Share

Bab 53

Auteur: Skyy
last update Date de publication: 2026-03-18 21:36:19

Di luar pabrik.

Bram menyeringai lebar saat melihat sinyal “siap” dari anak buahnya. Preman-preman biasa sudah ditarik mundur.

Matanya menatap ke dalam pabrik, tempat bayangan Arka bergerak samar di antara reruntuhan.

Permainan kucing dan tikus… akhirnya mencapai puncaknya.

“Ravian…” gumamnya lirih, suaranya serak seperti gesekan logam. “Lihat baik-baik. Hari ini, Paman akan mengirim mereka semua menyusulmu.”

Ia menarik napas dalam, lalu menekan komunikator. “Eksekusi!”

BAAM!

Ledakan pertama, d
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 100

    Sementara itu, Clarissa Wijaya panik di sudut lain ibu kota.“Reza Dirgantara! Ini yang kau sebut titik lemah?! Kau mau membunuhku?! Tarik semua orangmu sekarang!”Jawaban di ujung telepon membuat wajahnya pucat.“Apa? Kau tidak tahu posisi mereka?!”Reza menghapus keringat dingin. Ia mengaku telah membocorkan informasi kepada Armand.“Bodoh!!” Clarissa memaki.Telepon ditutup. Ia langsung menghubungi Armand.Nomor tidak aktif.Tubuhnya melemas. Ia terhuyung menuju Rendra. “Rendra… aku tidak bisa menghubungi dia… mungkin dia yang menculik…”Rendra hanya menjawab singkat. “Begitu ya.”Ia berjalan ke balkon, menutup pintu, dan menghubungi sebuah nomor.***Sementara itu, di pinggiran Kota Mahatara.CIIIT!Mercedes-Benz meluncur cepat lalu berhenti mendadak.Arka turun dan angin malam menerpa perlahan. Namun pemandangan di depannya membuat matanya menyempit.Seluruh kediaman lama Keluarga Wijaya dipenuhi kain putih. Spanduk duka bergoyang dan uang kertas berserakan.Suara gemerisik angin

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 99

    Clarissa mendengus, menyalakan rokok tipis. “Jangan berlebihan, dia cuma membantu aku menyingkirkan Arka. Orang tanpa latar belakang.”Rendra tertawa dingin. “Tanpa latar belakang? Kalau dia tanpa latar belakang, tak ada seorang pun di kota ini yang punya.”“Apa maksudmu?” Keraguan mulai muncul di wajah Clarissa. “Siapa sebenarnya dia?”Rendra menatapnya lurus. “Kakeknya… Letnan Jenderal (Purn.) Mahendra Wiratma. Veteran perang dengan jasa besar.”Deg!Wajah Clarissa langsung pucat. Ia tahu betapa mengerikannya gelar itu. Itu bukan sekadar masa lalu, tapi jaringan kekuatan yang tak terlihat.“Tidak mungkin!” gumamnya. “Aku sudah menyelidikinya, dia cuma pria tua biasa.”“Beberapa masa lalu memang tidak bisa dilacak,” jawab Rendra. “Bukan karena tidak ada, tapi karena sengaja disembunyikan.”Ia menarik napas. “Yang paling berbahaya sekarang, siapa yang menculiknya?” Tatapannya berubah tajam. “Clarissa, ini bermula dari Keluarga Wijaya. Katakan jujur, apa kau yang mengatur ini?”Clariss

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 98

    Aula yang sebelumnya riuh langsung membeku.Keira berdiri di sana, wajahnya pucat tanpa riasan, mata merah dan sembap, bibirnya kering. Ia tampak seperti bunga yang baru saja dihantam badai. rapuh, hampir layu, dan membawa aura kehancuran yang menusuk.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Ia melihat para paman yang dulu tersenyum kini menghindar. Sebagian acuh, sebagian dingin, bahkan ada yang menyembunyikan senyum puas. Ia melihat kerabat lain yang sibuk menjilat Ravian, seolah dirinya sudah menjadi masa lalu. Ia melihat Rudi berdiri dengan wajah puas, seakan duri yang mengganggu akhirnya tercabut.Keira memperhatikan satu per satu, menghafal setiap wajah. Tak ada rasa bersalah maupun penyesalan. Bahkan simpati pun tidak.Hatinya jatuh ke dasar yang paling dingin.Akhirnya ia menatap Ravian. “Ravian, sekarang kau sangat bangga, ya?” suaranya serak.Ravian tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lebar dan merapikan kerah jasnya. Sikapnya sudah cukup menjelaskan.Keira mengalihkan pandangan,

