Share

Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua
Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua
Author: Ivy

Bab 1

Author: Ivy
Setelah lebih cepat selesaikan bisnis perdagangan senjata di Mojoro, aku langsung terbang kembali ke Sidolang.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.

Aku ingin kasih kejutan ke suamiku, Ketua Mafia Andi Pratama.

Aku masuk ke gedung ruang kantornya dengan langkah pelan-pelan.

Rencanaku sederhana, sembunyi di ruang istirahat kantornya Andi dan lompat keluar untuk peluk dia setelah rapatnya selesai.

Melalui pintu yang setengah terbuka, aku lihat Andi duduk di balik meja hitam itu.

Wajahnya tegang dan serius saat ia dengarkan Malik Suseno, tangan kanannya laporkan kerugian dari operasi penyelundupan di pelabuhan.

“Bos, kiriman itu disita bea cukai. Kerugian kita sekitar 48 miliar,” kata Malik dengan nada hormat.

Aku sedang pikirkan gimana caranya hibur Andi atas kerugian itu, ketika sesuatu buat darahku seketika membeku.

Kepala berambut keemasan muncul dari bawah meja.

Intan Juwita, sekretarisnya.

Ia berlutut di antara kaki Andi, dengan cekatan buka kancing celananya.

Kepalanya bergerak naik turun dalam irama yang buat perutku terasa mual.

Jantungku serasa berhenti berdetak.

Andi terus bicarakan urusan bisnis dengan Malik seolah-olah wanita di antara kakinya itu nggak ada.

Nggak ada sedikit pun perubahan pada ekspresinya.

“Rute pengiriman bulan depan harus diatur ulang,” kata Andi.

Suaranya tetap tenang, namun aku bisa dengar getaran kenikmatan di baliknya.

Setelah Malik mengangguk dan pergi, Andi tarik Intan dan angkat dia ke atas meja.

Ia robek blus sutra wanita itu dengan kasar. Kancing-kancing berhamburan ke lantai.

“Sayang, kamu kasar sekali hari ini .…” desah Intan sambil lingkarkan lengannya di leher si pria.

Andi terkekeh pelan, tangannya nggak berhenti gerak.

“Pelan-pelan. Baju ini Sinta yang pilih. Aku nggak mau bajunya kusut, nanti harus jelaskan padanya lagi.”

Intan tertawa menggoda.

“Bisa nggak Istrimu layani kamu seperti aku layani kamu saat rapat?”

Suara Andi berat oleh gairah.

Tangannya meremas dada si wanita.

“Sinta terlalu kaku, bikin bosan. Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu, dasar wanita nakal.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Air mata kaburkan penglihatanku.

Hatiku terasa seperti sedang diiris pisau. Setiap sayatan terasa semakin dalam.

Tiga tahun pernikahan.

Apa ini cara dia menilai aku?

Terlalu kaku. Bikin bosan.

Erangan itu terus berlanjut selama satu jam penuh.

Perlahan-lahan hatiku jadi mati rasa oleh rasa sakit yang membakar.

Aku tunggu sampai Andi dan Intan pergi sebelum akhirnya keluar dari gedung kantor.

Angin dingin di luar terasa seperti pisau yang mengiris wajahku.

Di alun-alun, layar LED raksasa sedang putar rekaman pernikahan kami tiga tahun lalu.

Upacara senilai 80 triliun yang oleh media dijuluki sebagai pernikahan termegah abad ini.

Di layar, Andi berlutut dengan satu kaki.

Ia pegang cincin berlian merah muda sepuluh karat dengan kedua tangan.

Suaranya khidmat saat ucapkan janji.

“Sinta, aku bersumpah atas nyawaku untuk lindungi kamu dan cintai kamu selamanya.”

Orang-orang yang lewat berhenti untuk nonton. Suara mereka dipenuhi rasa kagum dan iri.

“Lihat betapa besar cinta Andi ke istrinya!”

“Ini baru namanya cinta sejati!”

Aku berdiri di tengah kerumunan, menatap pria penuh cinta di layar.

Bayangan Intan di antara kakinya terlintas di benakku.

Ironi itu terlalu menyakitkan.

Satu jam kemudian, aku masuk ke pusat perdagangan pasar ilegal terbesar di Sidolang.

Tempat ini dipenuhi segala jenis transaksi kotor yang nggak bisa dibayangkan.

