Share

Bab 53

Author: Skyy
last update publish date: 2026-03-18 21:36:19

Di luar pabrik.

Bram menyeringai lebar saat melihat sinyal “siap” dari anak buahnya. Preman-preman biasa sudah ditarik mundur.

Matanya menatap ke dalam pabrik, tempat bayangan Arka bergerak samar di antara reruntuhan.

Permainan kucing dan tikus… akhirnya mencapai puncaknya.

“Ravian…” gumamnya lirih, suaranya serak seperti gesekan logam. “Lihat baik-baik. Hari ini, Paman akan mengirim mereka semua menyusulmu.”

Ia menarik napas dalam, lalu menekan komunikator. “Eksekusi!”

BAAM!

Ledakan pertama, d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 247

    Sorot mata Lorenzo berubah lebih tajam. “Oh? Aku akan mendengarkan.”“Sejauh yang kutahu,” lanjut Wiranata tenang, “Rama dan anak buahnya memang bentrok dengan pasukan Levino di dekat Bar Mahkota. Namun konflik itu muncul karena kedua pihak sama-sama mencoba mengendalikan situasi.”“Dengan kata lain, bentrokan itu terjadi karena kekacauan di lapangan,” Ia berhenti sepersekian detik sebelum melanjutkan dengan nada lebih dalam. “Dan orang yang benar-benar membunuh Levino… Bukan Rama.”Ruang dewan langsung terasa semakin sunyi.Wiranata kembali berbicara perlahan. “Berdasarkan bukti di lokasi dan informasi yang berhasil kami kumpulkan, peluru itu berasal dari seorang sniper misterius di menara. Senjatanya adalah Ragnar AX.”Kilatan dingin muncul di mata Lorenzo, tetapi wajahnya tetap tidak berubah.“Sniper itu sangat mungkin berkaitan dengan Keluarga Mahesa. Atau setidaknya, seseorang yang mereka sewa dengan harga sangat mahal,” nada suara Wiranata tetap stabil. “Tujuannya sederhana, memb

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 246

    Lorenzo tetap diam beberapa saat. Jemarinya yang tadi mengetuk sandaran kursi perlahan berhenti. Sementara sorot matanya terlihat semakin dalam, seolah sedang menghitung semua kemungkinan di kepalanya.Sindikat Taring Ular harus dihancurkan. Ini bukan lagi sekadar urusan balas dendam, tetapi juga tentang membersihkan elemen liar yang berani mengarahkan taringnya ke Keluarga Montara.Sementara itu, Keluarga Mahesa juga tidak kalah mencurigakan. Wilayah, jalur perdagangan, dan koneksi mereka di Zona Bayangan sudah lama menjadi incaran Keluarga Montara.“Reginald benar.” Lorenzo akhirnya membuka suara lagi. Nada bicaranya tetap tenang, tetapi tekanan di dalam ruangan langsung berubah semakin berat. “Sindikat Taring Ular harus dihapus dari peta.”Ia sedikit mengangkat dagunya. “Rama harus hidup. Yang lain… habisi semuanya.”Sorot matanya bergeser ke arah Reginald. “Kau yang tangani urusan ini. Kerahkan tim Gagak Senyap dan Rahang Besi, aku ingin hasil dalam tiga hari.”“Baik, Patriark!” J

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 245

    Lorenzo akhirnya membuka suara. “Ceritakan semuanya.”Nada bicaranya pelan dan tenang, namun setiap kata terasa seperti es tajam yang menghantam lantai. “Apa yang sebenarnya terjadi di Bar Mahkota? Bagaimana putraku bisa mati?”Tok. Tok. Tok.Jemarinya mengetuk-ngetuk ringan sandaran kursi.“Jelaskan semuanya, jangan melewatkan detail sekecil apa pun.” Ia berhenti sepersekian detik. “Dan jangan mencoba melebih-lebihkannya.”Kalimat terakhir itu langsung membuat ketiga pria di bawah sana semakin pucat.Salah satu dari mereka, pria bertubuh kurus dengan luka tembak di bahu, menarik napas berat sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara serak.“Tuan Muda awalnya ingin memanfaatkan konflik antara Keluarga Mahesa dan Sindikat Taring Ular di Bar Mahkota. Beliau ingin mengambil alih wilayah sekitar bar dan mencari kesempatan untuk melemahkan Keluarga Mahesa sekaligus merebut jalur Perairan Duskara.”Ia mulai menjelaskan semuanya secara rinci.Mulai dari kedatangan mereka di Kota Vantara,