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 97

    Dentuman musik menghantam telinga seperti gelombang. Lampu remang berpendar, aroma alkohol bercampur parfum memenuhi udara. Beberapa wanita berpakaian minim menempel pada Julian, tubuh mereka melilit seperti sulur.“Tuan Julian, lupakan telepon tadi… kita lanjut saja…” bisik salah satu wanita, bibirnya hampir menyentuh telinga pria itu.Julian merangkul pinggangnya, jari-jarinya mengusap kulit halus wanita itu. Namun pandangannya sempat melirik ponsel yang kini mati. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.“Sial!” gumamnya, mencoba terdengar santai. “Orang kampung dari Kota Mahatara berani menantangku? Dia kira aku mudah ditekan?”Ia menarik wanita itu lebih dekat dan berteriak ke seluruh ruangan. “Kenapa berhenti?! Musik terus! Semua minuman malam ini aku yang bayar!”Sorak sorai langsung pecah, musik kembali menggila dan tubuh-tubuh bergoyang liar. Julian mencoba larut lagi dalam pesta.Namun kata-kata Arka terus terngiang di kepalanya.Dentuman musik kini terasa mengganggu. Sentuh

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 96

    Arka menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran yang mengganggu. Ia menuju dapur, membuka lemari es yang hampir kosong. Dengan gerakan cepat, ia mencuci, memotong, lalu memasak.Tak lama kemudian, dua hidangan sederhana tersaji, sepiring kacang tumis dan telur orak-arik daun bawang. Ia juga mengambil sebotol minuman favorit kakeknya dan menuangkannya ke dua gelas.Di bawah lampu kuning hangat, uap tipis mengepul dari gelas. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan. Arka duduk di sofa, menatap jam dinding tua yang berdetak perlahan. Sudah lama ia tidak duduk santai sambil minum bersama kakeknya.Waktu terus berjalan.Langit di luar benar-benar gelap. Makanan di meja sudah dingin. Arka menghangatkannya lagi. Minuman juga dipanaskan ulang. Namun langkah kaki familiar itu tak kunjung terdengar.Perasaan tak nyaman mulai merayap.“Mungkin bertemu teman catur di taman…” gumamnya mencoba menenangkan diri.Ia bahkan mencoba bercanda.“Atau jangan-jangan… kakek lagi ngobrol dengan nenek-nenek dan l

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 95

    “Mereka semua menekanku! Di rumah, kakek dan keluarga memaksaku! Di sini, kau juga menjauh dariku?! Kenapa…?! Kenapa aku tidak punya tempat aman…?”Air matanya membasahi kemeja Arka. Tubuh pria itu menegang. Tangannya sempat terangkat lalu jatuh kembali.Keira tersedu. “Mereka menyuruhku mendekatimu, tapi aku tidak mau hubungan kita jadi seperti itu. Ya, aku salah tidak percaya padamu, tapi perasaanku nyata!”Ia mengangkat wajahnya yang basah. “Aku tidak melihatmu beberapa hari ini, rasanya kosong. Aku cuma ingin melihatmu, walau tidak bicara. Makanya aku datang ke sini, aku tahu ini memalukan, tapi aku takut kau tidak mau menemuiku!”Tangisnya berubah lirih. Ia mundur setengah langkah, tapi matanya tetap menatap Arka dengan penuh harap. “Arka…” suaranya serak. “Jangan abaikan aku, ya?”Melihat Keira terisak tanpa henti di pelukannya, seluruh aura dingin wanita itu runtuh total. Arka merasakan campuran emosi memenuhi dadanya, namun akhirnya hanya tersisa helaan napas panjang yang nyar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status