Namun mereka punya satu aturan, kerahasiaan yang mutlak.

“Sinta?” Suara serak muncul dari balik asap rokok.

“Kalau suamimu tahu kamu ada di sini, dia akan jungkir balikkan seluruh Itahera.”

Aku nggak mau buang waktu dengan basa-basi.

Aku dorong sebuah tas berisi berlian mentah ke atas meja.

“Bantu aku palsukan kematianku dan siapkan identitas baru untukku,” kataku setenang sedang bicarakan cuaca.

“Aku ingin Sinta Bashar hilang dari dunia ini.”

Pria itu tampak terkejut.

“Kenapa? Ketua Mafia Andi kan cinta mati-matian ke kamu. Seluruh Sidolang tahu itu.”

“Itu bukan urusanmu,” potongku.

Suaraku begitu tegas hingga aku sendiri terkejut.

“Berapa lama bisa siap?”

“Aku harus tanya ke bosku.” Ia keluar untuk telepon.

Nggak lama kemudian ia kembali.

“Lima hari. Semuanya akan siap.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 20

    Sudut Pandang Andi.Setelah tiga hari tiga malam nggak sadarkan diri, akhirnya aku berhasil lolos dari cengkeraman maut.Kesadaranku perlahan kembali, dan rasa sakit yang tajam tembus dadaku.Aku buka mata dengan susah payah.Ruang rumah sakit itu begitu sunyi.Aku menoleh dan lihat Sinta duduk di samping ranjangku.Ia duduk di kursi, sebuah buku berada di tangannya.Rambutnya diikat longgar, wajahnya tenang dan begitu cantik.Rasa bahagia langsung meledak di mata kelabuku.Dia jagain aku. Dia benar-benar jagain aku!Apa ini berarti peluru yang aku terima akhirnya berhasil rebut hatinya lagi?Aku ulurkan tangan gemetar, ingin sentuh ujung jarinya.“Sinta, kamu jagain aku. Apa itu artinya aku masih punya tempat di hatimu?” Suaraku parau dan pecah.Jantungku berdegup kencang penuh harap.Mungkin … mungkin kami masih punya kesempatan. Mungkin dia akan maafkan aku.Mungkin peluru itu benar-benar bisa tebus semua dosaku.Sinta hindari sentuhanku tanpa ekspresi. Ia tutup bukunya dan menatapk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 19

    Sudut Pandang Andi.Aku menerobos lantai paling atas menara jam itu dan lihat Sinta terikat di sebuah kursi.Intan berdiri di belakangnya, genggam detonator di tangannya.Doni tiba hampir bersamaan, dan mata kami saling bertaut sesaat.Intan menatap kami berdua lalu tertawa histeris.“Haha! Lihat ini! Dua pria terkuat di dunia ini sama-sama pertaruhkan nyawa demi satu wanita!”Ia jambak rambut Sinta dengan kasar dan tekan detonator ke dadanya.Sinta meringis kesakitan, tetapi nggak keluarkan suara.Di matanya nggak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tegar.Hatiku terasa diremas keras.Dia masih setegar itu, masih secantik itu.“Andi, bukannya demi dia kamu ingin bunuh aku? Sekarang aku kasih kamu kesempatan. Datang ke sini dan tukar nyawamu dengan nyawanya.” Intan tertawa gila.Suara hitung mundur bergema di seluruh gedung.“Sepuluh menit … sembilan menit lima puluh sembilan detik … sembilan menit lima puluh delapan detik ….”Titik-titik cahaya merah menari di wajah kami.Udara teras

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 18

    Sudut Pandang Sinta.Ruang ganti gaun pengantin bermandikan cahaya keemasan.Doni telah terbangkan para penjahit paling bergengsi di dunia hanya untuk momen ini.Mereka bantu aku kenakan gaun pengantin yang bertabur sepuluh ribu berlian.Gaun ini butuh waktu enam bulan untuk diselesaikan.Setiap berlian dipilih satu per satu dan ditempatkan dengan sempurna.Aku berdiri di depan cermin setinggi lantai, menatap bayanganku.Sutra putih itu membalut lekuk tubuhku dengan sempurna.Kilau berlian memantul di bawah cahaya, memukau hingga buat napas tertahan.Doni berdiri di belakangku, betulkan kerudungku dengan sangat hati-hati.Gerakannya lembut dan teliti.“Kamu akan jadi pengantin tercantik di dunia,” bisiknya.Ia kecup dahiku dengan penuh kasih.Aku menatap pantulan kehidupan damai di cermin, hatiku terasa tenang.Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.Besok aku akan jadi istri Doni.“Aku harus terima telepon penting, lima menit lagi aku akan kembali,” kata Doni dengan nada minta maaf.“Ngga

