Lastri, yang selama ini selalu dituntut untuk tampil sebagai pilar yang kuat dan tenang di tengah badai intrik Menteng, kini merasa benteng pertahanannya runtuh total. Lastri bangkit dari kursi jatinya dengan gerakan yang nampak lambat, seolah waktu sedang menahan napas. Ia melangkah memutari meja kecil itu, menanggalkan jarak sosial yang selama ini memisahkan kasta mereka, lalu mendekati Baskara yang masih terduduk mematung.Tanpa keraguan yang biasanya menghantui, Lastri menjatuhkan dirinya, duduk menyamping di pangkuan Baskara. Gerakan itu begitu alami, seolah tubuhnya sudah lama merindukan posisi ini. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Baskara, mengunci pria itu dalam pelukan yang sangat erat, pelukan seorang wanita yang takut kehilangan satu-satunya pegangan di dunia yang kejam.Ia menempelkan kepalanya di dada bidang Baskara, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama tenang namun kuat di balik kain kemeja seragamnya. Bagi Lastri, detak jantung itu adalah musi
Read more