“Lepas… Lepaskan aku, Karel!”Mata Yasmin mendadak terbuka lebar. Ia langsung bangkit dari ranjang dengan berteriak ketakutan, hingga mengabaikan rasa sakit yang menghantam bahunya.Matanya bergerak liar ke segala arah, napasnya memburu, dan tangannya mencengkeram udara kosong seolah-olah sedang mencari pegangan.“Yasmin! Tenanglah, ini aku!” Erion segera menangkap kedua tangan Yasmin, menahannya dengan lembut tapi tetap erat agar wanita itu tidak melukai dirinya sendiri.Yasmin meronta, kekuatannya yang dipicu oleh trauma membuat Erion harus mengerahkan tenaga lebih.“Lepaskan! Karel... Karel ada di sana!” jerit Yasmin, matanya menatap lurus namun kosong, seolah pemandangan di depannya bukanlah Erion, melainkan mimpi buruk yang terus mengejarnya.Erion menangkup kedua pipi Yasmin yang masih terasa sangat panas, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya. “Yasmin, lihat aku! Tatap mataku! Tidak ada Karel di sini. Kau aman bersamaku. Hanya ada aku disini, Erion!”Mendenga
Read more