LOGINTerima kasih. Semoga suka.
Keluarga Jordan sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Aisyah. Mereka meminta izin untuk datanng berkunjung dan memberi hadiah karena Sean tidak akan membiarkan sang istri keluar dari lingkungan kastil.Demi kebahagian dan ketenangan Aisyah. Sean sengaja mengundang keluarga Jordan untuk makan siang bersama di rumah tanpa sepengetahuan sang istri.“Sayang, apa kamu tidak ke kantor lagi?” tanya Aisyah melihat Sean yang setiap hari di rumah menemani dirinya sepanjang waktu.“Ada Elio yang membantuku. Aku hanya perlu memantau dari rumah.” Sean menarik kursi untuk Aiyah. Mereka akan makan siang bersama.“Yang terpenting. Aku selalu berada di sisi kamu, Sayang. Urusan lain bisa diurus yang lain,” lanjut Sean.“Permisi, Tuan. Tamu sudah datang.” Bibi Rose menunduk.“Tamu? Siapa?” tanya Aisyah.“Suru mereka masuk!” perintah Sean.“Baik, Tuan.” Bibi kembali menemui tamu yang sudah menunggu.“Selamat siang,” ucap Noah.“Kak Noah.” Aisyah berdiri dia melihat keluarga lengkapnya datang berkunjun
Sean membawa Elio dan Leon ke ruang kerja. Pria itu ingin berbicara serius dan sedikit rahasia.“Ada apa, Sean?” tanya Leon curiga.“Ehem.” Sean melihat pada Elio dan mengibaskan tangannya.“Baik, Tuan.” Elio keluar dari ruang kerja.“Hm.” Leon memperhatikan Sean.“Leon, selama hamil. Apa aku masih bisa menyentuhnya?” tanya Sean gugup.“Hanya menyentuh atau mensetubuh?” Leon balik bertanya dengan menahan senyum.“Kamu pasti mengerti. Tidak usah pura-pura bodoh.” Sean menghempaskan tubuhnya di sofa.“Tergantung kondisi tubuh Aisyah. Jika dia dan janin kuat. Tentu tidak masalah, tetapi tetap harus hati-hati dan menahan diri. Jangan terlalu ganas seperti pengantin baru,” jelas Leon tersenyum.“Aku tahu. Sekarang aku sudah lebih lembut ketika menyentuh Aisyah.” Sean mengangguk.“Tapi sebaiknya kamu benar-benar menahan diri untuk tiga bulan pertama ini. Berapa usia kandungan Aisyah?” tanya Leon.“Aku tidak tahu. Aku akan bertanya padanya.” Sean beranjak dari sofa.“Aisyah tetap harus melaku
Aisyah tersenyum. Dia meletakkan kedua tangan di pundak Sean. Wanita itu menatap wajah penasaran suaminya.“Aku hamil,” ucap Aisyah.“Apa?” Mata Sean melotot. Pria itu terlihat bingung dan khawatir. Dia tidak bisa mengekpresikan dirinya. Ada rasa takut yang tidak bisa diungkapkan.“Sayang, aku hamil.” Aisyah mengulangi kalimatnya.“Sayang, apa kita akan punya anak?” Sean memegang perut Aisyah yang masih rata.“Ya.” Aisyah mengangguk dengan senyuman lebar.“Oh God. Thanks.” Sean beranjak dari lantai dan memeluk Aisyah. Dia mengusap perut istrinya.“Sayang, apa yang harus aku lakukan? Dan apa yang tidak boleh?” tanya Sean.“Terus, kamu. Kamu tidak boleh melakukan apa pun. Cukup istirahat dan makan. Oh, tidak aku harus mencari dokter kandungan, ahli gizi dan perawat. Aku akan menghubungi Leon.” Sean gelisah dan gugup. Dia beranjak dari tepi kasur dan mengeluarkan ponsel.“Sayang, tenangkan diri kamu.” Aisyah mengambil ponsel dari tangan Sean dan menarik pria itu untuk kembali duduk di tep
Balas dendam Bianca masih berlanjut. Dia dibantu Varrel dan Vito memalsukan kepergian bulan madu sehingga tidak ada keluarga yang menghubungi Maria. Padahal wanita itu telah dipindahkan ke klinik yang jauh dari pusat kota. Wanita itu benar-benar diasingkan di tempat terpencil tanpa ada orang yang mengenalinya.“Kenapa sepi sekali?” Maria terbangun dari tidur panjang. Dia berada di dalam sebuah kamar perawatan. Matanya masih tertutup perban. Wanita itu masih dalam kondisi yang belum stabil.“Dokter. Perawat.” Maria memanggil semua orang, tetapi tidak ada jawaban. Ruangan itu benar-benar sunyi tanpa suara.“Tolong!” teriak Maria meraba-raba samping tempat tidur. Dia mencari bel panggilan perawat jaga.“Brak!” Gelas kaca jatuh ke lantai dan pecah.“Mama.” Maria menangis. Tidak ada yang datang merawatnya.“Nona, Anda harus tenang.” Seorang perawat masuk.“Saya akan menajga dan merawat Anda.” Perawat membantu Maria duduk. Dia membersihkan pecahan gelas dan membuang ke tempat sampah.“Sus. D
