Baskara menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang sempat berpacu liar. Di hadapannya, pintu kayu jati ukir setinggi tiga meter itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma cerutu mahal dan bau obat-obatan yang menyengat. Pak Jono memberi isyarat dengan anggukan kepala yang kaku, sementara dua pengawal berbadan tegap tetap berjaga di depan pintu laksana patung tak bernyawa.Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Tuan Broto duduk di balik meja kerja marmernya. Cahaya lampu meja hanya menyinari separuh wajahnya yang keriput, menciptakan bayangan yang mengerikan di dinding. Tangan pria tua itu menggenggam erat kepala tongkat peraknya yang berbentuk naga."Duduk, Baskara," suara Broto berat, serak, dan penuh penekanan.Baskara melangkah maju dan duduk di kursi kayu di depan meja besar itu. Ia menjaga punggungnya tetap tegak, matanya menatap lurus ke arah sang majikan. Di balik kemejanya, selembar foto tua itu terasa seperti membakar kulit dadanya, namun ia tetap bersikap tena
Read more