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 244

    “Obati kembali luka yang terbuka tadi, dan awasi semua tanda vitalnya.” Nada suaranya tetap tenang dan jelas. “Terutama aliran darah, respons saraf, serta perubahan hormon dan sistem hormonnya. Catat semua perubahan sebelum dan sesudah dia meminum pil itu.”Wiraputra langsung mengangguk serius.Namun Arka belum selesai. “Ambil satu pil dari botol penawar itu. Lalu lakukan analisis komponen sedetail mungkin.”Pandangan matanya kembali jatuh pada botol porselen hijau di meja. “Aku ingin tahu sebenarnya benda itu terbuat dari apa, dan kenapa reaksinya berubah menjadi penekanan, pemulihan sesaat, lalu langsung memburuk seperti tadi.”Wiraputra dan Vanessa saling bertukar pandang. Keduanya bisa melihat keterkejutan dan kebingungan di mata masing-masing. Semua yang terjadi malam ini benar-benar sudah melampaui pemahaman medis biasa.“Tuan Arka…” Wiraputra akhirnya membuka suara pelan. “Apa menurut Anda penawar itu memang bermasalah?” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Atau mungkin… i

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 243

    Akari mengeluarkan suara lirih penuh frustasi dan kembali meronta lebih keras.Arka membuka tutup botol lalu mendekatkannya ke hidung. Aroma pahit bercampur dingin langsung tercium samar, berbeda jauh dari aroma manis memabukkan milik Inti Racun Hasrat Merah. Baunya memang lebih mirip obat penawar.Namun ia tetap tidak lengah. Pandangan matanya sekilas memeriksa isi botol. Di dalamnya terdapat sekitar belasan pil kecil berwarna cokelat tua sebesar biji kedelai.Arka menuangkan dua butir ke telapak tangannya sebelum menutup kembali botol tersebut. “Buka mulutmu.”Kali ini Akari langsung menurut tanpa ragu sedikit pun. Ia bahkan nyaris merebut pil itu dengan rakus, seolah tubuhnya sudah tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Dua pil langsung ditelan.Beberapa detik kemudian, tubuh wanita itu mendadak menegang. Lalu mulai bergetar hebat. Namun kali ini bukan getaran penuh hasrat seperti sebelumnya, melainkan kejang keras seolah ada dua kekuatan yang sedang saling bertabrakan di dalam tu

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 242

    “Panas…” Suaranya terdengar samar dan serak. “Tubuhku…”Vanessa langsung menyipitkan mata melihat perubahan drastis itu. Sementara Bramanta tanpa sadar mengernyit karena tekanan suasana di ruangan mulai terasa semakin aneh dan tidak nyaman.Efek Inti Racun Hasrat Merah jelas jauh lebih mengerikan dibanding yang mereka bayangkan sebelumnya.Sorot mata Akari perlahan kehilangan fokus. Namun di tengah kabut hasrat yang mulai melahap kesadarannya, pandangannya perlahan berhenti pada Arka. Pria yang berdiri paling dekat dengannya. Aura dingin dan tekanan kuat dari tubuh Arka seperti menjadi satu-satunya titik yang masih mampu ditangkap naluri tubuhnya saat ini.“Aku… aku mohon…” Napas Akari semakin tidak teratur. “Berikan penawarnya…”Tubuhnya bergerak gelisah mencoba mendekat, meski luka-luka di tangan dan kakinya kembali terbuka akibat gerakan berlebihan. Darah mulai merembes keluar dari balik perban. Namun wanita itu seperti sudah tidak lagi merasakan sakit, yang tersisa hanya dorongan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 19

    Setelah meninggalkan rumah keluarga Adhistya dan masuk ke dalam mobil, Keira akhirnya bersandar lelah di kursi, matanya tertutup.Seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya.“Apakah ini sepadan?” Suara Arka tiba-tiba terdengar dari kursi pengemudi. “Memusuhi keluarga Wijaya demi seorang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 18

    “Jika seseorang menyentuhmu, itu sama saja menyentuhku. Lagipula, aku yang membayarmu!”“Nasibmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan orang lain. Hanya aku yang berhak menentukan.”Kalimat itu menggantung di udara.Nada posesif yang jelas membuat keduanya terdiam sejenak.Sekilas rasa tidak nyaman me

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 17

    Arka mengangguk, ia bahkan tidak lagi menoleh ke arah Mireya. Langkahnya langsung menuju ruang perawatan.Mireya memperhatikan punggung pria itu, ia menggigit bibirnya kesal. Separuh tujuannya tercapai, namun anehnya ia tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Akhirnya ia berbalik dan pergi.***Di da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 16

    Bibir merahnya hampir menyentuh bibir Arka.Namun detik berikutnya, Arka sudah melepaskan tangannya.Ia mundur satu langkah. “Jangan bermain api.”Mireya tertawa pelan. “Aku memang suka bermain api.”Tatapannya kemudian berubah lebih tajam. “Yang membuatku penasaran,” katanya sambil menatap Arka lu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status