Bibi Mei menghela napas panjang, matanya menerawang menembus jendela kaca restoran, seolah-olah ia ditarik kembali ke memori dua puluh tahun yang lalu."Zhe’er, saat itu usiaku baru tujuh tahun," ujar Bibi Mei dengan suara pelan dan penuh kerinduan. "Aku sedang mencari kayu bakar di pinggiran desa Tanah Suci ketika melihat seorang bocah kecil meringkuk di bawah pohon beringin tua. Kau saat itu baru berumur empat tahun, tubuhmu penuh debu, dan kau terus memanggil ibumu dengan suara yang nyaris hilang."Bibi Mei tersenyum sedih, jemarinya mengusap permukaan meja dengan gemetar."Aku tidak menemukan siapa pun di sana. Tidak ada kereta kuda, tidak ada pengawal, hanya kau sendirian. Karena aku tidak tega, aku membawamu pulang ke gubuk kecilku. Tapi hidup di desa Tanah Suci sangatlah keras, apalagi bagi seorang gadis kecil yang harus menghidupi seorang adik angkat."Ia melanjutkan ceritanya dengan nada yang lebih berat, "Demi menyambung hidup dan memastikanmu bisa makan, aku akhirnya memba
Read more