“Rere sudah tidur?” Cade mendorong perempuan dengan daster tipis itu ke dinding sebelum melumat bibirnya dengan rakus. Tidak peduli pukulan ringan yang dilakukan perempuan itu, dia terus mendesak. Bahkan tangannya dengan nakal melewati ujung daster itu, dan menyentuh dengan kurang ajar daerah terlarang. “Kamu beneran nggak sabaran,” ucap perempuan itu dengan napas terengah ketika Cade mengurai ciumannya. Meski begitu tangan lelaki itu tidak berhenti bergerilya, menyusuri tiap lekukan indah miliknya yang sempurna.“Rere baru aja tidur. Jangan berisik.” Perempuan itu terkekeh pelan. Tangannya menyilang di depan dada ketika ada tanda-tanda Cade akan menyasar payudaranya. “Aku nggak berisik,” bisik Cade. “Suara desahan kamu yang berisik, Mella Sayang.” “Dasar!” Perempuan bernama Mella itu terpekik tertahan ketika Cade menggendongnya, membawanya menuju sofa. “Nggak, nggak, nggak. Kita nggak akan melakukannya di sini,” tolak Mella saat Cade mendesaknya lagi. “Aku nggak peduli, Sayang
Magbasa pa