan, Adriano." Suara Elena terdengar pelan. Cukup untuk memecah sunyi. Adriano tak menurunkan tangannya. Tatapannya hanya tertuju kepada perempuan di depannya. "Menyingkir." Elena menggeleng. "Turunkan pistolmu." Tak ada perubahan. "Kenapa?" Satu kata itu jatuh datar. Elena menatapnya. "Apa?" "Kenapa kau melindunginya?" Sunyi kembali memenuhi ruangan. Adriano masih memegang pistol itu dengan mantap. "Siapa dia bagimu?" Elena menarik napas. "Teman." Tak lebih. Napas Julian tertahan. Jemarinya yang bertumpu di lantai mengepal. Darah dari pelipisnya menetes pelan ke permukaan baja. Tak ada satu kata pun yang menyusul. Di ambang pintu, seorang pengawas tanpa sadar mundur setapak. Tak ada y

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Ada yang Siap Kehilangannya

    Pengawas proyek bergeser memberi jalan. Pintu kontainer terbuka lebih lebar. Julian melangkah masuk. Koper hitam masih berada di tangan kanannya. Ruangan mendadak kehilangan suara. Pena di jemari Elena berhenti tepat di atas lembar laporan. Adriano tetap berdiri di sisi meja. Tatapannya menetap pada pria yang baru datang. "Aku datang untuk menyelesaikan semuanya." Tak ada jawaban. Julian mengangkat koper itu ke atas meja. Bunyi logam memecah kesunyian. Resleting bergeser. Tumpukan uang memenuhi isi koper. Tersusun rapi. "Kau menyebut angka." Julian mendorong koper itu beberapa senti. "Aku membawanya." Tatapan Adriano turun. Hanya sampai bibir koper. Tak satu lembar pun disentuhnya. "Utang Stella Maris." Suara Julian tetap tenang. "Kerugian yang pernah kau tuntut." "Semuanya ada di sana." "Kau bisa menghitungnya." Adriano melangkah mendekat. Pandangan matanya beralih kepada Elena. Perempuan itu masih berdiri membeku di samping meja. Baru kemudian ia kembali

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Orang yang Tak Seharusnya Datang

    Pagi telah bergerak jauh ketika Elena menuruni anak tangga terakhir.Rambutnya telah terikat rapi.Mantel tipis berwarna terang menutupi blus yang dikenakannya.Di depan pintu utama, Adriano sudah menunggu.Tak mencari.Tak memanggil.Tatapannya hanya terangkat ketika Elena mendekat.Seorang pelayan membuka daun pintu.Udara pagi menyusup ke dalam foyer.Sedan hitam telah menunggu di bawah beranda.Adriano membukakan pintu.Elena masuk tanpa sepatah kata.Pintu tertutup pelan.Adriano memutari kap mobil sebelum duduk di balik kemudi.Mesin menyala.Sedan itu bergerak meninggalkan halaman mansion, melewati gerbang besi yang perlahan terbuka.Pohon-pohon cemara bergeser di balik jendela.Tak lama kemudian, jalanan Genoa mengambil alih pemandangan.Deru mesin memenuhi ruang di antara mereka.Elena memandang keluar.Bangunan-bangunan tua berganti deretan pertokoan, lalu berubah menjadi gudang-gudang yang menghadap pelabuhan.Tangannya merogoh saku mantel.Sebuah kartu nama keluar bersama

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status