LOGINTerima kasih. Semoga suka.
Ruang pemeriksaan klinik terasa sejuk, dengan aroma harum bunga mawar yang samar. Aisyah duduk di kursi, tangannya menggenggam erat jemari Sean. Perutnya belum terlihat besar, namun rasa haru dan bahagia jelas terpancar dari matanya.Sean menatap istrinya dengan penuh perhatian, seolah ingin menyalurkan ketenangan lewat genggaman tangannya. Pria itu terlihat lebih gugup dari Aisyah.“Sayang, aku sudah tidak sabar mau melihat anak kita,” bisik Sean di telinga Aisyah.“Sayang, apa kamu gugup?” tanya Sean yang membuat Aisyah hampir tertawa karena suaminya lah yang gugup."Permisi, Nyonya Aisyah dan Tuan Sean. Kita akan memulai pemeriksaan,” Elena duduk di depan Aisyah dan Sean.“Silakan, Dok.” Aisyah selalu terlihat tenang. Apalagi dia seorang dokter bedah yang sudah terbiasa berada di lingkungan dan situasi menegangkan. Hanya pemeriksaan kehamilan biasa saja. Dia selalu berpikiran baik.“Baiklah. Bagaimana kabarnya? Ada keluhan mual atau lelah? Bagaimana dengan nafsu makan dan jadwal ti
Sean benar-benar memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk Aisyah. Dia membawa keluarga istrinya pindah ke rumah mereka sehingga bisa selalu bersama. David dan Noah pun semangat pulang dan pergi kerja. Begitu juga dengan Jordan dan Leana. Setelah sekian lama berpisah akhirnya mereka bernar-benar bisa berkumpul.Aisyah tidak sendiri lagi di rumah. Dia ditemani sang ibu dalam menghabiskan waktu dengan berkarya. Keduanya mendesain pakaian bersama. Sean tidak khawatir lagi dengan kondisi istrinya. Pria itu bisa melihat dan merasakan kebahagiaan Aisyah setiap hari bercerita tentang hari-hari bersama Leana.“Ma, lihat bunga ini sangat indah.” Aisyah mengembil setangkai mawar merah dan menyelipkan di telinga Leana.“Mama sangat cantik.” Aisyah menatap Leana.“Kamu mewarisi kecantikan itu, Sayang.” Leana mencium dahi Aisyah. Ibu dan anak berjalan di taman. Mereka sedang menunggu para lelaki tercinta pulang bekerja.“Aisyah ku lebih ceria sejak keluarganya pindah kemari.” Sean melihat Aisyah
Keluarga Jordan sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Aisyah. Mereka meminta izin untuk datanng berkunjung dan memberi hadiah karena Sean tidak akan membiarkan sang istri keluar dari lingkungan kastil.Demi kebahagian dan ketenangan Aisyah. Sean sengaja mengundang keluarga Jordan untuk makan siang bersama di rumah tanpa sepengetahuan sang istri.“Sayang, apa kamu tidak ke kantor lagi?” tanya Aisyah melihat Sean yang setiap hari di rumah menemani dirinya sepanjang waktu.“Ada Elio yang membantuku. Aku hanya perlu memantau dari rumah.” Sean menarik kursi untuk Aiyah. Mereka akan makan siang bersama.“Yang terpenting. Aku selalu berada di sisi kamu, Sayang. Urusan lain bisa diurus yang lain,” lanjut Sean.“Permisi, Tuan. Tamu sudah datang.” Bibi Rose menunduk.“Tamu? Siapa?” tanya Aisyah.“Suru mereka masuk!” perintah Sean.“Baik, Tuan.” Bibi kembali menemui tamu yang sudah menunggu.“Selamat siang,” ucap Noah.“Kak Noah.” Aisyah berdiri dia melihat keluarga lengkapnya datang berkunjun
Sean membawa Elio dan Leon ke ruang kerja. Pria itu ingin berbicara serius dan sedikit rahasia.“Ada apa, Sean?” tanya Leon curiga.“Ehem.” Sean melihat pada Elio dan mengibaskan tangannya.“Baik, Tuan.” Elio keluar dari ruang kerja.“Hm.” Leon memperhatikan Sean.“Leon, selama hamil. Apa aku masih bisa menyentuhnya?” tanya Sean gugup.“Hanya menyentuh atau mensetubuh?” Leon balik bertanya dengan menahan senyum.“Kamu pasti mengerti. Tidak usah pura-pura bodoh.” Sean menghempaskan tubuhnya di sofa.“Tergantung kondisi tubuh Aisyah. Jika dia dan janin kuat. Tentu tidak masalah, tetapi tetap harus hati-hati dan menahan diri. Jangan terlalu ganas seperti pengantin baru,” jelas Leon tersenyum.“Aku tahu. Sekarang aku sudah lebih lembut ketika menyentuh Aisyah.” Sean mengangguk.“Tapi sebaiknya kamu benar-benar menahan diri untuk tiga bulan pertama ini. Berapa usia kandungan Aisyah?” tanya Leon.“Aku tidak tahu. Aku akan bertanya padanya.” Sean beranjak dari sofa.“Aisyah tetap harus melaku
