“Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan
อ่านเพิ่มเติม