Keheningan yang tersisa di garasi timur itu terasa lebih menyesakkan daripada ancaman Tuan Broto. Lastri berdiri di sana, di antara dua wanita yang menatapnya dengan api cemburu yang siap membakar.Sari, dengan tangan yang berkacak pinggang, maju selangkah. Matanya menyipit, tajam menghujam Lastri. "Alasan, Mbak Lastri? Di tengah malam begini, di gudang tua yang pengap, bersama sopir pribadi? Jangan anggap kami wanita bodoh."Sekar, yang berdiri di samping Sari, menambahkan dengan suara yang bergetar menahan amarah, "Iya, Mbak. Kami bukan anak kecil. Lastri, apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini bersama Baskara? Kamu Nyonya di rumah ini, setidaknya bersikaplah seperti Nyonya!"Lastri hanya membuang napas pelan. Wajahnya tetap tenang, seolah ia sedang menghadapi pelayan yang tidak becus menyapu lantai, bukan dua wanita yang sedang menuntut penjelasan atas perselingkuhan yang nyata. Ia merapikan sedikit helai rambutnya yang sempat berantakan, gerakan itu dilakukan dengan keanggunan
Read more