Erion menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di ruang kerja yang dulunya milik ayahnya, tempat penuh tumpukan gulungan perkamen yang kini tampak sedikit berdebu. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis kelelahan di wajahnya, meski matanya tetap tajam, menatap lurus ke arah pintu.“Masuk,” ucap Erion tanpa mengalihkan pandangan.Tiga pria tua dengan jubah kebesaran dewan yang berat melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Mereka adalah pejabat senior yang telah mengabdi sejak era mendiang Raja Arberi.Marib berdiri tegak di sisi pintu, tangannya tidak lepas dari hulu pedang, mengawasi setiap gerak-gerik tamu yang datang tanpa undangan di tengah malam ini."Ampun, Baginda," ucap pejabat yang paling tua, suaranya parau oleh usia, kepalanya nyaris menyentuh lantai saat membungkuk dalam-dalam.Erion menegakkan duduknya, gerakan yang penuh otoritas, lalu melipat tangan di atas meja. "Bangunlah, dan bicara yang jelas. Waktu istirahatku terlalu berharga untuk sekadar melihat kalian
Read more