Keheningan di ruang bawah tanah itu terasa begitu mencekam, seolah udara pun enggan berdesir. Pak Jono masih berdiri di antara Tuan Broto dan Baskara, dengan sorot mata yang tetap tenang namun waspada. Tangan Jono sudah terangkat, memberi sinyal agar tidak ada yang bergerak gegabah."Bi, jangan …," bisik Baskara, namun Bi Yanti hanya menggeleng pelan. Ia melangkah maju, membiarkan tubuhnya terpapar langsung di depan Tuan Broto.Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kerendahan hati, Bi Yanti berlutut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang sangat kontras dengan situasi kacau tadi."Mohon ampun, Tuan Besar," suara Bi Yanti bergetar, namun terdengar tulus. "Saya benar-benar khilaf. Saya tidak bermaksud menyerang Tuan. Ketakutan saya melihat pistol itu membuat saya kehilangan akal sehat. Mohon maafkan saya, Tuan. Saya hanyalah pelayan tua yang bodoh."Tuan Broto terdiam, napasnya masih memburu, namun amarahnya sedikit tertahan oleh pemandangan di de
Read more