Aisyah tersenyum. Dia meletakkan kedua tangan di pundak Sean. Wanita itu menatap wajah penasaran suaminya.“Aku hamil,” ucap Aisyah.“Apa?” Mata Sean melotot. Pria itu terlihat bingung dan khawatir. Dia tidak bisa mengekpresikan dirinya. Ada rasa takut yang tidak bisa diungkapkan.“Sayang, aku hamil.” Aisyah mengulangi kalimatnya.“Sayang, apa kita akan punya anak?” Sean memegang perut Aisyah yang masih rata.“Ya.” Aisyah mengangguk dengan senyuman lebar.“Oh God. Thanks.” Sean beranjak dari lantai dan memeluk Aisyah. Dia mengusap perut istrinya.“Sayang, apa yang harus aku lakukan? Dan apa yang tidak boleh?” tanya Sean.“Terus, kamu. Kamu tidak boleh melakukan apa pun. Cukup istirahat dan makan. Oh, tidak aku harus mencari dokter kandungan, ahli gizi dan perawat. Aku akan menghubungi Leon.” Sean gelisah dan gugup. Dia beranjak dari tepi kasur dan mengeluarkan ponsel.“Sayang, tenangkan diri kamu.” Aisyah mengambil ponsel dari tangan Sean dan menarik pria itu untuk kembali duduk di tep
Balas dendam Bianca masih berlanjut. Dia dibantu Varrel dan Vito memalsukan kepergian bulan madu sehingga tidak ada keluarga yang menghubungi Maria. Padahal wanita itu telah dipindahkan ke klinik yang jauh dari pusat kota. Wanita itu benar-benar diasingkan di tempat terpencil tanpa ada orang yang mengenalinya.“Kenapa sepi sekali?” Maria terbangun dari tidur panjang. Dia berada di dalam sebuah kamar perawatan. Matanya masih tertutup perban. Wanita itu masih dalam kondisi yang belum stabil.“Dokter. Perawat.” Maria memanggil semua orang, tetapi tidak ada jawaban. Ruangan itu benar-benar sunyi tanpa suara.“Tolong!” teriak Maria meraba-raba samping tempat tidur. Dia mencari bel panggilan perawat jaga.“Brak!” Gelas kaca jatuh ke lantai dan pecah.“Mama.” Maria menangis. Tidak ada yang datang merawatnya.“Nona, Anda harus tenang.” Seorang perawat masuk.“Saya akan menajga dan merawat Anda.” Perawat membantu Maria duduk. Dia membersihkan pecahan gelas dan membuang ke tempat sampah.“Sus. D
Maria membuka mata dan memperhatikan ruangan yang kosong. Dia memastikan dirinya tidak ternoda.“Aku masih mengenakan gaun semalam. Kemana mereka membawaku? Tempat apa ini?” Maria turun dari kasur kecil yang kumuh. Melihat meja dan kursi yang berdebu.“Di mana ponselku?” Maria mencari ponselnya.“K
Leana terduduk lemas di sofa. Dia masih ditemani Noah yang juga hanya diam menatap sang ibu.“Bagaimana sekarang, Ma?” tanya Noah.“Mama sudah tidak tahu lagi. Mama tidak menyangka semua akan terungkap dengan cepatnya. Kita telah kehilangan Maria.” Leana menangis dan memeluk Noah.“Dosa yang tidak s
Kepulangan Sean masih dirahasiakan. David dan Noah pun tidak memberitahu keluarganya. Padahal dua bersaudara itu sudah tahu, tetapi mereka seakan sengaja menutupinya.“Kak!” Maria bersemangat menuruni tangga menuju ruang tengah.“Kak Noah. Kak David.” Maria memeluk dua pria tampan yang berdiri menun
Sean dirawat di rumah. Pria itu tidak teriasa berada di rumah sakit. Dia duduk di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada karena ada luka yang harus dijaga.“Permisi, Tuan. Kami akan mengganti perban.” Dokter dan perawat mengetuk pintu kamar Sean ditemani kepala asisten rumah tangga. Seorang pria