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 17

    Sudut Pandang Sinta.Doni menerobos masuk ke dalam ruangan dengan bau mesiu yang menyengat.Pakaiannya berlumuran darah, dan matanya dipenuhi niat membunuh.Begitu lihat aku dirantai di ranjang, wajahnya langsung berubah murka.“Bajingan terkutuk!”Ia hantam dinding hingga buku-buku jarinya pecah dan berdarah.Namun ia nggak peduli dengan rasa sakit itu. Tangannya gemetar saat buka rantai di pergelangan tanganku.Dengan suara tajam, rantai itu terlepas.Aku bebas.“Sinta, sayangku ….”Matanya memerah saat ia periksa aku berulang kali, pastikan nggak ada luka.“Dia sentuh kamu? Dia sakitin kamu?”Suaranya serak karena ketakutan.“Maaf. Aku gagal lindungi kamu. Ini nggak akan pernah terjadi lagi.”Aku menatap pria yang hampir korbankan segalanya demi selamatkan aku.Ia kerahkan seluruh pasukan tentara bayarannya, hancurkan setengah Sidolang, semuanya hanya demi selamatkan aku.Cinta ini begitu dalam dan membara.“Aku nggak apa-apa kok. Bawa aku pulang.”Doni sembunyikan wajahnya di lekuk

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 16

    Sudut Pandang Sinta.Selama beberapa hari berikutnya, Andi penuhi semua kebutuhanku.Setiap pagi ia muncul tepat waktu di kamarku.Bantu aku cuci wajah, ganti pakaian.Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut sedikit saja bisa lukai aku.Namun aku tetap diam membisu.Ia masak sendiri hidangan penutup kesukaanku.Puding mangga, es teler, dan pai lemon yang paling aku suka.Lalu ia berlutut di samping ranjang dan suapi aku sedikit-sedikit.“Ayo, buka mulutmu, Sinta, Ini pai lemon kesukaanmu,” katanya lembut.Aku rapatkan bibir, tolak untuk makan.Ia tunggu dengan sabar, sendok itu tetap menggantung di depan bibirku.“Kalau kamu nggak mau makan, nanti kamu sakit.”Aku tiba-tiba buka mulut, bukan untuk makan. Aku gigit jarinya sekuat tenaga.“Ah!” Andi berseru kesakitan.Darah mengalir dari ujung jarinya.Namun ia nggak tarik tangannya, hanya mengernyit pelan.“Sinta, nggak apa-apa kalau kamu mau gigit aku, asal itu bisa buat lega.”Aku lepaskan jarinya dan menatapnya dingin.Ia mengelap

  • Ketua Mafia Memohon Kesempatan Kedua   Bab 15

    Sudut Pandang Sinta.Sebulan kemudian, hari pertunangan itu pun semakin dekat.Aku berdiri di ruang ganti, menatap bayanganku di cermin, mengenakan gaun putih.Gaun itu Doni yang pilih sendiri untuk aku.Sederhana, anggun, tepat seperti seleraku.Besok aku akan jadi tunangannya.Pikirkan itu, hatiku terasa tenang.Dibandingkan pernikahanku yang menyakitkan dengan Andi, pilihan ini terasa begitu benar.Doni cinta aku, hormati aku, dan nggak akan pernah khianati aku.Saat aku hendak lepas gaun itu, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka.Andi masuk.Ia tampak seperti orang yang bukan lagi manusia.Wajahnya cekung, janggutnya nggak terurus. Jelas ia sudah lama nggak tidur nyenyak.“Gimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana penjaga keamanannya?” tanyaku waspada.Andi nggak jawab.Ia justru berlutut di hadapan ujung gaun putihku yang bersih.Dengan rendah diri, ia raih kedua tanganku.“Sinta, aku telah hancurkan segalanya di Sidolang. Aku cuma mohon satu hal, kembali ke aku. Ayo kita mulai dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status