Maria dibawa ke rumah sakit. Matanya diperban. Wajahnya memerah dan bengkak. Dia sangat kesakitan. Ada rasa pedih, perih dan ngilu di kepala, mata dan wajanya.“Varrel, di mana kamu?” tanya Maria.“Nona, Tuan Varrel sudah kembali setelah mengantar Anda,” ucap perawat.“Bagaimana keluargaku? Apa mereka telah diberitahu?” tangan Maria meraba-raba. Dia mencari perawat.“Saya tidak tahu, Nona. Tuan Varrel tidak bicara apa pun. Dia hanya meminta kami untuk menjaga dan merawat Anda,” jelas perawat.“Apa Varrel membawa ponselku? Tanya Maria lagi.“Tidak ada, Nona,” jawab perawat.“Tolong hubungi Varrel. Aku mau memberitahu keluargaku,” pinta Maria.“Baiklah. Apa Anda hapan nomor Tuan Varrel?” tanya perawat.“Tidak,” jawab Maria bingung.“Pergilah,” tegas seorang wanita dari pintu. Dia mengusir perawat yang bertugas menjaga dan merawat Maria.“Baik, Nona.” Perawat segera keluar dari kamar Maria.“Siapa kamu? Apa kamu tahu di mana Varrel?” tanya Maria menoleh ke arah suara. Dia tidak mengenali
Tamu undangan telah berpindah ke hotel untuk beristirahat karena masih ada pesta di malam hari. Mereka juga mendapatkan kamar mewah. Semua orang benar-benar menikmati kebahagiaan yang diberikan oleh Varrel. Pria itu memanjakan setiap tamu yang datang. Dia tidak mengecewakan. Walaupun pernikahan itu tanpa dasar cinta hanya jebakan untuk mendekati keluarga Aisyah.Pesta begitu liar. Para pria dan wanita menghabiskan malam dengan minum-minuman beraneka warna serta rasa. Lampu menjadi redup dan berkelip mengikuti alunan music. Para tetua telah meninggalkan jam malam untuk muda mudi.“Ahh! Aku benar-benar bahagia.” Maria merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap langit kamar yang dihiasi lampu Kristal. Wanita itu mengambil ponsel dan memposting pesta mewahnya di semua aku media sosial.“Seluruh dunia harus tahu bahwa aku menikah dengan Varrel. Pria yang berkuasa dan pesta pernikahanku sangat mewah.” Maria terus tersenyum.Maria tidak lagi berhubungan dengan teman-teman yang telah mengh
Sean yang telah tahu posisi kapal yang membawa Aisyah segera bertindak dan tidak menunggu lama. Pria itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengejar sang istri. Dia tidak peduli jika harus mengejar hingga ke negara lain dan mengeluarkan biaya lebih untuk merebut kembali istrinya.“Siapkan kapal selam!
Langit malam diguyur oleh deras yang hujan. Kaca depan mobil Sean dipenuhi butiran air yang berkilau seperti pecahan kaca. Jalanan sepi, hanya suara gemuruh petir dan deru mesin yang menemani kepulangannya. Namun tiba-tiba, dari balik kabut hujan, sekelompok mobil hitam melaju cepat, memotong jalann
Aisyah membuka mata dan mendapatkan satu tangan serta dua kaki yang terikat di tempat tidur mewah. Dia memperhatikan sekeliling. Ruangan yang tampak asing. Di samping meja ada tiang infus yang masih terhubung dengan pergelangan tangannya.“Astagfirullah alazim. Di mana ini?” tanya Aisyah segera dudu
Aisyah duduk di dalam helicopter. Di sampingnya ada Sean. Wanita itu hanya diam saja. Gaun putihnya ada percikan darah dari pelayan yang ditembak. Dia memalingkan wajah dari pria di sebelahnya.“Kamu memang sudah bertunangan denganku sejak usia sepuluh tahun,” ucap Sean menoleh pada Aisyah.“Tidak m







