Ruang pemeriksaan klinik terasa sejuk, dengan aroma harum bunga mawar yang samar. Aisyah duduk di kursi, tangannya menggenggam erat jemari Sean. Perutnya belum terlihat besar, namun rasa haru dan bahagia jelas terpancar dari matanya.Sean menatap istrinya dengan penuh perhatian, seolah ingin menyalurkan ketenangan lewat genggaman tangannya. Pria itu terlihat lebih gugup dari Aisyah.“Sayang, aku sudah tidak sabar mau melihat anak kita,” bisik Sean di telinga Aisyah.“Sayang, apa kamu gugup?” tanya Sean yang membuat Aisyah hampir tertawa karena suaminya lah yang gugup."Permisi, Nyonya Aisyah dan Tuan Sean. Kita akan memulai pemeriksaan,” Elena duduk di depan Aisyah dan Sean.“Silakan, Dok.” Aisyah selalu terlihat tenang. Apalagi dia seorang dokter bedah yang sudah terbiasa berada di lingkungan dan situasi menegangkan. Hanya pemeriksaan kehamilan biasa saja. Dia selalu berpikiran baik.“Baiklah. Bagaimana kabarnya? Ada keluhan mual atau lelah? Bagaimana dengan nafsu makan dan jadwal tid
Read More