Setelah pembicaraan itu, Fatim kembali ke dalam kamar dengan tenang, seolah tidak terjadi pembicaraan gelap di taman tadi. Ia duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah Yasmin yang masih terlelap dengan tatapan yang sulit diartikan.“Maafkan hamba, Tuan Putri,” bisik Fatim hampir tidak terdengar. “Tapi Baginda sudah memilihkan jalan untuk Anda. Sebuah jalan tanpa pintu pulang.”Fatim Di dalam pikirannya, ia sudah mulai menyusun mantra-mantra kuno yang sudah lama tidak diucapkan. Ia tahu, apa yang diminta Erion adalah perbuatan yang melanggar batas, tapi ia juga tahu kalau hanya Yasmin yang bisa mencegah kehancuran kerajaan ini dari kegilaan Putri Yasmina yang dulu.“Hamba melihat Anda adalah cahaya negeri ini. Kalau sampai putri tiran itu kembali, kedua negeri akan menjadi bara api dan debu.” Fatim memejamkan mata sejenak ketika masa depan tergambar jelas di depan kedua netranya.Sementara itu, di luar paviliun, Erion berdiri menatap menara istana. Ia tahu, mulai saat ini, ia bukan
Read more