Keheningan paviliun pecah oleh ketukan halus yang berulang. Yasmin membuka mata, mengerjap pelan dan turun dari tempat tidur, menyeret langkah menuju pintu kayu besar. Pintu terbuka, sosok Fatim berdiri di sana, tidak mengenakan seragam harian, melainkan jubah putih kusam dengan wajah yang sangat pucat.“Fatim? Ada apa malam-malam begini?” tanya Yasmin heran.“Mohon ampun, Tuan Putri. Boleh ijinkan hamba masuk?”Ia masuk dengan langkah kaku setelah Yasmin memberi ruang. Begitu pintu tertutup rapat, Fatim langsung menjatuhkan diri ke lantai. Ia bersujud hingga dahinya menyentuh ubin dingin.“Ampuni hamba, Tuan Putri. Beribu ampun atas lancangnya hamba mendatangi Anda saat jam istirahat,” ratap Fatim.Yasmin berlutut, mencoba menyentuh bahu Fatim agar wanita itu berdiri. “Bangunlah, Fatim. Kau membuatku takut. Ada apa sebenarnya?”Fatim mengangkat wajahnya. Matanya merah, air mata membasahi pipinya yang cekung. “Hamba mendapat petunjuk malam ini. Sebuah penglihatan yang sangat gelap,
Read more