“Kalau kita nikah, tinggal bareng—kayak Hesti … di rumah bareng ortu kamu?” tanya Patra begitu Talia membawa nampan berisi teko tinggi berisi air dingin, sebotol jus jambu, dan dua gelas berisi es batu. Sementara itu, sejak lima belas menit lalu, Patra menunggu di teras. Hari ini orang tua serta kakek dan nenek Boris, si pemilik rumah vertikal, datang. Menginap selama beberapa minggu. Jadi, Patra tidak seleluasa itu bermalam atau santai berlama-lama bersama pacarnya. Talia mengernyitkan kening, lalu tawanya tersimpul pelan mendengar topik yang Patra bicarakan dengan suara terpaksa. “Sebelum liat sendiri, kamu diperlakuin gitu sama mama, aku emang udah nggak ada niat tinggal di sana.” Talia mengedarkan pandangan ke lantai dua—tempat kamarnya dan kamar-kamar orang lain. “Nggak mungkin di sini, sih.”Patra menimbang-nimbang seraya mengikuti sorot tatap Talia. “Tapi, rumah kamu yang ini bisa, lho, kita jadiin tempat simpen barang sedikit. Kita jadiin layar tancep kita sendiri … setiap m
Read More