Saat Kael pulang bersama Jaya, Rere sudah ada di rumahnya. Gadis itu sedang membantu si kembar mengerjakan PR di teras. “Hai, Kael,” sapa Rere, yang cuma dibalas anggukan kecil. Di sebelah Kael, mata Jaya berbinar melihat Rere ada di teras. Dengan gaya sok kerennya, lelaki itu menyapa Rere sambil dadah-dadah. “Halooo, Rere… makin seger aja.” “Seger, emang sayuran!” celetuk Lior, memelotot galak pada teman abangnya itu. “Yee, emang yang seger cuma sayuran doang!” “Kak Re, jangan mau digombalin Bang Jay. Ntar ketularan jamet,” ujar Kaia pada Rere, tampangnya terlihat serius, tapi sejurus kemudian dia tertawa ngakak melihat muka kesal Jaya. Satu kali aja! Jaya tidak berharap banyak. Satuuuu kali bisa tidak, bocah kembar itu tidak membuatnya kesal? Sebelum emosinya meletus, Kael segera menyeret Jaya masuk. “Kalau lo ladeni, lo bisa mati muda,” ucap Kael. Dia membuka kulkas, mengambil dua minimum dingin. Satu dia lempar ke arah Jaya. “Jangan sampai ketampanan lo tiap har
Read more