LOGINMoncong pistol itu tetap terarah. Tak bergeser. Elena masih berdiri di depan Julian. Tubuhnya menjadi satu-satunya jarak di antara laras pistol dan pria yang berada di belakangnya. Di ambang pintu, para pengawas dan staf membeku. Tak seorang pun berani melangkah masuk. "Jangan, Adriano." Suara Elena terdengar pelan. Cukup untuk memecah sunyi. Adriano tak menurunkan tangannya. Tatapannya hanya tertuju kepada perempuan di depannya. "Menyingkir." Elena menggeleng. "Turunkan pistolmu." Tak ada perubahan. "Kenapa?" Satu kata itu jatuh datar. Elena menatapnya. "Apa?" "Kenapa kau melindunginya?" Sunyi kembali memenuhi ruangan. Adriano masih memegang pistol itu dengan mantap. "Siapa dia bagimu?" Elena menarik napas. "Teman." Tak lebih. Napas Julian tertahan. Jemarinya yang bertumpu di lantai mengepal. Darah dari pelipisnya menetes pelan ke permukaan baja. Tak ada satu kata pun yang menyusul. Di ambang pintu, seorang pengawas tanpa sadar mundur setapak. Tak ada y
Pengawas proyek bergeser memberi jalan. Pintu kontainer terbuka lebih lebar. Julian melangkah masuk. Koper hitam masih berada di tangan kanannya. Ruangan mendadak kehilangan suara. Pena di jemari Elena berhenti tepat di atas lembar laporan. Adriano tetap berdiri di sisi meja. Tatapannya menetap pada pria yang baru datang. "Aku datang untuk menyelesaikan semuanya." Tak ada jawaban. Julian mengangkat koper itu ke atas meja. Bunyi logam memecah kesunyian. Resleting bergeser. Tumpukan uang memenuhi isi koper. Tersusun rapi. "Kau menyebut angka." Julian mendorong koper itu beberapa senti. "Aku membawanya." Tatapan Adriano turun. Hanya sampai bibir koper. Tak satu lembar pun disentuhnya. "Utang Stella Maris." Suara Julian tetap tenang. "Kerugian yang pernah kau tuntut." "Semuanya ada di sana." "Kau bisa menghitungnya." Adriano melangkah mendekat. Pandangan matanya beralih kepada Elena. Perempuan itu masih berdiri membeku di samping meja. Baru kemudian ia kembali
Pagi telah bergerak jauh ketika Elena menuruni anak tangga terakhir.Rambutnya telah terikat rapi.Mantel tipis berwarna terang menutupi blus yang dikenakannya.Di depan pintu utama, Adriano sudah menunggu.Tak mencari.Tak memanggil.Tatapannya hanya terangkat ketika Elena mendekat.Seorang pelayan membuka daun pintu.Udara pagi menyusup ke dalam foyer.Sedan hitam telah menunggu di bawah beranda.Adriano membukakan pintu.Elena masuk tanpa sepatah kata.Pintu tertutup pelan.Adriano memutari kap mobil sebelum duduk di balik kemudi.Mesin menyala.Sedan itu bergerak meninggalkan halaman mansion, melewati gerbang besi yang perlahan terbuka.Pohon-pohon cemara bergeser di balik jendela.Tak lama kemudian, jalanan Genoa mengambil alih pemandangan.Deru mesin memenuhi ruang di antara mereka.Elena memandang keluar.Bangunan-bangunan tua berganti deretan pertokoan, lalu berubah menjadi gudang-gudang yang menghadap pelabuhan.Tangannya merogoh saku mantel.Sebuah kartu nama keluar bersama
Pagi telah memenuhi kamar.Cahaya matahari menembus celah tirai, membentuk garis-garis terang di atas lantai marmer.Tak ada bunyi alarm.Tak ada ketukan pelayan.Elena membuka mata.Tatapannya menetap di langit-langit.Ingatan semalam datang tanpa perlu dipanggil.Ballroom.Cincin.Bibir Adriano.Gaun hitam yang jatuh di lantai.Napas hangat menyentuh tengkuknya.Lengan Adriano masih melingkar di pinggangnya.Berat.Mantap.Elena menyentuh pergelangan tangan pria itu.Berusaha mengangkatnya perlahan.Belum sempat terlepas, pelukan itu justru mengencang.Tubuh Adriano bergeser mendekat tanpa membuka mata."Aku ingin ke kamar mandi."Hening sesaat.Lengan itu akhirnya mengendur.Elena turun dari ranjang.Baru ketika kedua telapak kakinya menyentuh lantai, ia menyadari tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.Jemarinya bergerak pelan, menyapu kehangatan yang masih tertinggal di lipatan paha.Ujung jarinya basah—cairan licin sisa gairah semalam menggumpal di sana.Tatapannya ber
Koridor mansion membentang sunyi.Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya keemasan di atas marmer. Dari ballroom yang kini tertinggal jauh, gesekan biola masih terdengar tipis, seperti datang dari dunia lain.Elena berjalan lebih dulu.Langkahnya tak lagi setegas saat memasuki Palazzo San Giorgio. Hak sepatunya sesekali bergeser tipis sebelum kembali menemukan keseimbangan.Adriano mengikuti beberapa langkah di belakang.Tatapannya singgah pada punggung perempuan itu."Kau tidak terbiasa minum."Elena tidak menoleh."Aku terbiasa menuangkannya."Mereka terus berjalan."Dulu aku menghafal botol dari warna labelnya."Senyum tipis singgah di bibir Elena. Terlalu hambar untuk disebut senyum."Orang yang benar-benar kaya jarang menghabiskan gelas mereka."Tak ada jawaban.Di depan sebuah pintu, Elena berhenti.Adriano lebih dulu memutar gagang.Daun pintu terbuka.Elena masuk.Ruangan itu kembali menyambut mereka dengan keheningan yang sudah akrab.Ia duduk di ujung ranjang.Sepatu hak pert
Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang kembali menemukan iramanya. Para pelayan bergerak membawa baki perak dari satu kelompok tamu ke kelompok lain, sementara lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke permukaan lantai marmer. Adriano melangkah lebih dulu. Elena mengikutinya. Tak satu pun tamu menyinggung kepergiannya beberapa menit lalu. Sapaan kembali terdengar seperti biasa, seolah tak pernah ada jeda di tengah pesta. Seorang pelayan lewat. Adriano mengambil dua gelas anggur. Satu tetap berada di tangannya. Satu lagi diulurkan kepada Elena. Perempuan itu tidak segera menyambutnya. Tatapannya singgah pada jemari Adriano yang menggenggam tangkai gelas. Naik ke wajah pria itu.
Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.
Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny
Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti







